Jangan mengingini rumah sesamamu; jangan mengingini isterinya, atau hambanya laki-laki, atau hambanya perempuan, atau lembunya atau keledainya, atau apapun yang dipunyai sesamamu.” — Keluaran 20:17

Saya senang karena bisa menjadi teman dari seorang supir bus. Bukanlah suatu kebetulan karena bus yang dikendarainya adalah bus yang selalu saya gunakan untuk kepulangan saya dari kantor. Karena sebuah perbuatan kasihnya, yaitu “menyelamatkan” handphone (HP) teman saya (HP edisi terbaru) yang tertinggal di bus yang dikendarainya saat itu, saya akhirnya bisa menjadi akrab dengan beliau, saling menyapa pada saat bertemu dan ada sebuah senyuman yang indah setiap saya naik bus yang dikendarainya.

Seorang manusia bisa menjadi “tamak” dan menginginkan apa yang dipunyai sesamanya. Karena dia bekerja sebagai seorang bus, bisa saja dia “mengingini” HP edisi terbaru tersebut. Tapi, dia tidak mengambil atau menghindari telpon. Justru dia menunggu seseorang telpon dan dia yang menentukan waktu bertemu dan datang sendiri untuk mengembalikan HP tersebut.  Kasih dan perbuatan orang ini masih kami (saya dan teman saya) kenang sebagai suatu hal yang indah. Kejujuran dan ketulusan hati seperti beliau membuat kami berpikir positif tentang karakter orang Korea Selatan.

Ketika Tuhan Yesus datang ke dunia, Dia mengenalkan kasih dan perbuatan yang ajaib kepada umat manusia. Bisa saja Dia menjadi apa yang diinginkannya, namun Dia justru tetap berpegang pada perintah Allah Bapa dan menjadi penebus bagi semua umat manusia. Kasih dan perbuatanNya dikenang oleh seluruh umatNya di berbagai penjuru dunia. Apakah kita siap melakukan kasih dan perbuatan sesuai perintahNya untuk dapat memancarkan karakter Allah?

Kita hidup untuk mengenalkan kasih Allah disertai perbuatan, bukan hanya sekedar mengenalkan kasih Allah tanpa perbuatan.