Seorang pemuda yang akan berangkat ke ladang misi pamit kepada Pendetanya.

Pemuda: “Pak, tolong doakan, besok saya akan pergi ke ladang misi.”

Pendeta: “Pergilah, Nak. Hati-hatilah di negeri orang, kau harus pandai bergaul, supaya banyak memenangkan jiwa.”

Pemuda: “Bagaimana resepnya, Pak?”

Pendeta: “Ya, kalau kamu bertemu dengan tukang tahu, bicaralah soal tahu. Jika bertemu dengan tukang lontong, bicaralah soal lontong, dan jika bertemu dengan tukang sayur, bicaralah soal sayur.”

Pemuda: “Bagaimana jika bertemu dengan ketiganya, Pak?”

Pendeta: “Ya, bicaralah soal gado-gado, Nak.”

[Sumber diambil dari: Manna sorgawi, Januari 2008]

Hiduplah dengan penuh hikmat terhadap orang-orang luar, pergunakanlah waktu yang ada. (Kolose 4:5)

FLEKSIBEL

Apa yang muncul di benak anda ketika mendengar kata itu?

Sesuatu yang baik?

Sesuatu yang buruk?

Menurut KBBI (Kamus Besar Bahasa Indonesia), fleksibel mempunyai arti 1 lentur; mudah dibengkokkan; 2 luwes; mudah dan cepat menyesuaikan diri. Ya, saya setuju dengan itu. TETAPI sebagai orang Kristen, definisi fleksibel tidak berhenti sampai di situ.

Jika mengikuti KBBI, fleksibel bisa disalahartikan. Orang yang fleksibel bisa jadi berkarakter seperti “bunglon” yang suka ikut arus dan tidak mempunyai pendirian. Atau, bisa juga orang tersebut mudah dan cepat menyesuaikan diri dengan perubahan sehingga kehilangan jati dirinya sendiri.

Awas saudara!

Orang Kristen memang diminta untuk fleksibel. Dan kita bisa melihat contohnya dari Ezra (RHNP Senin, 28 November 2011*). Namun satu hal yang harus kita ketahui dan pegang teguh, orang Kristen harus MENJADI FLEKSIBEL DENGAN TETAP MEMEGANG KEBENARAN ALLAH!

Tetapi sekarang mengakulah di hadapan TUHAN, Allah nenek moyangmu, dan lakukanlah apa yang berkenan kepada-Nya dan pisahkanlah dirimu dari penduduk negeri dan perempuan-perempuan asing itu! – Ezra 10:11

Kita bisa belajar dari Ezra untuk menjadi orang yang fleksibel. Ezra adalah contoh orang yang mempunyai “ketegasan yang fleksibel”. Apakah ini bertentangan? Tidak saudara-saudara. Ezra tidak pernah berkompromi dengan dosa dan tidak mau melanggar standar Allah. Namun Ezra juga tetap mendengarkan pendapat orang lain dalam mengambil keputusan.

Ketegasan Ezra yang fleksibel bisa dilihat ketika orang Israel berkumpul di halaman bait Allah (10:9). Sikap tegas Ezra terlihat ketika Ezra menunjukkan kesalahan bangsa Israel dan menuntut penyelesaian mereka (10:12-15). Sikap fleksibelnya terlihat ketika Ezra juga mendengarkan pertimbangan orang lain, yang mana ketika itu musim hujan dan orang-orang kedinginan, sehingga Ezra mau memberikan waktu kepada bangsa Israel dalam menyelesaikan kesalahan mereka. Ezra tahu bahwa mereka benar-benar menyesali perbuatan mereka dan bukan mencari-cari alasan untuk mengulur waktu saja. Karena itu Ezra yakin bahwa kesalahan itu akan diperbaiki pada waktu yang tepat (10:16-19).

Bagaimana dengan kita saat ini? Kita sebagai pemimpin-pemimpin Kristen di mana pun kita berada (dalam keluarga, di rumah, di tempat kerja, di sekolah, di gereja, di masyarakat, di antara teman-teman kita). Apakah kita sudah bersikap fleksibel? Atau justru menjadi orang yang sangat kaku? Selalu menuntut dan tidak mau mendengarkan pertimbangan orang lain?

Marilah kita belajar seperti Ezra. Menjadi pemimpin yang fleksibel dengan tetap memegang standar kebenaran Allah. Kita mohon hikmat dari Tuhan supaya bisa memutuskan kapan kita harus tegas dan kapan kita bisa fleksibel.
Jadilah pemimpin yang fleksibel dengan tetap memegang standar kebenaran Allah