Dosaku kuberitahukan kepada-Mu dan kesalahanku tidaklah kusembunyikan; aku berkata: “Aku akan mengaku kepada TUHAN pelanggaran-pelanggaranku,” dan Engkau mengampuni kesalahan karena dosaku. Sela

Mazmur 32:5

 Ada suatu ekspresi yang biasa kita gunakan saat kita melakukan kesalahan. “Saya hanya seorang manusia”. Secara tidak langsung kita mengakui bahwa karena setiap orang melakukan kesalahan, maka kesalahan yang kita lakukan bukanlah suatu masalah besar. Dan bukan suatu masalah yang besar pula, asalkan kita bisa mempertanggungjawabkannya dan mungkin memperbaikinya. Kita melihat suatu pola yang menjadi kebiasaan di masyarakat sekarang. Bagaimana setiap orang yang hidup di masa ini begitu mudah mengucapkan alasan yang kedengarannya begitu benar, “saya hanya seorang manusia biasa”, dan kemudian melangkah begitu saja tanpa ada suatu perasaan bersalah. Mengatakan “saya minta maaf” pun sering kali jarang kita dengar. Bahkan jika kita mendengar perkataan maaf ini, kadang pun kita masih ragu apakah orang tersebut betul-betul mengucapkannya atau hanya menggunakannya sebagai kata-kata hiasan. Mengucapkan suatu permintaan maaf tanpa memiliki maksud yang sesungguhnya akan membuat orang lain sulit percaya kepada kita. Apa yang akan terjadi jika kita menjadi orang yang sulit dipercaya dalam sebuat tim kerja? Tentu saja, orang akan was-was saat memberikan pekerjaan kepada kita, dan kerja tim tidak akan selancar yang seharusnya. Berani maju ke depan dan mengakui kesalahan adalah salah satu cara untuk kita bertumbuh. Salah satu hal lain yang sering kita lakukan adalah kebalikan dari mengakui kesalahan. Seringkali kita tetap pada pendirian kita yang salah, dan memanipulasi keadaan dengan menciptakan sebuah kebohongan. Ada istilah lain untuk hal ini yang sering kita gunakan dalam masa ini, yaitu “kebohongan putih atau kebohongan untuk kebaikan”. Faktanya adalah tidak ada satupun kebohongan yang baik, karena kebohongan adalah dosa dan dosa tidak pernah membuat keadaan menjadi lebih baik. Tanpa kita sadari kita telah terperangkap begitu jauh dalam nilai-nilai dunia, tanpa menyadari bahwa diri kita diciptakan segambar dengan Tuhan. Kita tidak diciptakan untuk berbohong. Kita diciptakan untuk dewasa dan tegar dalam menghadapi kesalahan. Kita diciptakan untuk bisa mengakui kesalahan kita.

Mazmur 32 ditulis Daud setelah ia ditegur oleh Nabi Natan karena dosa perzinahannya dengan Betsyeba dan aksi pembunuhan terhadap Uria, suami Betsyeba. Daud berusaha menutupi kesalahannya dan berusaha sedemikian rupa untuk menyembunyikannya dari Tuhan. Hal ini pula yang sering kita lakukan dalam kehidupan kita. Kita seringkali menyikapi kesalahan yang kita lakukan dengan berpura-pura tidak tahu mengenai hal tersebut. Berpura-pura tidak pernah melakukannya dan berusaha bersikap senormal mungkin di hadapan orang lain. Tanpa kita tahu, walaupun kita berusaha memendamnya, secara pribadi kita tahu bahwa kita bersalah. Seharusnya kita atau Daud tidak perlu menyembunyikan kesalahan atau dosa tersebut, karena “…tidak ada suatu mahluk pun yang tersembunyi di hadapanNya, sebab segala sesuatu telanjang dan terbuka di depan mata Dia, yang kepadaNya kita harus memberikan pertanggungan jawab.” (Ibrani 4:13). Kita bisa saja mengelabui orang-orang di sekitar kita, keluarga kita, teman-teman terdekat kita, pemimpin rohani kita, tim kerja kita, atau siapapun, namun kita tidak pernah bisa mengelabui Tuhan. Daud akhirnya mengetahui hal ini, dan dia melangkah dengan sikap yang benar, yaitu mengakui kesalahannya.

MENGAPA BEGITU SULIT UNTUK MENGAKUI KESALAHAN?

Untuk banyak orang, jawaban untuk pertanyaan ini adalah kesombongan dan keegoisan. Beberapa orang lebih memilih kehilangan kepercayaan daripada kehilangan muka. “tidak pernah nampak salah atau tidak pernah ditemukan bersalah” dianggap setara dengan “selalu benar”. Tidak pernah ditemukan bersalah di hadapan orang lain membuat orang-orang ini merasa bahwa dirinya adalah orang yang paling benar. Salah satu alasan mengenai orang berbohong dan tidak melakukan kejujuran berhubungan dengan perasaan tidak aman, ketakutan, sikap yang berakar pada kepribadian yang rusak, kepercayaan diri yang rendah dan tentu saja keegoisan dan harga diri yang terlampau tinggi. Kejujuran memang seringkali memiliki harga yang tinggi, namun ini adalah standar yang diinginkan oleh Allah. Kebohongan bukan saja tidak etis namun juga tidak logis. Kejujuran adalah kunci dari perkembangan pribadi kita di hadapan Tuhan. Kejujuran membawa kita pada pertumbuhan kepribadian yang lebih matang di dalam Kristus.

KEUNTUNGAN YANG KITA DAPATKAN SAAT KITA JUJUR DAN MAU MENGAKUI KESALAHAN.

Akan ada beberapa keuntungan yang kita dapatkan saat kita mau jujur dan mengakui kesalahan kita. Beberapa keuntungan tersebut adalah:

  • Kebebasan secara spiritual dan emosional

Berbohong membawa kita pada keadaan dimana diri kita merasa terbelenggu akan perasaan bersalah dan tidak bebas. Pikiran kita selalu dihantui akan sikap curiga akan pendapat orang lain. Kita menjadi lebih sensitif dan tidak terbuka terhadap pendapat orang lain. Mengakui kesalahan, berdoa dan memperbaikinya adalah hal yang dapat kita lakukan untuk mengatasi hal ini.

  • Kesehatan yang lebih baik

Belenggu spiritual maupun emosional yang kita tanggung membawa kita pada keadaan stress atau lebih buruk, depresi. Penelitian menunjukkan bahwa keadaan ini memiliki efek buruk terhadap kesehatan, salah satunya adalah memicu kanker. Stres atau depresi membawa tubuh kita pada produksi radikal bebas secara berlebihan, dan membuat kita rentan terhadap penyakit.

  • Kredibilitas/kepercayaan

Cukup jelas, bahwa kejujuran untuk mau mengakui kesalahan membuat orang lebih percaya pada kita. Kemampuan adalah salah satu hal penting dalam kriteria kerja, namun diatas itu semua kejujuran adalah hal yang lebih penting. Tanpa kejujuran kita membawa resiko kehancuran sebuah tim kerja tanpa kita sadari sebelumnya.

  • Karakter yang lebih baik

Kejujuran membuat kita berkembang dalam hal karakter. Kematangan kita secara rohani, salah satunya ditentukan dari bagaimana kita bisa mengatasi atau menghadapi suatu kesalahan yang kita lakukan. Mempertahankan diri dan berbohong untuk memanipulasi keadaan tidak membuat karakter kita lebih baik dari sebelumnya, namun lebih buruk. Kepribadian yang matang adalah kepribadian yang mau mengakui kesalahan secara terbuka  dan mempertanggungjawabkannya.

  • Membantu orang lain

Kejujuran membantu orang lain untuk dapat mengerti diri kita secara lebih baik. Mereka mau untuk membantu kita, jika kita mau secara terbuka menerima mereka. Dalam suatu tim kerja, kejujuran berarti sangat penting, karena orang lain mampu untuk melihat lubang kelemahan yang belum tertambal dalam kerja tim. Hal ini memperbaiki performa atau prestasi tim secara keseluruhan, karena suatu tindakan tidak akan terlambat untuk diambil atau diputuskan.

  • Orang akan lebih dari mau untuk membantu kita saat kita mau jujur untuk mengakui kesalahan

Keterbukaan membawa berkat bagi kita melalui pertolongan orang lain. Tuhan pun akan mengangkat tangan saat kita tidak mau untuk berserah dan terbuka terhadapNya. Orang lain pun juga akan melakukan hal yang sama. Mungkin, pada awalnya akan ada konsekuensi dari kesalahan yang kita akui, namun kemudian orang akan lebih menaruh kepercayaan dan mau secara rela hati membantu kita.

Kejujuran membawa kita pada perkembangan rohani yang lebih dewasa. Namun, dari semua penjelasan ini, kita tahu bahwa kejujuran untuk mengakui kesalahan adalah pilihan dalam hidup. Kejujuran membawa akhir yang lebih baik, dengan konsekuensi yang harus kita hadapi. Kebohongan tentu saja membawa akhir yang sangat buruk, dan tentu saja juga dengan konsekuensinya. Kita sebagai orang percaya memiliki standar hidup yang telah ditetapkan oleh Kristus. Memenuhinya adalah kehormatan dalam kehidupan kita, setelah Dia memberikan anugerah keselamatanNya. Tuhan memberkati.

 

*Diambil dari berbagai sumber.