Percayalah kepada-Nya setiap waktu, hai umat, curahkanlah isi hatimu dihadapan-Nya; Allah ialah tempat perlindungan kita. – Mazmur 62:9

Pernahkah kita kecewa dan marah kepada Tuhan karena bagi kita waktu Tuhan untuk menjawab dan bekerja dalam hidup kita sungguh sangat lamban sekali terjadi? Mungkin kita kecewa dan marah serta frustasi dengan mengajukan beberapa pertanyaan kepada Tuhan ;

“Tuhan, kapan engkau akan bertindak?”

“Tuhan, kapan aku akan bertemu dengan pasangan hidupku?”

“Tuhan, kapan sema impianku ini terwujud?”

“Tuhan, kapan usahaku akan berhasil?”, dll.

Kita tidak sanggup untuk lebih sabar lagi menantikan jawaban dan tindakan Tuhan. Memang menunggu/menantikan adalah kegiatan yang sangat membosankan. Apalagi kita harus bersabar dan terus bersabar menantikan sesuatu yang belum pasti. Dalam sebuah lagu terdapat lirik demikian “Menunggu sesuatu yang sangat menyebalkan bagiku, saat ku harus bersabar dan trus bersabar” – sepenggal lirik dalam lagu Aishiteru. Sepenggal lirik tersebut ingin mengatakan bahwa pekerjaan menunggu menjadi pekerjaan yang tidak ia sukai, menyebalkan. Apakah kita berpikir demikian juga?

Siapa yang tidak pernah diperhadapkan dengan aktifitas menunggu? Pasti sangat membosankan dan menyebalkan apalagi yang kita tunggu tidak tepat janji atau malah kita tidak tahu pasti waktu datangnya. Kita tidak ingin menunggu dan bersabar, malah kita akan berusaha untuk semua hal berada dalam kendali kita. Jikalau kita yang memegang kendali maka kita dapat menentukan waktu akan memulai, beristirahat, mengakhiri, datang atau pergi, dll sesuka kita. Namun kita tidak berdaya ketika kita tidak memiliki daya/kuasa untuk dapat mengendalikannya. Apa yang harus kita lakukan?

Memang sudah menjadi sifat alami manusia yang cenderung ingin segala sesuatunya terjadi saat ini juga. Manusia selalu ingin tergesa-gesa, tidak sabar, ingin lebih dulu, dll. Sifat alami ini juga sering muncul ketika kita sedang berdoa dan menantikan jawaban Tuhan. Kita ingin Tuhan segera menjawab, antara ia atau tidak. Tidak sabar adalah sifat manusia. Jadi, apa yang harus kita lakukan?

Untuk hal ini kita dapat belajar dari cara hidup Daud. Daud adalah raja yang diurapi tetapi tidak langsung naik tahta dan memerintah. Bahkan meskipun ia sudah mendapatkan pengurapan Allah melalui nabi Sameul (1 Sam 16:12-13) menjadi raja Israel, Daud tidak langsung naik tahta karena Saul masih menggap dirinya sebagai raja dan tetap bertindak sebagai raja. Justru disitulah kita dapat melihat kesabaran Daud menantikan waktu Tuhan. Meskipun ia sudah diurapi, Daud bersedia menjadi pelayan raja Saul, yang akan digantikannya (2 Sam.16:21). Daud menadi pembawa senjata Saul. Bisakah kita membayangkan ini? Daud dia tidak terburu-buru dan terobsesi untuk segera mengambil alih pemerintahan. Coba kalau kita menjadi diri Daud pada saat itu? Mungkin dengan sifat alami kita yang tidak sabaran akan memancing kita untuk bertindak arogan, seperti melakukan tindakan konfrontasi terhadap Saul, langsung membunuh Saul ketika kesempatan itu ada, atau sebagainya. Sedangkan Daud sama sekali tidak mengambil kesempatan itu meskipun Daud memiliki kesempatan untuk membunuh Saul.

Yang dilakukan Daud adalah menunggu atau menantikan waktu yang tepat, yaitu waktu Tuhan. Dalam menunggu waktu Tuhan, Daud tidak melakukan tindakan-tindakan yang jahat maupun keliru, namun dengan sabar tetap melayani Saul, lalu ketika Saul mati maka saat itulah Daud naik menjadi raja Israel (2 Sam. 2:7). Daud percaya bahwa waktu Tuhan bukanlah waktu manusia. Tuhan memiliki rancangan-Nya sendiri di dalam waktu-Nya bagi manusia. Nantikanlah waktu Tuhan lalu bertindaklah!

Apa yang bisa kita teladani dari sikap Daud ini? Kita harus belajar untuk lebih bersabar dan tidak terburu-buru atau tergesa-gesa. Justru di dalam kesabaranlah Daud menyatakan otoritas Allah atas hidupnya. Dua kali Saul jatuh ke tangan Daud, tetapi Daud menolak untuk membunuh dia. Daud  berkeyakinan bahwa akan melawan kehendak Allah jikalau ia menggunakan pedangnya untuk menjadi raja. Daud percaya bahwa Allah sudah memilihnya maka Allah pasti akan memberikannya juga. Daud percaya akan janji dan pengurapan itu bahkan ketika situasi tampak sangat buruk. Daud tetap menunggu waktu Tuhan.

Menunggu merupakan bagian terpenting juga didalam kepemimpinan. Kita harus tahu kapan harus bertindak dengan berani dan kapan harus menunggu dengan sabar. David percaya bahwa Tuhan memiliki kendali untuk semua peristiwa. Daud dapat menjadi teladan yang sangat baik dalam mentaati waktu Tuhan dan dengan sabar membiarkan Tuhan melaksanakan tujuan-Nya pada waktu-Nya sendiri dan dengan sabar pula menunggu sampai waktu-Nya tiba.

Seorang Kristen harus belajar menunggu waktu yang sempurna Tuhan dalam hidupnya. Orang Kristen tidak boleh menyerah, resah atau iri hati saat orang-orang jahat berhasil dalam skema jahat mereka. Namun, orang Kristen harus mempercayakan segala sesuatu untuk kedaulatan Allah, mempercayakan segala sesuatu di dalam kontrol Allah. Dan harus percaya juga bahwa semuanya akan indah pada waktu Tuhan yang sempurna.

“Jika Tuhan ALLAH membuat kita menunggu, marilah kita melakukannya dengan segenap hati kami untuk diberkatilah mereka yang menunggu-Nya. Dia layak ditunggu. Menunggu adalah hal yang berguna untuk mencoba iman kita, melatih kesabaran,  melatih kita untuk berserah dan menimbulkan kecintaan untuk berkat yang datang.Charles Spurgeon Haddon

Sabar menantikan waktu Tuhan adalah kunci mengalami pertolongan dari Tuhan dan menikmati janji-janjiNya!

 

Bacaan :

http://bukitkasih.com/artikel-rohani/pemahaman-alkitab/bertekun-menantikan-waktu-tuhan

http://cristina327.hubpages.com/hub/Waiting-For-Gods-Perfect-Time