Pikirkanlah perkara yang di atas, bukan yang di bumi.

Kolose 3:2

 

Berapa kali anda pernah mendengar cerita tentang Daud dan Goliat? Mungkin berkali-kali adalah jawabannya. Faktanya sudah begitu sering kita mendengar cerita ini, sehingga kita ingat dengan jelas apa yang menjadi gambaran besar dari cerita ini. Setting cerita ini terjadi dengan latar belakang peperangan umat Israel melawan Filistin. Saat peperangan ini terjadi, Saul adalah pemimpin kaum Israel. Kaum Filistin memiliki seorang “jawara” yang bernama Goliat yang didatangkan khusus untuk meramaikan perang ini, dan tentu saja untuk memenangkan peperangan melawan Israel. Singkat cerita, kita tahu bahwa Goliat ini adalah seorang raksasa dan semua tentara Israel ketakutan, sehingga tidak ada yang berani maju untuk menghadapinya. Seorang gembala yang bernama Daud datang untuk mengantarkan makanan bagi kakak-kakaknya, dan cukup marah mendengar bagaimana si raksasa menghina Tuhannya. Dan dia lebih marah lagi saat melihat bagaimana semua tentara Israel yang sebelumnya terkenal karena keberaniannya dibawah kepemimpinan Yosua, menjadi ketakutan melihat Goliat. Akhirnya dia maju menantang sang raksasa, dan dengan ketapel ditangannya dia menjatuhkan sang raksasa, memenggal kepalanya, dan memenangkan pertarungan. Itu adalah cerita singkatnya, dan pasti kita semua berpikir bahwa keseluruhan cerita ini berbicara mengenai iman. Namun, betulkah dugaan kita ini? Adakah sesuatu yang lain dibalik cerita ini yang bisa kita pelajari?

Jika kita mau membaca cerita ini dengan baik, kita akan sangat takjub dengan satu cerita alkitab ini. 1 Samuel 17 , yang mengetengahkan cerita ini, dimulai dengan bagaimana tentara Filistin menempatkan dirinya dan pasukan Israel menempatkan dirinya. Cerita ini semakin menarik dengan bagaimana 1 Samuel mendeskripsikan seorang Goliat. Goliat adalah pasukan Filistin yang berasal dari Gat. Tingginya adalah sekitar 6 hasta sejengkal, yang kira-kira bisa sebanding dengan 3 meter. Ketopong tembaga ada di kepalanya, dan ia memakai baju zirah yang bersisik. Berat baju zirah ini adalah 5000 syikal tembaga atau setara dengan 57 kg. Gagang tombaknya seperti pesa tukang tenun dan mata tombaknya sekitar 600 syikal besi yang setara dengan 7 kg (perlu diingat bahwa ini hanya mata tombaknya saja). Dan dengan suara yang lantang dia menantang pasukan Israel untuk berperang satu lawan satu dengannya. Dan efeknya adalah, selama 40 hari tidak ada pasukan Israel yang berani maju ke depan untuk menantang Goliat. Semua keadaan ini menunjukkan bagaimana semua tentara Israel saat itu, termasuk Saul sebagai pemimpin, menunjukkan ketakutan terhadap Goliat.

Cerita beralih kepada seorang gembala domba. Seorang anak termuda dari 8 bersaudara, dengan ayah bernama Isai. Paling muda, seorang gembala, dan dikatakan di pasal lain bahwa mukanya kemerah-merahan. Semua peernyataan ini tertulis di alkitab dan menunjukkan satu hal. Bahwa secara umum, Daud dipandang tidak mampu melakukan hal yang penting, dianggap tidak mampu memimpin dan  tidak dipandang cukup berharga dibandingkan saudara-saudaranya yang lain. Cerita selanjutnya membawa kita pada situasi dimana Daud diminta untuk membawa makanan kepada saudara-saudaranya. Disinilah inti cerita dari kisah Daud dan Goliat.

Saat Daud membawa makanan kepada saudara-saudaranya, dia mendengar sesuatu yang sangat tidak enak. Teriakan dari Goliat. Hal yang paling buruk juga dilihatnya setelah itu, tentara Israel lari daripada Goliat dengan ketakutan. Seseuatu melintas di kepalanya. “Ini seharusnya tidak terjadi pada suku yang dipilih oleh Tuhan semesta alam sendiri?” “Ini seharusnya tidak terjadi pada pasukan yang diberkati oleh Allah sendiri?”.

Ketika semua orang Israel melihat orang itu, larilah mereka dari padanya dengan sangat ketakutan. Berkatalah orang-orang Israel itu: “Sudahkah kamu lihat orang yang maju itu? Sesungguhnya ia maju untuk mencemoohkan orang Israel! Orang yang mengalahkan dia akan dianugerahi raja kekayaan yang besar, raja akan memberikan anaknya yang perempuan kepadanya dan kaum keluarganya akan dibebaskannya dari pajak di Israel.” Lalu berkatalah Daud kepada orang-orang yang berdiri di dekatnya: “Apakah yang akan dilakukan kepada orang yang mengalahkan orang Filistin itu dan yang menghindarkan cemooh dari Israel? Siapakah orang Filistin yang tak bersunat ini, sampai ia berani mencemoohkan barisan dari pada Allah yang hidup?”

1 Samuel 17:24-26

Tiga ayat ini menunjukkan bagaimana cara pandang yang sangat berbeda antara Daud dan pasukan Israel pada saat itu. Fokus Daud terletak pada Tuhan dan kuasaNya, sedangkan fokus kaum Israel terletak pada raksasa bernama Goliat yang berada di depan mereka. Inti masalah mereka bukanlah pada Goliat, namun pada sikap hati dan sikap hidup mereka yang tidak berfokus pada Tuhan.  Akhirnya Daud menghadap Saul dan memohon ijin untuk menghadapi Goliat. Saat masalah menghadapinya, Daud tidak meninggalkan ketenangannya dalam menghadapi masalah. Ini adalah hal lain yang bisa kita pelajari saat kita memfokuskan pandangan kita pada Tuhan. Ketenangan dan damai sejahtera akan tetap di hati kita walaupun masalah melanda.  Akhir dari cerita ini dapat ditebak. Daud menantang Goliat  bukan dengan kekuatan dirinya, namun dengan nama Tuhan. Hal ini menunjukkan bagaimana Daud menaruh Tuhan melebihi segalanya dalam hatinya.

Tetapi Daud berkata kepada orang Filistin itu: “Engkau mendatangi aku dengan pedang dan tombak dan lembing, tetapi aku mendatangi engkau dengan nama TUHAN semesta alam, Allah segala barisan Israel yang kautantang itu.

1 Samuel 17:45

Daud memenangkan pertarungan ini cukup dengan satu batu saja. Dia mengambil lima batu, namun hanya satu yang digunakannya. Goliat-goliat dalam kehidupan kita tidak berbentuk raksasa yang menakutkan. Goliat-Goliat dalam kehidupan kita tidak membawa perisai dan pedang. Goliat dalam kehidupan kita datang dalam bentuk depresi, perasaan ditinggalkan, keadaan tidak memiliki pekerjaan, perasaan sedih karena ditinggalkan kekasih, perasaan karena hasil studi yang begitu buruk, perasaan tidak percaya diri, orang-orang yang rasanya tidak dapat kita senangkan, hutang-hutang yang begitu sulit untuk kita bayar, pengeluaran yang berlebih, kekerasan dalam rumah tangga, perselingkuhan yang ditutupi dan berbagai hal lainnya. Seringkali kita bangun di pagi hari mengkhawatirkan hal – hal ini, dan berangkat tidur dengan memikirkan hal ini juga. Kita memberikan tempat yang begitu spesial bagi goliat-goliat ini, sehingga dia memenuhi kehidupan kita lebih daripada damai sejahtera Allah. Satu hal yang saya selalu pelajari melalui kehidupan saya adalah, anda tidak dapat merasakan damai sejahtera Allah saat anda tidak mengijinkannya masuk untuk memenuhi kehidupan anda. Fokus pada Goliat-goliat anda dan anda akan terjatuh. Fokus kepada Allah, dan goliat-goliat anda akan terjatuh. Ini hukum yang paling sederhana tentang fokus. Pertanyaannya adalah maukah anda berhenti menaruh fokus anda pada sang raksasa masalah anda, dan mulai menghadapinya dengan Allah sebagai sumber amunisi anda? Berat, namun bukan berarti mustahil. Tuhan memberkati.

 

Sumber: – Facing your Giants (Max Lucado)