Dalam diskusi sebelumnya tentang “Organisir: Membagi tugas“, kita telah melihat betapa ringan dan cepatnya sebuah pekerjaan terselesaikan bila pekerjaan tersebut dikerjakan oleh lebih banyak orang daripada sendirian.

Di sana kita juga telah melihat bagaimana seorang Nehemia yang digerakkan Allah untuk menyelesaikan misi-Nya dalam pembangunan tembok Yerusalem, mengerahkan begitu banyak orang dan membagi mereka dalam beberapa bagian tugas sehingga pembangunan tembok terselesaikan dalam 52 hari saja.

Bila kita berbicara tentang taktik sebuah peperangan, dimana kata ini bermula, pembagian tugas juga menjadi sangat penting artinya, karena peperangan di jaman lampau khususnya melibatkan banyak sekali orang sebagai para prajurit dengan area peperangan yang begitu luas.

Sebagai anak Tuhan, kita tidak boleh melupakan sejarah bagaimana kisah Allah bersama bangsa pilihan-Nya, Israel memenangkan peperangan karena tangan-Nya yang penuh kuasa.

Hari ini kita merenungkan bagaimana taktik Allah memenangkan Israel dalam pertempurannya melawan bangsa Midian pada jaman Gideon sebagai hakimnya. Kita akan melihat bagaimana Allah menunjukkan kuasa-Nya supaya Israel tidak bermegah akan kemenangan yang diraihnya.

Hakim-hakim 7:16:

Sesudah itu dibaginyalah ketiga ratus orang itu dalam tiga pasukan dan ke tangan mereka semuanya diberikannya sangkakala dan buyung kosong dengan suluh di dalam buyung itu.

Pernahkah anda mendengar sepanjang sejarah peperangan umat manusia, terdapat 300 orang menang perang mengalahkan 135.000 orang? 1 orang berbanding 450 orang musuh! Sepertinya tidak masuk akal dan mustahil. Tetapi itulah yang terjadi pada jaman Gideon menjadi hakim bagi orang Israel. Allah berperang bagi orang Israel mengalahkan orang Midian.

Menarik untuk disimak bagaimana tatktik Allah membagi orang Israel dalam berperang, supaya mereka mengakui bahwa bukan dengan kekuatan mereka, mereka bisa menang mengalahkan orang Midian.

Taktik I: penyaringan pertama, pada awalnya Gideon bersiap dengan 32.000 pasukan (1 berbanding 4). Namun Allah berkata bahwa barangsiapa yang takut tidak usah ikut perang. Ternyata diketahui yang takut sebanyak 22.000 orang, sehingga sisanya 10.000 orang saja yang siap perang (1 berbanding 13). Namun Allah melihat bahwa masih terlalu banyak pasukan Gideon tersebut.

Taktik II: penyaringan kedua, dengan mengetahui bagaimana para prajurit Gideon minum air di telaga. Kriteria Allah adalah, yang minum dengan berlutut tidak dipilih, sedang yang minum dengan menghirup dipilih. Mengapa? Karena mereka yang berlutut, mereka memiliki kecenderungan untuk minum air lebih puas. Bila demikian, pastilah mereka akan mengesampingkan senjata perang mereka dahulu, sehingga dapat dikatakan bahwa prajurit yang sedemikian tidak dalam kondisi 100% waspada. Hasilnya, hanya terdapat 300 orang yang dapat dikategorikan selalu dalam keadaan siaga pada waktu perang (1 berbanding 450).

Dari kedua taktik di atas, kita melihat bagaimana bijaksana Allah memilih orang-orang yang selalu dalam sikap siap dan tidak takut untuk berperang.

Taktik III: langkah Ketiga, Gideon kemudian membagi lagi 300 orang yang tersisa menjadi 3 bagian @100 orang untuk menempati pos masing-masing sambil menunggu komando dari Gideon. Gideon sendiri pada waktu itu mengepalai pasukan 100 orang dan terlebih dahulu maju hingga ke ujung perkemahan.

Sebelum mereka berpisah, Gideon memberi tugas kepada masing-masing orang untuk membawa sangkakala di tangan kanan dan buyung berisi suluh di tangan kiri. Gideon juga berpesan supaya pasukan lain yang tidak bersamanya dapat mengikuti komando Gideon secara bersama-sama. Setelah saatnya tiba, Gideon meniup sangkakala dan diikuti pasukan di tempatnya masing-masing secara serempak di seluruh perkemahan. Yang terjadi kemudian, barisan tentara Midian menjadi kacau balau, sebagian saling membunuh sendiri dan sebagian lagi melarikan diri.

Taktik perang Gideon bersama Allah berhasil dan akhirnya orang Midian diserahkan ke dalam tangan orang Israel. Luar biasa bijaksananya Allah! Allah tidak hanya memberi hikmat kepada Gideon untuk membagi tugas-tugas yang berat dan banyak ke semua anak buahnya, bahkan Dia dari awalnya telah membagi/memisahkan manakah prajurit yang siap perang dan yang tidak. Di sisi lain, dari perbandingan kekuatan fisik saja, bangsa Israel juga tidak lagi memiliki alasan untuk bermegah, bagaimana mungkin 300 orang melawan 135.000 orang bila tidak ditopang dengan hikmat Allah yang luar biasa!

Pembagian tugas adalah salah satu taktik ampuh yang dapat berlaku kapan saja, dimana saja, dan untuk aktifitas apa saja.

Referensi:
http://www.godsoutreachministryint.org/REVIVALEndTimeHarvestWave300GIDEON.htm# One_of_the_greatest_warriors_in_the_Scripture_is
* http://www.tektonics.org/af/dumbgid.html