Anda pernah gagal? Adakah orang yang tidak pernah gagal dalam hidupnya? Kedua pertanyaan di atas sebenarnya hanyalah pertanyaan retorika dimana semua kita sudah pasti tahu dan sepakat akan jawabannya yaitu ya dan tidak untuk masing-masing jawaban dari kedua pertanyaan tersebut.

Kita semua pasti pernah gagal dalam hidup ini! Mungkin ada di antara kita yang mengalami kegagalan dalam membuka usaha sehingga bangkrut, gagal panen sawah/kebunnya, gagal mendapatkan nilai yang cukup untuk diterima di Universitas yang terkemuka, atau bahkan gagal mendapatkan cinta dari orang yang kita idamkan alias bertepuk sebelah tangan.


gagal panen

Namun bila kita ditanya lebih jauh, apakah kita menceritakan kegagalan kita kepada orang lain? Saya yakin kebanyakan dari kita akan mengatakan tidak pernah atau jarang sekali. Waktu itu, kita mungkin terlalu sedih, kecewa, dan patah semangat karena kegagalan kita, sehingga menjadi enggan bila kegagalan kita diketahui orang lain. Atau mungkin kita malu karena gagal?

Bagaimana dengan orang-orang yang memiliki pangkat yang tinggi, kuasa yang besar, maupun kekayaan yang sangat banyak? Apakah mereka tidak pernah gagal? Pasti pernah. Apakah mereka menceritakan kegagalan mereka? Hasilnya tetap sama, mereka juga tidak pernah cerita atau jarang sekali. Bila mereka telah merasa ‘sukses’, mungkin saja mereka menceritakan masa lalu kegagalan mereka.

Biasanya yang terjadi justru makin tinggi tingkat popularitas dan pangkat seseorang, orang tersebut makin enggan untuk diketahui kegagalannya, kalau bisa yang diekspos adalah keberhasilan-keberhasilannya; bandingkan dengan cerita-cerita selebritis dimana kegagalan mereka ditelanjangi oleh media, bukan karena artis tersebut mau dan rela cerita kegagalannya disebarkan. Bahkan adalah peran media yang membuat opini bahwa demikianlah seharusnya sebagai public figure untuk kehidupan pribadinya diketahui oleh masyarakat luas.

Pernahkah anda mendengar cerita kegagalan seorang yang terkenal/populer dimana orang tersebut sendirilah yang mengaku dan mau membagikannya dengan rela? Sangat sulit untuk menemukannya.

Namun ketika kita melihat Alkitab kita, mungkin kita terperanjat, mengapa kitab yang kita sebut ‘suci’ ini menceritakan banyak kegagalan dan keburukan nenek moyang iman kita? Justru kita harus bersyukur! Alkitab kita yang adalah Firman Allah menceritakan dengan lugas bagaimana Allah menceritakan karya-Nya juga melalui kegagalan-kegagalan umatNya. Allah tidak menutup-nutupi kegagalan manusia, namun justru menceritakan kegagalan-kegagalan tersebut untuk menjadi pelajaran yang berharga buat generasi iman yang selanjutnya. Bahkan ada yang mengatakan “kegagalan adalah satu langkah lebih dekat kepada keberhasilan” atau “gagal adalah sukses tertunda.” Artinya, dengan gagal berarti kita telah mencoba sesuatu, bandingkan bila kita tidak mencoba sama sekali, makin jauhlah kita dari apa yang disebut keberhasilan.

Mungkin salah satu cerita yang kita sayangkan terjadi adalah kegagalan Adam dan Hawa untuk menjadi manusia yang taat kepada perintah Allah sewaktu mereka di taman Eden. Kita mungkin berpikir, andaikan “saya” yang berada disana, ceritanya mungkin akan lain. Benarkah demikian?

Kisah Abraham yang kita sebut Bapa orang beriman, bisa juga menjadi contoh ironi bagaimana Bapa iman kita ini juga bisa gagal. Abraham gagal mengatasi tekanan ketakutannya sendiri sehingga berbohong kepada Abimelekh dengan mengatakan bahwa Sara bukan isterinya melainkan saudaranya. Kok bisa?

Masih banyak cerita-cerita kegagalan umat Allah di masa lalu yang diceritakan melalui Alkitab, namun bagi saya cerita Raja Daud menceritakan keberdosaannya adalah yang paling kolosal. Dia seorang Raja yang diurapi Tuhan, telah dipilih Tuhan bukan dari parasnya yang gagah perkasa dibanding saudara-saudaranya waktu itu, mengapa bisa jatuh sedemikian ‘dalam’? Raja Daud juga manusia, bisa gagal dan salah.

Apa yang bisa kita pelajari dari kisah Raja Daud? Dia meresponi kegagalannya dengan tepat, yaitu mengakuinya di hadapan Allah (setelah ditegur Nabi Natan), dan tidak berbuat dosa lagi. Lebih dari itu, Raja Daud mau kisah kegagalannya diceritakan kepada anak cucu keturunannya, bahkan hingga kita hari ini, supaya setiap orang dapat membaca kegagalannya, mengambil hikmat yang terkandung di dalamnya, dan tidak berbuat hal yang sama.

Bagaimana tidak mencengangkan, Daud sebagai Raja yang seharusnya memimpin, menjadi panutan, melindungi dan mengayomi rakyatnya, justru melakukan dosa berencana yang sangat kejam kepada rakyatnya sendiri.

Pertama, ia berzinah dengan istri dari Panglima perangnya yang bernama Uria, dan berikutnya dengan sengaja menempatkan sang suami di garis depan medan pertempuran supaya tewas, dengan maksud untuk menyembunyikan niat jahatnya yang pertama.

Betapa dalamnya kegagalan Raja Daud, dan dia mengijinkan kisah kegagalan dan dosanya untuk dicatat. Luar biasa! Karena itu, Alkitab dengan tepat mencatat Daud sebagai “… seorang yang berkenan di hati-Ku dan yang melakukan segala kehendak-Ku (Kisah 13:22)”, pada waktu ia dipilih Allah untuk menggantikan Saul.

Bagaimana respon Allah? Allah tetap mengasihi Daud dan pada waktu yang sama membenci dosa perbuatan Daud. 2 Samuel 12:13-14 mengisahkannya:

Lalu berkatalah Daud kepada Natan: “Aku sudah berdosa kepada TUHAN.” Dan Natan berkata kepada Daud: “TUHAN telah menjauhkan dosamu itu: engkau tidak akan mati. Walaupun demikian, karena engkau dengan perbuatan ini telah sangat menista TUHAN, pastilah anak yang lahir bagimu itu akan mati.”

Bagaimana dengan kisah hidup kita bersama Allah? Kita semua pasti pernah gagal dalam hidup ini. Maukah kita membagikannya setelah kita menemukan solusinya bersama Allah? Mari kita saling berbagi, bahkan melalui kegagalan kita, dan sekaligus kisah bagaimana kita bersama Allah mengatasi kegagalan tersebut dan mengubahnya menjadi cerita yang indah.

Referensi: