Amsal 3:11-12:

Hai anakku, janganlah engkau menolak didikan TUHAN, dan janganlah engkau bosan akan peringatan-Nya. Karena TUHAN memberi ajaran kepada yang dikasihi-Nya, seperti seorang ayah kepada anak yang disayangi

Adakah ayah yang tidak menanamkan sikap disiplin pada diri anaknya? Adakah ayah yang tidak pernah men-disiplin anaknya? Bila ada, tentulah ayah tersebut bukanlah ayah yang bijaksana.

Bagaimana pun pandai dan baiknya seorang anak, ia tetaplah seorang anak yang kurang berpengalaman dalam hidup, sehingga sangatlah mungkin ia melakukan kesalahan. Disini peran orangtua sebagai orang yang lebih berpengalaman dalam hidup untuk memberitahu anak-anaknya supaya tidak melakukan kesalahan lagi.

Meski demikian, kita semua, anak-anak atau orang tua; muda, maupun tua adalah sama-sama orang berdosa di hadapan Allah, yang perlu dikoreksi oleh Allah. Allah mendisiplin kita sebagai Bapa yang mengasihi anak-anakNya. Allah dalam kasihNya selalu menginginkan kita menjadi yang terbaik seturut kehendakNya.

Alkitab membedakan antara disiplin dengan hukuman, dimana seringkali dua kata ini dicampuradukkan maknanya. Dalam perjanjian baru, yaitu setelah Kristus disalib untuk menebus dosa manusia dan kita hidup dalam jaman anugerah Allah, kata yang dipakai untuk menggambarkan pengkoreksian Allah terhadap anak-anakNya adalah disiplin, bukan hukuman. Karena itulah kita dikenal sebagai disciples (serumpun dengan kata discipline) atau murid-murid-nya Tuhan Yesus.

Secara singkat, hukuman terasosiasikan dengan segala sesuatu yang berhubungan dengan hukum (law), sedangkan disiplin terkandung dalam konteks hidup dalam anugerah (grace) Allah.

Meski demikian, anugerah Allah tidak berarti serta merta membatalkan hukum-hukum Allah. Justru Kristus datang ke dunia untuk menggenapi dan menaati hukum taurat secara sempurna, dimana tidak ada seorangpun yang sanggup melakukannya. Hanya Kristus!

Matius 5:18:

Sesungguhnya selama belum lenyap langit dan bumi ini, satu iota atau satu titikpun tidak akan ditiadakan dari hukum Taurat, sebelum semuanya terjadi

Roma 6:15:

Jadi bagaimana? Apakah kita akan berbuat dosa, karena kita tidak berada di bawah hukum Taurat, tetapi di bawah kasih karunia? Sekali-kali tidak!

Oleh karena itu kita harus berhati-hati supaya tidak terjebak pada pemahaman yang salah tentang disiplin sama dengan hukuman. Supaya dapat menjadi anak Tuhan yang disiplin, hiduplah dalam anugerah Allah, bukan sebaliknya, karena kita tidak dapat menjadi disiplin dengan mengandalkan kekuatan kita.

Tuhan selalu menginginkan anak-anakNya berbalik dari yang jahat untuk bergantung penuh pada tangan kasih anugerahNya.

Referensi:
http://2.bp.blogspot.com/-6dwiX-vxISs/TYuOzk3665I/AAAAAAAACLk/HhRm8tfC-cQ/s400/u-turn.jpg
http://3.bp.blogspot.com/_hjbSLWx3jVY/TNT7mFrSpGI/ AAAAAAAAAo8/HwizAelhdgE/s1600/balance-scale-redone.jpg
http://img.printfection.com/14/43090/jAast.jpg
* http://whatifthechurch.us/blog/wp-content/uploads/2009/12/cross.jpg
* http://www.cmfnow.com/articles/pe180.htm
http://www.visualphotos.com/photo/2×4587066/indian_father_scolding_son_bld035701.jpg