Discipline is an soul of army. It makes a numbers formidable ; procures success to the weak and esteem to all – George Washington.

KOREA SELATAN pernah menjadi salah satu negara termiskin di dunia. Sama miskinnya dengan negara-negara termiskin di Afrika dan Asia. Ekonominya hanya bersandar pada pertanian, belum lagi sempat hancur gara-gara pendudukan Jepang dan Perang saudara dengan Korea Utara. Tapi itu dulu.

Saat ini Korea Selatan telah berubah cepat dari negara termiskin menjadi salah satu Negara paling kaya dan tercanggih di dunia dengan nilai ekonomi Trilyunan dollar. Korea, juga tercatat sebagai bangsa dengan kecepatan pertumbuhan ekonomi tercepat sepanjang sejarah.

Kita dapat melihat bagaimana produk industry Korea hampir telah dikenal diseluruh penjuru dunia. Seperti Samsung dan LG, telah menguasai dunia. Dari ponsel canggih, televisi plasma, LCD, sampai semikonduktor. LG sendiri sekarang adalah perusahaan pembuat panel plasma terbesar di dunia. Samsung, adalah konglomerat terbesar di dunia, yang hanya kalah oleh General Electric. Industri pembuatan kapal Korea, Hyundai dan Samsung Heavy Industries, adalah yang terbesar di dunia dan mengalahkan Jepang tahun 2004. Hyundai, juga menjadi perusahaan otomotif ke 5 terbesar di dunia. Korea juga telah jadi negara termaju di dunia dalam hal infrastruktur teknologi. Sejak tahun 2000, seluruh masyarakat Korea telah menikmati jaringan internet 100 Mbit/detik, siaran televisi interaktif high-definition, teknologi komunikasi 4G.


Awalnya biasa saja. Ekonomi dibangun dengan membangun industri-industri standar negara berkembang, tekstil, sepatu, yang mudah dan ringan. Tapi pemerintah sudah sekaligus mempersiapkan segalanya, infrastruktur, sumberdaya, dan pengetahuan untuk level industri selanjutnya. Industri berat dan strategis, baja, otomotif, perkapalan. Bukan untuk dimajukan, tapi untuk mengusai dunia.  Sejak awal, strategi besar Korea adalah export oriented. Mereka harus mempersiapkan diri dan berjuang untuk merebut pasar dunia. Ini akibat dari keadaan yang sama seperti Jepang, sumberdaya alam yang sangat terbatas dan pasar dalam negeri yang kecil.


Banyak orang terkagum-kagum dengan kemajuan bangsa Korea Selatan saat ini, salah satunya adalah Presiden Republik Indonesia, Susilo Bambang Yudhoyono. Presiden Susilo Bambang Yudhoyono menyatakan kekagumannya kepada bangsa Korea atas kedisiplinan dan kebijakan ekonominya.

“Saya kagum dan hormat pada Korea sebagai bangsa yang sukses. Saya yakin selain strategi dan kebijakan ekonomi tepat dijalankan Korea, juga semangat, disiplin dan kerja keras bangsa Korea yang patut dicontoh.” – Susilo Bambang Yudhoyono.

Kemajuan Korea bukan didapat dengan cara yang mudah atau gampang. Pastilah banyak factor yang mendukung, seperti strategi, semangat, kerja keras, dll. Selain factor-faktor tersebut ada satu factor pendukung yang tidak boleh dilupakan ketika melihat kemajuan Negara Korea, yaitu DISIPLIN.

Mendengar kata “disiplin”, apa yang terbayang dalam pikiran Anda? Mungkin Anda akan berpikir bahwa disiplin itu membatasi gerak kita. Disiplin juga sangat berhubungan erat dengan hukuman atau punishment bagi para pelanggarnya. Disiplin lebih dipersepsikan negatif dan menyeramkan. Orang yang berdisiplin kita anggap aneh dan asing.

Namun berbeda dengan di Korea. Di Korea disiplin bukanlah sesuatu yang aneh atau asing dan bukan pula ditakuti. Disiplin berkaitan erat dengan keteraturan, ketertiban, kenyamanan dan kesuksesan. Menurut pengamatan penulis sendiri bahwa orang-orang Korea dari sejak kecil sudah diajarkan dan dilatih untuk berdisiplin. Mulai dari Taman Kanak-kanak hingga tingkat sekolah menengah umum, anak-anak Korea diajarkan dan dilatih untuk berdisiplin. Sebagai contoh, murid-murid taman kanak-kanak sudah dibiasakan untuk mengantri mengambil makan siang yang sudah disediakan. Dan mengantri juga ketika hendak mengembalikan peralatan makan siang mereka. Contoh kebiasaan yang kecil tetapi terus-menerus dilakukan sampai dewasa.

Di dunia industri juga, kedisiplinan begitu diketat diberlakukan. Bahkan menurut beberapa pengakuan teman-teman tenaga kerja Indonesia, mereka diberikan uang tambahan sebagai reward setiap bulannya atas kedisiplinan mereka untuk hadir setiap hari dan menjaga ketepatan waktu bekerja. Namun pastilah ada juga punishment untuk orang-orang yang tidak menjaga kedisiplinan tersebut.

Kita juga dapat melihat kedisplinan ini di gereja-gereja Korea. Hampir seluruh orang Kristen Korea begitu disiplin dalam mengikuti semua kegiatan gereja. Kalau di Indonesia setiap subuh kita mendengar suara azan subuh, di Korea kita akan mendengar suara orang-orang bernyanyi dan berdoa dengan suara nyaring setiap pagi. Baik tua dan muda semuanya begitu disiplin mengikuti dan melaksanakan kegiatan-kegiatan gerejawi. Ada banyak pertemua-pertemuan selain ibadah pagi  dan ibadah raya hari minggu, seperti kelompok sel, ibadah rabu malam, ibadah doa hari jumat, perkumpulan pemuda/I, kaum ibu, kaum bapak, dll. Hampir secara keseluruhan mereka aktif dan disiplin mengikutinya.

Mengapa mereka begitu disiplin mengikuti dan menjalankannya? Dari beberapa sharing jemaat dan pendeta Korea, mereka berkata bahwa selain mereka harus melatih diri mereka untuk berdisplin, mereka juga merasakan dan mendapatkan manfaat yang begitu besar dalam hidup mereka atas kedisplinan mereka. Manfaat yang mereka rasakan saat ini dan saat yang akan datang, yaitu BERKAT.

 “…Latihlah dirimu beribadah. Latihan badani terbatas gunanya, tetapi ibadah itu berguna dalam segala hal, karena mengandung janji, baik untuk hidup ini maupun untuk hidup yang akan datang.” – 1 Timotius 4:7-8

Itulah nilai positif dari kedisiplinan. Setiap orang yang berdisiplin pasti akan mendapatkan manfaat yang positif, entah itu manfaat yang datang saat itu juga atau ketika masa datang.

Mengapa disiplin diidentikkan dengan sesuatu yang menakutkan bagi kita? Jawabannya adalah karena kebiasaan kita. Ya, kita terbiasa untuk tidak mengatur waktu dan menjalani hidup ini apa adanya. Filosofi “hidup ini seperti air mengalir” sudah sangat akrab dan telah menjadi budaya dalam hidup kita.

Marilah kita melatih diri hidup kita untuk berdisiplin. Pastilah ada upah atau reward yang akan kita dapatkan ketika kita melatih diri kita berdisiplin, entah itu saat ini, tetapi yang jelas hidup kita dimasa depan akan menjadi lebih baik. Seperti seorang murid yang mendapatkan pelatihan dan pengajaran tentang kedisiplinan di sekolah, pastilah ia mengetahui dengan baik bahwa sebelum ia lulus dengan nilai yang baik, ia telah banyak belajar untuk mendisiplinkan diri, menyangkal diri, berkomitmen selama bertahun-tahun, lalu ia mendapatkan keberhasilan.

Tidak akan ada yang namanya keberhasilan tanpa sebuah pengorbanan dalam kedisiplinan.

Sumber bacaaan :

http://forum.himsisfo.net/index.php?topic=2545.0;wap2
http://bola.okezone.com/euro/read/2011/05/19/20/458754/sby-semangat-disiplin-kerja-keras-bangsa-korea-patut-dicontoh
http://en.wikipedia.org/wiki/Economy_of_South_Korea