Pernahkah kita diperhadapkan dengan pengalaman dimana kita harus memilih dan memutuskan sesuatu, dan disaat yang sama harus mengorbankan sesuatu pula. Ada kalanya kita mengalami kendala ketika sedang fokus terhadap sesuatu, dan di saat-saat seperti itu dibutuhkan kemampuan kita untuk menetapkan sebuah prioritas.  Ya, memang sebuah pelajaran berharga, karena memang ada kalanya kita berhadapan dengan kondisi yang sama, dan harus menetapkan sebuah prioritas utama dengan mengorbankan hal-hal lainnya. So many things to do, so little time. Tidakkah kita sering merasa demikian? Begitu sibuknya sehingga kita berharap bisa memiliki waktu lebih dari 24 jam sehari.  Ada banyak kepentingan dan tujuan yang ingin kita capai. Situasi seperti ini akan membuat masing-masing orang menetapkan skala prioritasnya, yang biasanya berbeda antara satu dengan lainnya. Ada yang memprioritaskan pekerjaan dan mengorbankan hal lain, ada yang memprioritaskan hobi dan kesenangan, ada yang lebih memilih untuk tidur dan bermalas-malasan dan sebagainya. Pada kenyataannya banyak orang ketika menetapkan prioriotas hidupnya lebih kearah kesenagan atau kepentingan pribadinya sendiri. Kepentingan sesama, atau bahkan Tuhan sendiri mendapatkan nomor yang entah ke berapa. Kebanyakan ego atau ke-aku-an lebih banyak berperan dalam nentapkan skala prioritas hidup. Padahal Tuhan Yesus mengajarkan hal yang sebaliknya.  Tuhan Yesus menegaskan demikian: “Tetapi carilah dahulu Kerajaan Allah dan kebenarannya, maka semuanya itu akan ditambahkan kepadamu.” (Matius 6:33). Itulah prioritas terutama yang dikehendaki Tuhan. Mencari Kerajaan Allah beserta kebenarannya, itu harus menjadi hal yang paling atas dari daftar prioritas kita. Dan semuanya akan diberikan dengan sendirinya. Tapi seringkali orang membalik urutan prioritasnya dan meletakkan apa yang seharusnya berada pada posisi teratas untuk ditempatkan pada urutan kesekian.  Ada skala prioritas yang tentunya harus kita ikuti agar kita berjalan seturut kehendak Allah, dan Allah menginginkan kita untuk terlebih dahulu mencari KerajaanNya beserta kebenarannya. Kita juga dapat belajar dari percakapan antara Yunus dengan Allah dalam Yunus pasal 3 dan 4. Kita sama-sama telah mengetahui bahwa Yunus diperintahkan Allah untuk menyampaikan kabar penghukuman bagi orang-orang yang berada di kota Niniwe karena dosa dan kejahatan mereka. Allah akan menghukum  orang-orang di Niniwe jikalau mereka tidak bertobat. Namun ternyata Yunus bersiap untuk melarikan diri ke Tarsis (Yunus 1:1-3). Dengan kata lain, Yunus berontak akan panggilan dan pengutusan Allah. Tetapi Allah mengetahui rencana Yunus tersebut, lalu Allah menurunkan badai besar sehingga kapal yang ditumpangi Yunus hamper terpukul hancur. Singkat cerita, agar badai dan ombak besar itu berhenti maka Yunus harus dibuang ke laut sebagai konsekuensi ketidak taatannya melaksanakan perintah Allah. Akhirnya laut menjadi tenang, orang-orang yang didalam kapal selamat, tetapi Yunus ditelan oleh seekor ikan. Selama 3 hari Yunus harus berada di dalam perut ikan. Namun Allah memerintahkan ikan tersebut untuk memuntahkan Yunus ke darat.  Lalu Firman Allah datang kembali kepada Yunus, “bangunglah, pergilah ke Niniwe, kota yang besar itu, dan sampaikanlah kepada mereka seruan yang kufirmankan kepadamu”.  Lalu bersiaplah Yunus, lalu pergi ke Niniwe. Setiba di Niniwe, Yunus langsung menyerukan seruan penghukuman Allah kepada mereka (orang-orang di Niniwe). Karena orang-orang Niniwe, bahkan rajanya juga, takut kepada Allah maka mereka semua dengan sungguh-sungguh bertobat, berkabung lalu meminta pengampunan kepada Allah. Melihat pertobatan mereka, Allah akhirnya mengurungkan rencana-Nya untuk menghukum bangsa Niniwe – Ketika Allah melihat perbuatan mereka itu, yakni bagaimana mereka berbalik dari tingkah lakunya yang jahat, maka menyesallah Allah karena malapetaka yang telah dirancangkan-Nya terhadap mereka, dan Iapun tidak jadi melakukannya – Yunus 3:10. Pertentangan prioritas antara Allah dengan Yunus. Meliat hal itu, Yunus ternyata tidak suka, hatinya kesal dan marahlah ia. Ia marah dan kecewa karena Allah mengurungkan niat-Nya untuk menghukum orang-orang Niniwe. Dengan kata lain, sebenarnya Yunus tetap mengharapkan penghukuman terhadap kota dan orang-orang di Niniwe. “Layakkah engkau marah?” Tanya Allah kepada Yunus, ketika Yunus menyampaikan ketidaksenangannya kepada Allah karena orang-orang Niniwe bertobat dan Allah membatalkan penghukuman bagi orang-orang Niniwe. Untuk kedua kalinya lagi Allah bertanya “Layakkah engkau marah?” ketika Yunus marah karena pohon ara tempatnya berteduh digerek ulat lalu layu. Dengan kata lain, Yunus marah dan merasa kesal ketika ego prioritasnya bertentangan dengan prioritas  Allah. Ada perbedaan antara prioritas Allah dengan prioritas Yunus. Karena ego, Yunus melupakan orang lain dan merasa tidak senang kalau orang lain juga mendapatkan belas kasihan Allah. Berbeda dengan prioritas Allah yang tidak mementingkan diriNya sendiri, tetapi lebih mementingkan keselamatan manusia banyak dan semua mahluk hidup  di kota Niniwe (lih. Yunus 4:10-11), karena melihat pertobatan manusia, Allah menyesal dan membatalkan penghukuman yang telah Ia rencanakan. Dengan kata lain, Yunus menetapkan prioritas hidupnya hanya berdasarkan keinginan dirinya semata tanpa meliat dan merasakan apa yang dibutuhkan oleh orang lain. Sedangkan Allah, walaupun Ia sendiri telah menentukan sikap-Nya sendiri, namun oleh karena meliat dan merasakan apa yang dibutuhkan oleh manusia, Ia menyesal dan menggagalkan rancangan penghukuman-Nya. Perenungan Apa yang menempati posisi teratas dalam prioritas hidup kita? Apakah prioritas Tuhan dan  kepentingan orang lain? atau hal-hal seperti harta, karir, hobi, kedudukan, kesenangan dan  lainnya? yang semuanya itu adalah untuk menyenangkan ego atau ke-aku-an kita. Dalam hidup sehari-hari, kita kadang kala atau sering bertindak dan berpikir seperti Yunus. Oleh karena keinginan peribadi, kita sering lupa ternyata di hidup ini kita juga harus mementingkan hal-hal yang lebih penting, yaitu important priority dan bahkan God’s priority. Sebagai contoh, dengan alasan sibuk bekerja untuk mencari uang agar dapat menafkahi keluarga, orang tua atau sang ayah terlalu sibuk bekerja sehingga sudah tidak cukup waktu dan tenaga lagi untuk mengasuh anak-anaknya.  Karena sibuk bekerja lalu mengabaikan atau menomor duakan anak-anak, istri dan keluarga. Apa yang paling membahagiakan bagi para anak-anak adalah waktu yang cukup untuk bermain bersama orang tuanya. Ketika para ayah berpikir dari segi pemenuhan kebutuhan bagi anak-anak mereka, anak-anak menganggap kebersamaan adalah yang paling mereka butuhkan. Retaknya keluarga kebanyakan berasal dari kurangnya kebersamaan antar sesama anggotanya.  Sang ayah telah melupakan prioritas yang lebih penting. Contoh yang lain seperti, karena  prioritas ego, akhirnya kita melupakan Allah dan kerajaan-Nya. Karena sangkin sibuknya bekerja dan mencari uang membuat kita lupa akan mencari Allah dan kerajaan-Nya. Atau karena tergiur untuk membeli barang yang sebenarnya tidak terlalu kita butuhkan akhirnya uang kita terbuang begitu saja. Dengan kata lain, prioritas ego haruslah berada jauh dibawah prioritas-prioritas yang lainnya. Bagi Tuhan, keselamatan kita sudah menjadi hal yang paling utama, begitu penting sehingga Dia rela menganugerahkan Kristus demi kita semua. Itulah prioritas Allah yang paling penting. Jadi, belajar dari cara Allah menetapkan skala prioritas-Nya, mari kita mengatur ulang skala prioritas kita. Jangan korbankan waktu-waktu untuk melakukan atau mengerjakan hal-hal yang sia-sia, yang sifatnya hanya memenuhi kepentingan hidup sesaat, berorientasi pada kesenangan peribadi. Keluarga, masyarakat sekitar, gereja, Tuhan atau hal-hal lain yang patut kita perhatikan dan kasihi, sesungguhnya itulah hal yang terpenting yang harus kita prioritaskan. Pastikan bahwa mencari Kerajaan Allah dan kebenarannya sudah menjadi fokus utama dalam hidup kita. Ada prioritas yang lebih penting dari pada prioritas ego kita. Jadi tempatkanlah Kerajaan Allah dan kebenarannya – yaitu mengasihi sesama, pada posisi teratas dalam skala prioritas hidup kita.

Disadur dan diolah dari berbagai sumber
http://renungan-harian-online.blogspot.com/2010/06/menetapkan-prioritas.html
http://parokiyakobus.wordpress.com/2010/11/11/renungan-harian-12-november-2010-mari-kita-menentukan-prioritas-hidup-kita/
http://renungan-harian-online.blogspot.com/2011/03/prioritas-bagi-keluarga.html