Ketika Anda melakukan kesalahan, janganlah terlalu lama merenunginya. Temukan alasan di dalam pikiran Anda dan kemudian melangkah ke depan. Kesalahan merupakan pelajaran untuk bijak, masa lalu tidak dapat diubah. Masa Depan menunggu kemampuan untuk mengubahnya”. – Phyllis Bottome

Siapakah manusia yang tidak pernah melakukan kesalahan? Saya kira tidak ada manusia yang tidak pernah melakukan kesalahan. Semua manusia yang hidup pasti pernah melaukan kesalahan. Walaupun kesalahan atau/dan Kegagalan adalah dua hal yang sangat dihindari oleh manusia normal, namun kesalahan dan kegagalan juga mempunyai unsur positif karena sebuah kebenaran dapat terlihat karena adanya kesalahan dan kegagalan adalah awal dari keberhasilan. Melalui kesalahan tersebut kita dapat belajar untuk memperbaiki diri agar tidak salah atau gagal kembali. Setiap kesalahan akan menambah pengalaman dan pengetahuan kita, oleh karena itu jangan pernah malu karena pernah melakukan kesalahan dan kegagalan karena orang yang tidak pernah melakukan kesalahan adalah orang yang tidak bergerak/bertindak. Kesalahan akan membawa kita kepada bertambahnya pengalaman. Karena itu belajarlah dari kesalahan, karena dengan belajar dari kesalahan  maka kita dapat memulai lagi apa yang gagal tanpa terlalu lama merenungi kegagalan agar nantinya keberhasilan ke depan dapat cepat dicapai

Apakah yang dimaksud dengan kesalahan? Kesalahan berhubungan dengan perihal salah; kekeliruan; kealpaan.

Daud belajar dari kesalahannya.

Ketika kita mendengar nama Daud, kita pasti langsung berpikir tentang kehebatannya, seperti kehebatannya dalam menyair, membunuh raksasa, raja, nenek moyang Yesus – singaktnya Daud adalah salah satu orang terbesar di Kitab Perjanjian Lama. Tetapi di sisi lain dari daftar predikat tersebut, dia adalah seorang yang pernah melakukan kesalahan. Dan Alkitab sendiri tidak menutup-nutupi kesalahan Daud. Ada beberapa kesalahan yang dicatat Alkitab, seperti pengkhianatan, pembohong, pezina, pembunuh. Namun, Mengapa Allah mengakui Daud sebagai ‘seorang yang berkenan di hati-Ku’ (Kis. Rasul 13:22)?

Memang Daud melakukan dosa besar tetapi dia tidak mengulangi perbuatan dosa tersebut. Dia belajar dari kesalahan yang diperbuatnya dan bersedia menerima akibat yang ditimbulkan dari perbuatannya. Namun, sering kali kita melakukan kebalikan dari apa yang diperbuat Daud. Kita cenderung untuk menghindari konsekuensi dari dosa yang telah kita perbuat; bahkan kita tidak belajar dari kesalahan.

Ada kesalahan besar yang sengaja dilakukan oleh Daud, yaitu berbuat zina dengan Batsyeba dan mengatur pembunuhan atas Uria, suami Batsyeba (2 Samuel 11-12). Tetapi ada juga pelajaran berharga yang patut kita tiru dari Daud, yaitu ia mengakui kesalahan dengan jujur dan hal tersebut merupakan langkah awal dalam menangani dan menang atas kesalahannya tersebut. Dalam Mazmur 51:3-5, Daud berkata Kasihanilah aku, ya Allah, menurut kasih setia-Mu, hapuskanlah pelanggaranku menurut rahmat-Mu yang besar! Bersihkanlah aku seluruhnya dari kesalahanku, dan tahirkanlah aku dari dosaku! Sebab aku sendiri sadar akan pelanggaranku, aku senantiasa bergumul dengan dosaku. Daud benar-benar menyadari akan dosanya, menyadari kesalahannya dan benar-benar meminta ampun kepada Tuhan”.

Setelah kesalahan/dosa yang diperbuat Daud ini, apakah kita kembali menemukan di Alkitab cerita tentang Daud yang melakukan kembali kesalahan yang sama, yaitu kesalahan yang telah ia perbuat? Tidak. Daud tidak mengulanginya karena ia benar-benar sadar akan kesalahan dan dosa yang telah diperbuatnya.

Kesalahan, seakan-akan begitu melekat dengan kehidupan manusia. Dan sebagian banyak orang sepakat bahwa selama hidup di dunia ini kita tidak akan lepas dari kesalahan-kesalahan Namun seorang yang pernah mengalami kesalahan diharapkan untuk belajar dari kesalahannya tersebut dan tidak mengulangi kesalahan yang sama untuk yang kedua kalinya maupun untuk yang ke sekian kalinya. Seperti Tuhan Yesus yang mengampuni kesalahan perempuan yang berzinah dan memerintahkannya untuk tidak melakukannya lagi, “…Pergilah, dan jangan berbuat dosa lagi mulai dari sekarang” (Yoh. 8:11). Demikianlah kita di dalam hidup sehari-hari pasti sering jatuh dan melakukan kesalahan-kesalahan. Namun mari kita belajar dari setiap kesalahan yang kita perbuat, menyadari kesalahan tersebut agar kesalahan tersebut tidak kita lakukan kembali. juga menyadari kesalahan kita dan tidak mengulanginya lagi.

Petrus memiliki peribahasa untuk menggambarkan orang yang kembali melakukan kesalahan/dosanya, yaitu : “…Anjing kembali ke muntahnya, dan babi yang mandi kembali lagi ke kubangannya.” 2 Petrus 2:22.

Mari belajar dari kesalahan yang telah kita perbuat agar kita tidak terjatuh lagi pada “lobang” yang sama.