~ melakukan manajemen berdasarkan tujuan / visi yang telah Tuhan berikan pada setiap kita ~

“Pecundang sejati bukanlah orang terakhir yang melintasi garis akhir. Pecundang sejati adalah orang yang duduk di pinggir, orang yang bahkan tidak berusaha untuk bersaing.” —Sheila, Ibu Oscar Pistorius

Apakah anda pernah mendengar nama Oscar Pistorius? Jika anda bukan penggemar atletik, mungkin nama ini terasa asing bagi anda. Tetapi jika anda mengenal lebih jauh, maka anda akan menyadari bahwa sosok Oscar bisa menjadi sumber inspirasi bagi banyak orang.

Oscar Pistorius adalah seorang kelahiran Afrika Selatan yang mengalami amputasi kedua kaki (bagian betis) sejak berusia 11 bulan.

Namun, kehilangan kedua belah kaki tidak menghalangi Oscar untuk mencintai dunia olahraga. Sejak di sekolah dasar, beragam olahraga seperti tenis, kriket, sepak bola dan gulat diikutinya. Hanya satu yang tidak, yaitu lari, karena kaki palsunya tidak mendukung Oscar untuk berlari.

Saat SMA, Oscar terpilih sebagai pemain rugby di sekolahnya. Namun pada tahun 2003, dia mengalami cidera serius di bagian lututnya. Ahli terapis yang menanganinya menyarankan Oscar berlatih lari cepat demi memulihkan cidera lututnya. Inilah awal dari karier Oscar di bidang atletik.

Pada Juni 2004, seorang kolega ayahnya,mengundang Oscar ke AS untuk mencoba produk kaki palsu terbarunya yang bernama Cheetah yang dibuat dari serat karbon. Dengan menggunakan Cheetah, Oscar mulai berlatih lari cepat supaya bisa bermain rugby kembali. Sedikit demi sedikit Oscar justru makin mencintai olahraga ini.

Setelah tiga minggu menjalani program latihan,Oscar menjalani pertandingan lari 100 meter pertama kalinya dan berhasil pada urutan pertama dalam waktu 11,72 detik yang merupakan rekor dunia pelari penyandang cacat. Dalam pertandingan-pertandingan selanjutnya,Oscar terus menorehkan medali emas untuk negaranya.

Keberhasilannya dalam menyabet medali emas dan seiring dengan terus membaiknya catatan waktunya, membuat banyak kalangan menaruh curiga pada kaki palsu Oscar. Mereka beranggapan bahwa Cheetah telah memberikan kelebihan dan keuntungan yang berarti.

 Maret 2007, IAAF yang merupakan Asosiasi Internasional Federasi Atletik dunia mengumumkan pelarangan penggunaan peralatan apa saja yang dirancang untuk meningkatkan penampilan atlet. Karena memunculkan kontroversi serta banyaknya dukungan terhadap karier Oscar ke depannya, maka, pihak IAAF melakukan tes pada bulan November 2007 terhadap kaki palsu Oscar. Hasil penelitian Profesor Bruggemann (IAAF) ternyata menyatakan bahwa Cheetah memang memberikan keuntungan mekanis dengan disertai dengan berbagai data statistik yang meyakinkan.

Oscar yang merasa tidak berbuat hal tersebut mengajukan banding atas putusan IAAF ke Pengadilan Arbitrase Olahraga (CAS) di Swiss. Pihak Oscar berusaha mengumpulkan tim yang terdiri dari beberapa profesor dibidangnya untuk kembali melakukan tes pada kaki Oscar. Hasilnya terlihat sangat jelas berbeda dengan tes yang sedang dijalani Oscar sebelumnya oleh IAAF.

Pada 16 Mei 2008, CAS memutuskan bahwa kaki palsu Oscar tidak memberi keuntungan sama sekali dan keputusan IAAF terdahulu batal demi hukum serta Oscar dapat bertanding kembali seperti dulu.

Oscar kemudian mengikuti kejuaraan Paralimpiade Beijing dan terjun pada tiga nomor berbeda, Yakni: 100, 200, dan 400 meter. Ketiganya ia sabet dengan medali emas sekaligus mengukir sejarah dengan memecahkan rekor dunia.

Kisah atlet penyandang cacat memang banyak. Namun, kisah Oscar tersebut di atas terasa berbeda. Titik perbedaannya adalah pada perjuangannya dalam menghadapi cibiran dan dalam menyanggah berbagai tuduhan terhadap kaki palsunya yang direspon dengan memberikan jawaban secara ilmiah yang dikemukakan dari para ahli.

Tiga medali emas yang ia rengkuh pada Paralimpiade Beijing semata-mata didapatkannya melalui latihan keras, semangat. Tak cuma itu, Oscar juga berhasil menunjukkan bahwa penyandang cacat juga mampu berjuang di laga yang sama dengan atlet lain yang tidak cacat. Pada hari ini pun Oscar berada di Daegu, Korsel untuk mengikuti perlombaan lari 400m. (http://www.iaaf.org/athletes/biographies/country=RSA/athcode=233200/index.html)

Kehidupan Oscar adalah salah satu contoh keberhasilan dalam hidup melalui perjuangan, kerja keras dan pengaturan/manajemen berdasarkan tujuan [MBO] (yang di dalamnya meliputi adanya goal/tujuan, perencanaan dan latihan, dukungan dan kerjasama dengan orang lain, prosedur atau metode untuk mencapai goal, penyempurnaan dan evaluasi). Meskipun dia mempunyai keterbatasan, namun pantang menyerah demi mencapai visinya menjadi seorang atlet.

 

Kita juga bisa belajar dari Tuhan Yesus mengenai MBO

MBO merupakan salah satu yang bisa kita pakai dalam kita mencapai visi yang telah Tuhan berikan kepada setiap kita. Jika kita telah belajar mengenai MBO sekilas dari kehidupan Oscar Pistorius, maka lebih dalam lagi kita bisa melihat MBO yang dilakukan oleh Tuhan Yesus.

Pelayanan Yesus bisa diliat dari sudut pandang Management By Objective (manajemen berdasarkan tujuan) dengan menganalisa berdasarkan 5P, yaitu: Purspose (tujuan), Plan (perencanaan), People (manusia), Procedure (prosedur), Perfection (Kesempurnaan).

  • PURPOSE : Tuhan Yesus mengetahui tujuanNya dalam rencana Tuhan. Dia membuat banyak pernyataan mengenai tujuan diriNya selama pelayanannya. Lukas 4:18-19.
  • PLAN : Tuhan Yesus mempunyai perencanaan untuk pelayananNya. Dia berencana untuk mengabarkan dan mengajarkan Injil, menyembuhkan orang sakit, mengusir setan, dan melakukan mujizat untuk menyatakan Firman Tuhan. Dia menggenapi rencana Allah dengan mati di kayu salib bagi dosa manusia, mengalahkan pekerjaan musuh, dan bangkit dari kematian dengan kemuliaan dan kuasa.
  • PEOPLE : Tuhan Yesus mempunyai orang-orang yang bekerja untuk pelayananNya. Secara khusus Dia memanggil 12 rasul. Kemudian selanjutnya juga mengirim 70 orang untuk mengabarkan Injil. Yesus juga memerintahkan semua orang percaya untuk mengabarkan Injil kepada semua bangsa.
  • PROCEDURE : Tuhan Yesus mempunyai prosedur dalam menggenapi rencana Allah. Prosedur adalah metode atau cara untuk melakukan sesuatu. Yesus menuliskan prosedur perkabaran Injil dalam Matius 10 dan Lukas 10.
  • PERFECTION : Tuhan Yesus mengevaluasi pelayanan murid-muridNya untuk menyempurnakan perencanaan yang dibuatNya (Lukas 10:17-24). Setelah perencanaan itu sempurna, Yesus memerintahkan semua orang percaya untuk ambil bagian dalam perencanaanNya (Matius 28:19-20 dan Kis 1:8).

“Sebab itu aku tidak berlari tanpa tujuan dan aku bukan petinju yang sembarangan saja memukul. Tetapi aku melatih tubuhku dan menguasainya seluruhnya, supaya sesudah memberitakan Injil kepada orang lain, jangan aku sendiri ditolak.” 1 Korintus 9:26-27

 

~ diambil dari berbagai sumber dan RH NP Senin 29 Aug 2011 ~