Pasti kita pernah mendengar seseorang menyeletuk seperti ini: “Ah, kamu ini, bermimpi di siang bolong”. Kalimat tersebut tentu saja merupakan kalimat hiperbola atau melebih-lebihkan, yang artinya adalah bahwa mustahil bagi seseorang tersebut untuk mendapatkan/mewujudnyatakan apa yang telah ia ucapkan/harapkan.

Dalam kamus Bahasa Indonesia online, mimpi dapat berarti: (1) sesuatu yang terlihat atau dialami dalam tidur, dan (2) angan-angan. Dari dua definisi diatas kita dapat melihat bahwa mimpi tidak selalu berarti suatu hal yang dialami oleh seseorang dalam tidurnya, namun dapat juga menggambarkan suatu kondisi mental atau imajinasi seseorang dalam hidup kesehariannya. Hal ini dimungkinkan karena manusia dikaruniai oleh Tuhan akal budi yang luar biasa sehingga setiap kita dapat membayangkan sesuatu dengan jelas hanya melalui pikiran kita saja yang sering disebut sebagai kemampuan abstraksi atau daya khayal atau imajinasi.

Piaget, seorang pakar pendidikan menemukan bahwa kemampuan seseorang untuk berkhayal dan berpikir akan hal-hal yang abstrak dimulai sejak memasuki usia remaja. Bandingkan dengan masa kanak-kanak yang hanya bisa mengerti dan menangkap sesuatu melalui panca inderanya saja. Contoh: remaja sudah mulai bisa menangkap arti kata “Tuhan ada dalam hati kita” dibandingkan anak-anak. Anak-anak akan sulit menangkap makna tersebut, karena mereka akan bertanya-tanya: Tuhan yang tidak kelihatan kok bisa ada dalam hati, hati itu ada dimana, lalu Tuhan ada di posisi sebelah mana dan seterusnya.

Dengan kemampuan yang kita miliki, wajar saja bila kita berkhayal, berimajinasi, atau bermimpi.

Bagaimana sikap kita sebagai Kristen? Sejarah mencatat banyak sekali orang-orang Kristen yang menjadi penemu-penemu hal-hal baru karena mereka bermimpi! Ya, disebut penemu, karena sesungguhnya manusia tidak pernah dapat membuat sesuatu yang sama sekali baru. Manusia hanya dapat menemukan hukum-hukum yang telah ditetapkan Allah, dan memanfaatkan hasil temuannya itu untuk membuat sesuatu serta menemukan hal-hal di sekitarnya yang telah dicipta Allah sebelumnya. Misalnya dalam bidang science: adalah seorang Nicolaus Copernicus yang menemukan bahwa bumi mengelilingi matahari dan bukan sebaliknya, yaitu sebelum Galileo menemukan teleskop dan jauh sebelum manusia dapat mengirim satelit ke angkasa untuk membuktikannya. Copernicus pernah berkata, “Ini adalah tugas yang menyenangkan untuk mencari kebenaran dalam segala hal, hanya sejauh Allah telah mengungkapkannya kepada akal manusia”

Nicolaus Copernicus

Dalam kaitan mengembangkan VISI dari Allah, sangat jelas bahwa kita harus bermimpi dan membangunnya bersama Allah juga. Kita telah mendiskusikan arti penting penyertaan Allah dalam penemuan visi. Bermimpi atau berimajinasi-nya sendiri tidaklah salah, tetapi bila tidak mengujinya dengan Firman Allah disinilah letak kejanggalannya.

Ulangan 13:1-4 menunjukkan bagaimana kita seharusnya menguji apakah mimpi kita berasal dari Allah atau bukan:

Apabila di tengah-tengahmu muncul seorang nabi atau seorang pemimpi, dan ia memberitahukan kepadamu suatu tanda atau mujizat, dan apabila tanda atau mujizat yang dikatakannya kepadamu itu terjadi, dan ia membujuk: Mari kita mengikuti allah lain, yang tidak kaukenal, dan mari kita berbakti kepadanya, maka janganlah engkau mendengarkan perkataan nabi atau pemimpi itu; sebab TUHAN, Allahmu, mencoba kamu untuk mengetahui, apakah kamu sungguh-sungguh mengasihi TUHAN, Allahmu, dengan segenap hatimu dan dengan segenap jiwamu. TUHAN, Allahmu, harus kamu ikuti, kamu harus takut akan Dia, kamu harus berpegang pada perintah-Nya, suara-Nya harus kamu dengarkan, kepada-Nya harus kamu berbakti dan berpaut.

Rasul Yohanes juga menyerukan hal yang senada dengan Nabi Musa diatas supaya kita menguji segala sesuatu:

“Saudara-saudaraku yang kekasih, janganlah percaya akan setiap roh, tetapi ujilah roh-roh itu, apakah mereka berasal dari Allah; sebab banyak nabi-nabi palsu yang telah muncul dan pergi ke seluruh dunia” (1 Yohanes 4:1).

Sebuah contoh praktis: Dengan prinsip-prinsip Alkitab, mungkin Anda telah menemukan visi hidup Anda sebagai pengusaha Kristen. Anda ingin melalui usaha Anda banyak orang mengenal Tuhan Yesus yang mengasihi Anda. Anda ingin orang lain juga dapat hidup secara layak dan menikmatinya karena hidup adalah pemberian Allah. Maka sudah menjadi keharusan bagi kita orang Kristen untuk mengembangkan dan mewujudnyatakan ide-ide tersebut juga berdasar prinsip-prinsip kebenaran Allah seperti keadilan, kejujuran, ketulusan, dan kasih. Sehingga dengan demikian, visi Allah yang telah ada dalam hati Anda dapat dikembangkan dengan benar karena dibangun juga di atas dasar kebenaran Allah sendiri sebagai Sang Pemberi Visi. Sebuah contoh penerapan kebenaran Alkitab dalam usaha furniture: Herman Miller Furniture.

Kesimpulan:
Jangan pernah berhenti bermimpi demi kemajuan hari esok, tetapi bangun dan kembangkan mimpi Anda bersama Sang Pemilik Hidup. Pertanyaan terpenting bukanlah: apakah saya harus bermimpi atau bagaimana supaya bisa bermimpi atau perlukah saya bermimpi akan masa depan, melainkan…….

Dengan dasar apakah Anda membangun mimpi Anda?

Referensi:
http://kamusbahasaindonesia.org/mimpi
https://nehemiapath.wordpress.com/2011/08/16/menemukan-visi/
http://scrapetv.com/News/News%20Pages/Science/images-3/copernicus.jpg
http://www.christianitytoday.com/ch/131christians/scholarsandscientists/copernicus.html
http://www.hermanmiller.com/About-Us/Overview
Oakley, L. (2004). Cognitive development. London: Routledge.