Ketika Anda mendengar kata “God’s messenger” atau “Utusan Allah”, apa yang Anda pikirkan? Muslim akan berkata bahwa Muhammad SAW adalah utusan Allah yang terakhir setelah Nuh, Abraham, Musa, Daud, dan Isa. Bagaimana dengan kekristenan? Kristen percaya dan mengakui bahwa Yesus (yang disebut sebagai Isa oleh orang-orang Muslim) adalah Pembawa Pesan Allah/Utusan Allah yang dipercaya sekaligus sebagai PESAN/message itu sendiri bagi umat manusia. Yesus datang untuk menggenapkan misi penyelamatan dan penebusan Allah terhadap dosa-dosa manusia.

Dalam rangka kita sebagai Kristen menemukan visi Allah (lihat juga posting Menemukan Visi), kita bergantung pada para pembawa pesan Allah atau utusan Allah tersebut, karena melalui mereka, kita dapat mengerti apa yang sesungguhnya menjadi kehendak Allah dalam hidup kita. Kita dapat saja memikirkan dan merancang sendiri akan masa depan kita tanpa menghiraukan apa yang menjadi kehendak Allah. Namun, tidaklah demikian seharusnya kita sebagai Kristen berpikir dan bertindak. Kita harus kembali kepada Allah dan kehendak-Nya, karena kita adalah hamba-hamba-Nya, kita adalah anak-anak-Nya. Seperti lirik sebuah lagu yang mengakui keberadaan kita sebagai umat tebusan-Nya, “Hidupku bukannya aku lagi, tapi Yesus hidup di dalamku”.

Dalam rangka menemukan kehendak Allah, manusia seringkali membayangkan dan mengharapkan bahwa Allah akan berkata-kata secara ‘gaib’ melalui mimpi, malaikat atau cara-cara supranatural lainnya (untuk mengetahui apa kata Alkitab tentang malaikat dapat Anda klik disini). Allah dapat memakai cara tersebut, namun bukan berarti selalu menjadi rumusan baku, bahwa Allah menyatakan kehendak-Nya buat tiap orang dengan cara sedemikian. Ibrani 1:1-2 memberikan petunjuk mengenai cara Allah bekerja menyatakan kehendak-Nya:

Setelah pada zaman dahulu Allah berulang kali dan dalam pelbagai cara berbicara kepada nenek moyang kita dengan perantaraan nabi-nabi, maka pada zaman akhir ini Ia telah berbicara kepada kita dengan perantaraan Anak-Nya, yang telah Ia tetapkan sebagai yang berhak menerima segala yang ada. Oleh Dia Allah telah menjadikan alam semesta.

Allah selalu proaktif menyatakan kehendak dan diri-Nya kepada manusia. Sifat Allah ini-lah yang membuat manusia menjadi mungkin dalam mengenal kehendak Allah. Alkitab yang kita miliki adalah kumpulan kehendak Allah yang dinyatakan melalui perantaraan nabi-nabi, rasul-rasul, dan terkhusus melalui perantaraan Anak-Nya yang tunggal, yaitu Yesus Kristus. Di dalam Alkitab terbentang sejarah 1.600 tahun Allah berbicara kepada manusia, melalui sekitar 40 orang pembawa pesan-Nya. Luar Biasa!

Jadi apakah dengan semacam perubahan cara Allah berbicara kepada manusia di jaman dulu dan waktu penulisan Alkitab, berarti Allah dapat mengubah cara-Nya lagi untuk menyatakan kehendak-Nya di masa kini? Alkitab menyatakan bahwa Alkitab adalah Firman Allah, dan Allah tidak pernah berubah. Jadi dengan mempelajari dan merenungkan Alkitab, kita dapat mengetahui tentang prinsip-prinsip rencana Allah bagi manusia. Alkitab tidak berisi hal-hal detil seperti: siapakah yang menjadi jodoh saya, atau apakah bisnis yang cocok untuk saya jalani. Namun dengan membaca tulisan para pembawa pesan Allah di masa lampau, kita mendapatkan gambaran yang cukup akan kehendak Allah sepanjang jaman, bagaimana kita memilih dan memutuskan yang terbaik sesuai kehendak Allah, apa pun itu bentuk dan ragamnya.

Dengan pengakuan Kristen sebagai pengikut Kristus, sudah sepatutnyalah kita menjadikan Kristus sebagai pusat hidup kita, karena Kristus adalah pembawa pesan Allah sekaligus pesan itu sendiri. Kristus telah menjadi teladan hidup bagaimana kita seharusnya hidup memenuhi kehendak Allah dalam keseharian kita. Dia mau taat pada misi Bapa-Nya dan tidak mengutamakan kehendak-Nya sendiri. Ibrani 11:3-4 menyatakan siapa Kristus:

Ia adalah cahaya kemuliaan Allah dan gambar wujud Allah dan menopang segala yang ada dengan firman-Nya yang penuh kekuasaan. Dan setelah Ia selesai mengadakan penyucian dosa, Ia duduk di sebelah kanan Yang Mahabesar, di tempat yang tinggi, jauh lebih tinggi dari pada malaikat-malaikat, sama seperti nama yang dikaruniakan kepada-Nya jauh lebih indah dari pada nama mereka.

Dari Alkitab kita mengetahui dari pengalaman para pembawa pesan Allah, bahwa Allah selalu tepat waktu dalam melaksanakan kehendak-Nya. Contohnya: Musa berusia 80 tahun ketika Allah memanggil dia untuk menjadi pemimpin pembebasan Israel dari Mesir. Yesus Kristus harus menunggu hingga berusia 30 tahun dan melayani hanya tiga setengah tahun lamanya. Biarlah kita taat pada waktu dan perkenan Allah saja. Segala kemuliaan hanya bagi nama-Nya.

Temukan visi Allah melalui kedekatan Anda dengan  pembawa pesan Allah
melalui Alkitab!

Referensi:
http://reformed.sabda.org/langkah_langkah_mencari_kehendak_allah
http://www.sciencedaily.com/images/2008/08/080821212854.jpg