Ibrani 11:1
Iman adalah dasar dari segala sesuatu yang kita harapkan dan bukti dari segala sesuatu yang tidak kita lihat.

Sebagai anak-anak Allah, kita seharusnya hidup dalam visi Allah, meski seringkali kita hidup menurut keinginan kita sendiri. Kali ini kita mau merenungkan seseorang yang memahami arti panggilan Allah dalam hidupnya, dimana dengan sikap beriman, dia mau peka akan suara-Nya dan menjawab-Nya dengan, “YA”.

Pernahkah Anda mendengar nama Agnes Gonxha Bojaxhiu? Bagaimana dengan tempat kelahirannya di Skopje, Makedonia, pada 26 Agustus 1910? Dia adalah keturunan Albania, negara yang terletak di sebelah barat Makedonia. Ya, dialah yang kita kenal dengan panggilan Ibu atau Bunda atau Mother Teresa! Marilah kita menyimak kisah hidupnya, sehingga kita dapat lebih memahami bagaimana Allah bekerja dalam hatinya, menanamkan kepekaan akan panggilan Allah, dan menjalankannya.

Gonxha merupakan anak bungsu dari empat bersaudara. Ketika dibaptis, namanya menjadi Agnes Gonxha. Ketika berusia delapan tahun, ayahnya meninggal dunia, dan meninggalkan keluarganya dengan kesulitan finansial. Meski demikian, ibunya memelihara Gonxha dan ketiga saudaranya dengan penuh kasih sayang. Drane Bojaxhiu, ibunya, sangat memengaruhi karakter dan panggilan pelayanan Gonxha.

Ketika memasuki usia remaja, Gonxha bergabung dalam kelompok pemuda jemaat lokalnya yang bernama Sodality. Melalui keikutsertaannya dalam berbagai kegiatan yang dipandu oleh seorang pastor Jesuit, Gonxha menjadi tertarik dalam hal misionari. Pada usia dua belas, dia merasakan panggilan Allah yang sangat dalam, dan Dia tahu bahwa dia harus menjadi seorang misionaris untuk menyebarkan kasih Kristus.

Pada tanggal 28 November 1928, pada usia 18 tahun, ia bergabung dengan Institute of the Blessed Virgin Mary, yang dikenal juga dengan nama Sisters of Loretto, sebuah komunitas yang dikenal dengan pelayanannya di India. Ketika mengikrarkan komitmennya bagi Tuhan dalam Sisters of Loretto, ia memilih nama Teresa dari Santa Theresa Lisieux.

Setelah pelatihan beberapa bulan di Dublin, Irlandia, dia dikirim ke India, di mana pada tanggal 24 Mei 1931, ia mengambil sumpah awalnya sebagai biarawati. Dari tahun 1931 hingga 1948 Ibu Teresa mengajar di Sekolah Tinggi St Mary di Calcutta, dimana mulai tahun 1944 menjadi Kepala Sekolah-nya.

Dalam kereta api yang tengah melaju menuju Darjeeling, Suster Teresa mendapat panggilan yang khusus dari Tuhan; sebuah panggilan di antara banyak panggilan lain. Kala itu, ia merasakan belas kasih bagi banyak jiwa, sebagaimana dirasakan oleh Kristus sendiri, merasuk dalam hatinya. Hal ini kemudian menjadi kekuatan yang mendorong segenap hidupnya. Saat itu, 10 September 1946, disebut sebagai “Hari Penuh Inspirasi” oleh Ibu Teresa.

Pada tahun 1948 dia menerima izin dari atasannya untuk meninggalkan sekolah biara dan mengabdikan dirinya untuk bekerja di antara yang termiskin dari yang miskin di daerah kumuh Kalkuta, India. Meskipun dia tidak memiliki dana, ia bergantung pada Allah, dan memulai sekolah terbuka untuk anak-anak kumuh.

Pada tanggal 7 Oktober 1950, Ibu Teresa menerima izin dari Takhta Suci (Vatikan) untuk memulai ordo sendiri, “The Missionaries of Charity“, yang tujuan utamanya adalah untuk mencintai dan merawat orang-orang yang terlahir tanpa ada yang siap untuk merawat mereka. Pada tahun 1965 organisasi pimpinan Ibu Teresa menjadi sebuah Keluarga Beragama Internasional (International Religious Family) dengan keputusan Paus Paulus VI.

Pekerjaan Ibu Teresa telah diakui dan diakui di seluruh dunia dan dia telah menerima sejumlah penghargaan dan pengakuan, termasuk dari Paus Yohanes XXIII berupa Peace Prize (1971), dan Nehru Prize untuk promosi-nya akan perdamaian internasional dan saling pengertian (1972). Dia juga menerima Balzan Prize (1979) dan penghargaan The Templeton and Magsaysay awards. Puncaknya, dia meraih penghargaan Nobel perdamaian pada tahun 1979.

Pada suatu kesempatan konferensi pers di Amerika Serikat, dia menceritakan visi Allah yang telah dia jalani dalam hidupnya, dengan mengatakan, “Kalau anda melakukan pekerjaan ini untuk kemuliaan diri, Anda hanya akan lakukan itu untuk satu tahun, dan tidak lebih. Hanya kalau engkau melakukan itu untuk Yesus maka engkau akan terus maju”. Dan kita tahu akan akhir kisah hidupnya yang penuh dengan pujian pada 5 September 1997 pada usia 87 tahun.

Cerita yang serupa juga kita bisa baca dari para saksi-saksi iman, baik yang ada di Alkitab maupun di sekitar kita, termasuk tokoh kita Nehemia. Nehemia juga menajamkan kepekaan dirinya akan suara Allah dengan hidup beriman kepada Allah yang hidup. Nehemia jauh dari negaranya waktu dia mendengar kabar betapa negaranya dalam keadaan hancur lebur. Tanpa iman yang sejati dari Allah, tidak mungkin Nehemia mau pergi meninggalkan kenyamanan yang dia dapatkan di Persia saat menjadi juru minuman raja. Dan kita tahu dari Alkitab, bahwa Nehemia membutuhkan waktu kurang lebih 5 bulan untuk dengar-dengaran dengan Allah, apakah pembangunan Yerusalem adalah visi Allah, ataukah ambisi dia pribadi.

Mari bergumul bersama Allah,

menumbuhkan iman anugerah-Nya,

menajamkan kepekaan akan panggilanNya,

dan kepadaNya jawablah: YA!

Referensi:

http://biokristi.sabda.org/bunda_teresa_0
http://maps.google.co.id/maps?pq=biografi+bunda+teresa&hl=id&cp=5&gs_id=38&xhr=t&q=skopje&gs_upl=&biw=1280&bih=699&um=1&ie=UTF-8&hq=&hnear=0x1354137a35108be9:0x40106f453c64420,Skopje,+Republik+Makedonia&gl=id&ei=TIlETpGPFeydmQXcwqXWBg&sa=X&oi=geocode_result&ct=image&resnum=1&sqi=2&ved=0CCIQ8gEwAA
http://nobelprize.org/nobel_prizes/peace/laureates/1979/teresa-bio.html
http://www.pondokrenungan.com/teresa/biografi.php
http://www.state.gov/r/pa/ei/bgn/3235.htm