Masih ingat dengan salah satu kartun Walt Disney yang terkenal tentang tiga ekor babi? Lagunya sangat terkenal, berjudul “Who’s Afraid of the Big Bad Wolf?”. Yaitu sebuah cerita anak-anak yang berjudul Three Little pigs. Kisahnya menceritakan tiga ekor babi yang harus membangun tempat perlindungan paling aman dari ancaman serigala jahat. Mereka sama-sama membangun rumah, dengan cara dan dasar yang berbeda.

Yang satu membangunnya dari jerami.

Yang satunya lagi membangun rumah dari kayu,

Sedangkan saudaranya satu lagi membangun dengan batu bata dan semen.

Memang yang membangun dengan jerami dan kayu tentu pekerjaannya lebih cepat selesai sehingga mereka sempat menertawakan saudara tertuanya yang masih tekun menumpuk batu bata demi batu bata dan menyatukannya dengan semen. Tapi si abang tertua tetap tekun membangunnya. Pada satu ketika, serigala jahat pun datang. Rumah dari tumpukan jerami dengan mudah diluluh lantakkan dengan sekali hembus, dan kaburlah si adik terkecil dengan ketakutan. Ia lari berlindung di rumah kakaknya yang dibangun dari kayu. Rumah itu pun dengan mudah dirobohkan oleh si serigala jahat. Seketika mereka berdua berhamburan ketakutan, dan lari ke rumah abang tertuanya. Di sana mereka aman dari kejaran serigala jahat karena sang serigala tidak mampu merubuhkan rumah yang kokoh dibangun di atas dasar kuat.

Seperti halnya tiga babi kecil, demikianlah kita dalam kehidupan harus senantiasa mewaspadai iblis yang terus mengaum-aum mencari mangsa. (1 Petrus 5:8). Kita juga harus terus-menerus mewaspadai akan apapun hal-hal yang tidak baik di masa mendatang. Sama seperti cara hidup sekumpulan semut yang diteliti oleh Amsal di kitab Amsal. Semut yang menyediakan rotinya di musim panas, dan mengumpulkan makanannya pada waktu panen (Amsal 6:6). Dibutuhkan kesensitifan untuk melihat akan hari ini dan masa depan. Untuk itu, dasar yang kita pilih untuk menghindari serangan iblis itu menjadi sangat penting. Dibutuhkan kesensitifan untuk berusaha mempertimbangkan masa depan. Bukankah Yesus juga berkata dalam Lukas 14:28 “Sebab siapakah di antara kamu yang kalau mau mendirikan sebuah menara tidak duduk dahulu membuat anggaran biayanya, kalau-kalau cukup uangnya untuk menyelesaikan pekerjaan itu?”. Untuk itu, kita juga perlu melakukan sebuah tindakan untuk ikut dalam mempersiapkan masa depan yang lebih baik. Namun bukan berarti menjadikan kita semakin subjectif yang mengandalkan kekuatan diri sendiri dan melupakan Allah.  Apa yang harus kita lakukan?

Investasi untuk masa depan.

Hal yang serupa walau tidak sama persih kita temukan dalam perumpamaan Yesus tentang gadis yang bijaksana dan gadis yang bodoh dalam Matius 25:1-13. Perumpamaan itu mengisahkan tentang hal Kerajaan Sorga akan seumpama sepuluh gadis yang membawa pelitanya dan menyongsong mempelai laki laki. Gadis-gadis yang bodoh membawa pelitanya tapi tidak membawa bekal minyak. Ini tidak berarti pelitanya tidak diisi minyak. Mereka memiliki minyak dalam pelitanya namun tidak membawa persediaan lebih. Sebaliknya, lima gadis yang bijaksana masing-masing membawa persediaan minyak (ayat 4). Pada waktu mempelai laki-laki terlambat datang, mereka semua tertidur. Waktu tengah malam terdengarlah orang berseru, “Mempelai datang! Songsonglah dia!” Gadis-gadis itupun bangun dan segera membereskan pelita mereka. Para gadis yang bodoh berkata kepada yang bijaksana, “Berikanlah kami sebagian dari minyakmu agar pelita kami tidak padam,” Lalu para gadis yang bijaksana menjawab, “Jangan, nanti persediaan minyak kami tidak cukup. Lebih baik kamu pergi kepada penjual minyak dan membelinya.”

Waktu mereka sedang pergi membeli, datanglah mempelai itu dan mereka yang telah siap sedia masuk bersama-sama dengan dia ke ruang perjamuan kawin, lalu pintu ditutup. Lalu datanglah gadis-gadis yang lain itu dan berkata: “Tuan, tuan, bukakanlah kami pintu.” Tetapi ia menjawab, “Aku berkata kepadamu, sesungguhnya Aku tidak mengenal kamu.”

Semua gadis-gadis tersebut mempunyai pelita yang menyala. Perbedaan yang utama terletak pada siapa yang membawa persediaan minyak dan siapa yang tidak. Gadis-gadis yang bijaksana membawa persediaan minyak sedangkan yang bodoh tidak. Membawa persediaan minyak berarti menambah biaya. Lebih daripada itu, mereka membebani diri karena tangan yang satu membawa pelita sedangkan tangan yang lain membawa persediaan minyak. Di lain pihak, gadis-gadis yang bodoh mempunyai satu tangan yang tidak terpakai – artinya, tangan tersebut bebas untuk melakukan pekerjaan apa saja – karena mereka berpikir tidak perlu untuk membawa minyak lebih.

Seringkali, sekelompok orang Kristen mengerjakan sesuatu yang menurut kelompok Kristen lainnya dianggap berlebihan atau tidak perlu. “Kita sudah punya pelita dan minyak. Untuk apa lagi mesti bersusah-susah membawa persediaan? Bukankah hal itu menambah beban dan biaya? Belum lagi repotnya!” Berapa kali pikiran tersebut terlintas dalam benak kita waktu melihat orang lain melakukan sesuatu yang lebih ketimbang kita? Mungkin kita berpikir, “Perlukah itu?” Di sini kita akan mempelajari perlukah mengambil langkah tambahan dalam hidup kekristenan kita

Hidup untuk zaman yang akan datang

Orang bijaksana adalah mereka yang mempunyai persiapan untuk hari yang akan datang. Orang yang bodoh, sebaliknya, tidak mempedulikan hal itu. Mereka cukup puas dengan keadaan mereka sekarang ini. “Aku cukup menjadi orang Kristen yang biasa-biasa saja; selama hidupku cukup baik,” Yang dipikirkan hanyalah masa sekarang ini. Mereka hidup untuk zaman ini dan belum mempelajari untuk hidup bagi zaman yang akan datang. Bagaimana dengan hidup kita sendiri?

Perumpamaan ini mengajarkan kita tentang perintah yang jelas dan tepat bahwa hanya mereka yang telah membuat persiapan untuk masa yang akan datang. (walau konteks sebenarnya dari perumpamaan ini adalah persiapan untuk masuk kedalam perjamuan kawin). Tapi kita dapat mengambil makna pengajarannya untuk kehidupan kita, dihari ini, esok atau masa mendatang,

Jadi, apakah kita mengharapkan masa depan yang lebih baik dari sekarang? Pasti! Kita semua pasti mengharapkannya. Namun, persiapan apakah yang telah kita buat untuk menyambut masa depan? Apakah kita sudah menyiapkan sesuatu?

 Orang yang memiliki visi adalah orang yang sangat sensitf melihat hari ini dan hari esok serta mengambil tindakan.

 

Disadur dan dimodifikasi dari

http://www.cahayapengharapan.org/khotbah/perumpamaan/texts/158_perumpamaan_tentang_10_gadis.htm

http://en.wikipedia.org/wiki/Three_Little_Pigs

http://www.preceptaustin.org/matthew_commentaries.htm