Firman Tuhan: Nehemia 2.

Dalam bukunya, Seven Habits of Highly Effective People, Stephen R. Covey punya satu penekanan pada “pengaruh dari dalam keluar, bukan pengaruh dari luar ke dalam”. Artinya, manusia yang efektif adalah manusia yang dapat memberikan pengaruh dirinya kepada lingkungannya, daripada terpengaruh oleh situasi lingkungan ke dalam dirinya. Segala keputusan yang kita buat biasanya dipengaruhi oleh faktor-faktor dari luar maupun dari dalam diri kita.

Sebagai ilustrasi, ketika kita dihadapkan pada pilihan akan masa depan kita, misalnya saja “membuka usaha/bisnis”, “sekolah lagi”, “kerja dengan orang lain”, atau menjadi “pelayan Tuhan full time”, banyak pengaruh-pengaruh lingkungan yang menjadi pertimbangan kita. Misalnya saja kita mendapat saran dari orang lain bahwa “lebih baik sekolah lagi daripada membuka usaha”, karena dengan sekolah lagi, kita dapat lebih pintar dan peluang kerja dengan gaji tinggi terbuka lebar. Atau kita melihat rekan kita mengambil jalur pelayan Tuhan full time, dan ternyata dia sukses membawa jiwa-jiwa baru kepada Tuhan, dan itu menjadi rangsangan bagi kita untuk mengikuti jalan hidupnya. Mungkin ada rekan kita yang mengajak kita bekerja untuk orang lain dengan pertimbangan adanya jaminan akan mendapat gaji bulanan yang baik.

Banyaknya opini / pendapat akan jalan hidup mana yang lebih baik kita ambil, terkadang membuat kita limbung dan ragu untuk memutuskan. Dalam bukunya, Stephen Covey memberi satu konsep “mempengaruhi lingkungan dengan menggunakan pengaruh dari dalam diri sendiri.” Keputusan yang kita ambil, hendaknya didasari oleh alasan dan konsep yang kuat. Ini penting, karena tanpa dasar dan konsep yang kuat, keputusan yang kita ambil itu malah dapat menjadi bumerang,karena kita tidak sungguh-sungguh ingin mengabdikan hidup kita secara total kepada jalan hidup yang kita pilih.

Sayangnya, dalam bukunya, Stephen Covey tidak mengungkapkan secara eksplisit di mana peran Tuhan pada diri manusia pada saat ia hendak membuat keputusan.

Adanya campur tangan Tuhan atas keputusan seseorang untuk mengabdi terlihat pada kisah Nehemia. Pada Nehemia 2,  diceritakan bahwa terdapat 3 jenis pengaruh lingkungan yang dapat mempengaruhi pembangunan tembok Yerusalem. Pertama adalah “penolong”, yaitu raja (ayat 1). Kedua adalah “penghalang”, yaitu Sanbalat, orang Horon, dan Tobia, orang Amon, dan Gesyem, orang Arab (ayat 7). Ketiga adalah “sponsor / pendukung”, yaitu pengawas taman raja. Ketiga pengaruh ini harus disikapi oleh Nehemia sehingga tidak menjadi penghalang langkahnya untuk membangun kembali tembok kota Yerusalem yang telah hancur.

Pengaruh pertama datang dari raja, sebagai penolong. Mengapa raja dapat dianggap sebagai penolong? Dalam Nehemia 2 dikisahkan bahwa raja memperhatikan Nehemia yang murung.

bertanyalah ia kepadaku: “Mengapa mukamu muram, walaupun engkau tidak sakit? Engkau tentu sedih hati.” Lalu aku menjadi sangat takut (Neh. 2:2).

Nehemia menjadi sangat takut, karena dia tahu bahwa langkah pertama untuk mewujudkan keinginannya adalah mendapatkan izin raja. Tanpa perintah raja, Nehemia tidak memiliki kekuatan untuk pergi ke Yerusalem dan mempersiapkan pembangunan. Tetapi untuk mendapatkan izin raja, Nehemia harus bercerita tentang situasi kampung halamannya yang porak-poranda. Ini tentu merupakan satu kesulitan, karena berkaitan dengan daerah tempat para budak berasal. Raja dapat saja menghukum Nehemia karena curiga dia hendak membangun kekuatan bangsa Israel dan melawan raja. Tetapi waktu Tuhan tidak dapat ditolak. Raja pun memberikan izinnya. Sang raja memberi perintah kepada para bupati di seberang sungai Eufrat dan juga kepada Asaf, pengawas taman raja, yang memiliki kuasa untuk membantu menyediakan bahan baku pembangunan tembok.. Keluarnya izin raja ini diakui Nehemia karena tangan Allahku yang murah melindungi aku. ( ayat 8 )

Sesampainya di Yerusalem, Nehemia bukannya mendapat kemudahan, tetapi mendapat olok-olok dari Sanbalat, orang Horon, dan Tobia, orang Amon, dan Gesyem, orang Arab. Mereka menuduh Nehemia hendak memberontak kepada raja dengan adanya pembangunan tembok,

Ketika Sanbalat, orang Horon, dan Tobia, orang Amon, pelayan itu, dan Gesyem, orang Arab, mendengar itu, mereka mengolok-olokkan dan menghina kami. Kata mereka: “Apa yang kamu lakukan itu? Apa kamu mau berontak terhadap raja?” (Neh. 2:19).

Jika ditelusuri pada pasal-pasal setelah pasal 2 ini, orang-orang yang tidak menyukai pembangunan tersebut juga melakukan fitnah, dan juga nubuatan palsu bahwa pembangunan akan gagal. Tetapi kemurahan Tuhan meloloskan Nehemia dari semua halangan tersebut. Dan Nehemia, sang juru minuman raja berhasil menggerakkan orang-orang Yahudi yang ada di kampung halamannya untuk membangun. Caranya adalah dengan menceritakan bagaimana Tuhan bermurah hati menolong Nehemia membuka jalan bagi pembangunan tersebut. “Kami siap untuk membangun!”

Ketika kuberitahukan kepada mereka, betapa murahnya tangan Allahku yang melindungi aku dan juga apa yang dikatakan raja kepadaku, berkatalah mereka: “Kami siap untuk membangun!” Dan dengan sekuat tenaga mereka mulai melakukan pekerjaan yang baik itu.(Neh. 2:18)

Kami siap membangun !!!

sumber gambar

Untuk mendukung pembangunan, Nehemia juga diberikan surat dari raja kepada Asaf, pengawas taman raja, untuk menyediakan bahan baku pembangunan. Tidak banyak dikisahkan mengenai halangan untuk mendapatkan bahan baku bangunan. Tetapi jika dukungan bahan baku ini tidak didapat, maka sia-sialah perjalanan Nehemia ke Yerusalem.

Nehemia tidak terlahir sebagai pemimpin. Dia adalah juru minuman raja. Namun, Di sinilah pengaruh Tuhan dalam membentuk Nehemia sebagai pemimpin. Tuhan bermurah hati melancarkan urusan-urusan Nehemia, dari mengusahakan sebuah izin raja sebagai awal dari pembangunan sampai kepada selesainya tembok Yerusalem tersebut. Ini tentu tugas yang amat berat, karena di tangan rajalah semua keputusan kerajaan diambil. Nehemia bukan orang berpengaruh, tetapi kemurahan Allahlah yang membuatnya menjadi pemimpin yang berpengaruh. Allah sanggup menggerakkan hati orang-orang yang kita anggap sulit ditaklukkan, asalkan itu sesuai dengan kehendak-Nya.  AKP@NP

Kemurahan Allah sanggup membuat  Anda  yang merasa bukan pemimpin, menjadi pemimpin yang berpengaruh!