KING WITHOUT A CROWN (RAJA TANPA MAHKOTA)

Peristiwa-peristiwa dalam perlombaan di Olimpiade telah mencatatkan banyak hal dalam sejarah umat manusia. Olimpiade telah menjadi ajang bagi setiap manusia yang memiliki dedikasi untuk negara dan olahraga yang digelutinya, untuk mencatatkan prestasi-prestasi yang terbaik. Namun bukan hanya itu, peristiwa-peristiwa yang diluar dugaan seringkali juga terjadi dalam ajang perlombaan tingkat dunia ini. Peristiwa-peristiwa ini begitu menggugah jiwa setiap orang yang melihatnya, sehingga menjadi suatu rekaman dunia yang teringat oleh setiap generasi, bahkan melebihi kisah pemenang perlombaan itu sendiri. John Stephen Akhwari adalah salah satu orang yang membuat kisah luar biasa tersebut.

Saat itu adalah perlombaan marathon pada Olimpiade tahun 1968 yang diselenggarakan di Mexico. Perlombaan telah berakhir, dan pemenang 1, 2 dan 3 telah ditentukan. Tidak ada lagi yang bisa ditonton di arena, keputusan pemenang telah diumumkan, dan nampaknya tidak ada sesuatu yang spesial dalam perlombaan tersebut. Penonton perlombaan tersebut mulai meninggalkan stadion satu demi satu, dan bangku stadion sudah mulai kosong. Diantara keriuhan penonton yang sudah mulai meninggalkan stadion, tiba-tiba mereka dikejutkan dengan adanya satu pengumuman. Akan ada satu pelari yang masuk ke stadion, itulah isi pengumuman itu. Penonton yang ada terkagetkan dengan pengumuman itu. Tidak ada lagi hal yang bisa mengubah keputusan perlombaan, semua sudah diakhiri dan tidak perlu lagi untuk mengakhiri perlombaan yang memang sudah berakhir. Mereka melihat ke jalur lari, dan mereka melihat seorang pelari yang memasuki stadiun dengan keadaan terluka. Pelari ini berlari masuk ke stadion dengan terpincang-pincang dan dengan balutan di kaki kanannya.

John-stephen-akwari

John Stephen Akwari

Seperti digerakkan oleh semangat sang pelari, semua penonton berdiri, memberikan standing ovation dan berteriak mendukung sang pelari untuk memasuki garis finish. Suara– suara para penonton tetap bergemuruh hingga sang pelari menapakkan kakinya di garis finish. Dia adalah pelari terakhir dalam perlombaan itu. Dia memasuki stadiun saat hari hampir malam. Nama pelari itu adalah John Stephen Akhwari, pelari yang mewakili Tanzania dalam ajang olimpiade tersebut. Dia cedera di tengah-tengah perlombaan karena terjatuh, dan menyebabkan betis serta lututnya terluka. Namun dengan luka itu dia mengakhiri perlombaan yang berjarak 42.195 km.

Setelah perlombaan, wartawan menanyakan hal ini kepadanya. Suatu hal yang aneh di masa itu, bahkan masa kini, untuk tetap mengakhiri perlombaan yang sudah tidak mungkin dimenangkan lagi. Mereka menyanyakan mengapa dia tidak menyerah saja, dan dia hanya menjawab dengan satu kalimat yang sangat bermakna;

My country didn’t sent me 5000 miles to start the finish, but they sent me 5000 miles to finish the race”

Negaraku tidak mengirimku sejauh 5000 mil untuk memulai suatu pertandingan, namun mereka mengirimku sejauh 5000 mil untuk menyelesaikan pertandingan ini.”

John Stephen Akhwari mungkin bukanlah pemenang 1, 2 maupun 3 dalam perlombaan tersebut, tetapi yang pasti dia adalah pemenang dalam arti yang sesungguhnya. Dia mungkin terluka dan cidera dalam perlombaan tersebut, namun dia memiliki hati seorang atlet yang sempurna. Dia telah memilih prioritasnya, yaitu menyelesaikan perlombaan dan dia memfokuskan dirinya sebegitu rupa sehingga dia dapat mencapainya. Dia telah memilih bagian terbaiknya, dan dia menyelesaikannya dengan kebanggaan yang tidak akan dapat dia dapatkan hanya dari gelar pemenang 1, 2 maupun 3. Memilih prioritasnya dan fokus terhadap prioritas hingga tergenapi, itulah kunci dari keberhasilannya. Dan tentu saja, walaupun rekor pemenang olimpiade untuk marathon tahun 1968 mungkin bukan John Stephen Akhwari, namun kisahnya telah menjadi kemenangan tersendiri dan menjadi inspirasi segala jaman. Mereka menjulukinya King without a crown atau raja tanpa mahkota.

MARIA DAN MARTA

Lukas 10:38–42 menceritakan sebuah kisah yang sudah sering kita dengar di gereja. Kisah tentang dua saudara yang bernama Maria dan Marta. Diceritakan bahwa pada waktu itu mereka berdua mengundang Yesus untuk datang ke rumah mereka. Disaat Marta tersibukkan dengan berbagai hal, Maria duduk di kaki Yesus dan mendengarkan setiap perkataanNya. Tentu saja Marta merasa jengkel, dan meminta Yesus untuk menyuruh Maria membantunya. Lukas 10:41–42 menceritakan sesuatu yang sangat berbeda dengan pemikiran Marta;

 

Maria, Marta dan Yesus

 

“Tetapi Tuhan menjawabnya: “Marta, Marta, engkau kuatir dan menyusahkan diri dengan banyak perkara,tetapi hanya satu saja yang perlu: Maria telah memilih bagian yang terbaik, yang tidak akan diambil dari padanya.”

 

 

Bagaimana jika anda di posisi Marta saat itu? Jengkel? tersinggung? merasa iri? merasa pekerjaannya tidak dipedulikan oleh Tuhan? Yang pasti injil Lukas tidak menyatakan apapun kelanjutan dari cerita ini, namun kita tahu bahwa setiap orang dapat belajar dari cerita ini. Bukankah cerita ini adalah cermin terbaik bagi kita yang seringkali dengan sangat “aktif” melayani di gereja. Apakah pekerjaan yang dilakukan Marta adalah pekerjaan yang salah dilakukan?

Jika kita membaca baik-baik ayat yang terkutip di atas, bukanlah pekerjaan Marta yang salah, namun sikapnya dalam menghadapi pekerjaan-pekerjaan itu. Tidak ada yang salah dalam pekerjaan yang dilakukan Marta, namun apakah pekerjaan itu adalah pekerjaan yang tepat untuk Marta lakukan saat itu? Apakah tujuan dari mereka mengundang Yesus ke rumah mereka, bukankah untuk mendengarkan firmanNya, bukankah untuk mendengar perkataanNya? Marta tidak mengambil prioritas yang seharusnya dia ambil. Dia tersibukkan dengan prioritas-prioritas lain, sehingga prioritas utama yang harusnya dia kerjakan menjadi terlupakan. Dan akhirnya dia terjebak dalam prioritas-prioritas itu dan menjadi khawatir terhadap penyelesaiannya.

Prioritas memiliki arti yang didahulukan atau diutamakan daripada yang lain. Sekarang apakah prioritas dalam kehidupan kita? uang? keluarga? kekasih? pendidikan kita? ataukah Tuhan Yesus. Bukankah saat kita mengaku bahwa kehidupan kita berpusat pada Kristus maka sesungguhnya kehidupan kita hanya memiliki satu prioritas, yaitu Kristus dan kehendakNya. Anda tidak dapat membidik sesuatu dengan senjata apapun, saat anda tidak memiliki prioritas dalam kehidupan anda. Fokus mengikuti dan menajamkan prioritas, namun tidak sebaliknya. Tanpa prioritas, anda tidak akan bisa memfokuskan diri anda pada apapun. Maria bukanlah gambaran kekristenan yang malas. Yang hanya duduk dan mendengarkan firman saja. Bukan!! Maria mengambil prioritas yang tepat pada waktu tersebut, dan dia memfokuskan dirinya untuk mendengarkan firman Tuhan sebagai prioritas hidupnya. maria telah mengambil bagian yang terbaik, yang tidak akan diambil daripadanya. Masalahnya, apakah anda sudah melakukan hal yang sama? Seringkali kita tersibukkan dengan pelayanan di gereja yang begitu banyak, dan berpikir “ Ah, pasti Tuhan mengerti hal ini, karena aku juga melakukan hal ini untukNya”. Seringkali kita begitu disibukkan dengan berbagai pelayanan hingga kita melupakan waktu-waktu kita yang harusnya kita lalui bersama dengan Tuhan, dan kita mencoba membenarkan diri kita karena kita melakukan pekerjaan Tuhan. Jika anda masih melakukan hal ini, saya memiliki satu kabar untuk anda…. Yesus datang ke dunia karena mengasihi kita, dan bukan pekerjaan-pekerjaan kita….

John Stephen Akhwari mengajarkan kita suatu hal yang penting dalam kehidupan. Pilihlah prioritas yang benar dan tetapkan langkah untuk fokus dalam hal itu. Dia tidak terpengaruh dengan keadaannya dan tidak menjadi khawatir serta berhenti. Dia memfokuskan dirinya pada garis akhir, dan mengakhirinya dengan sempurna. Kisah Maria, Marta serta Yesus memberikan pelajaran yang lebih penting lagi, yaitu apakah anda telah mengambil prioritas yang benar? Apakah anda telah mengambil bagian yang terbaik? Tetapkan tujuan dan prioritas anda bersama Tuhan dan tetapkan hati untuk tetap melangkah. Tetaplah hidup dalam kebenaran dan bertumbuhlah dalam keserupaan dengan Kristus. Tuhan memberkati!!

Disadur dari berbagai sumber..