Dalam artikel Menerima tanggungjawab, telah dijelaskan arti kata tanggung jawab. Sifat atau karakter bertanggung jawab adalah karakter yang seharusnya dimiliki oleh setiap orang. Orang pertama yang harus memberi contoh atau teladan agar tiap orang memiliki karakter tanggung jawab, adalah seorang pemimpin! Dan pada dasarnya, pemimpin pertama tiap anak manusia adalah orang tua.

Dalam bukunya, Finishing Strong (Menyelesaikan dengan berkualitas), Steve Farrar mengungkap fakta bahwa pemimpin Kristen yang mengakhiri perjalanannya dengan baik tidak lebih dari 20 persen. Dalam dua tahun saja, ada 249 pemimpin Kristiani yang berjatuhan karena tersandung masalah moral, uang, dan penyalahgunaan kekuasaan. Maka benarlah kalimat pepatah dari John Heywood yang dipopulerkan oleh Shakespeare dalam karya All’s Well That Ends Well pada tahun 1601, yang berarti: suatu hal dinyatakan berhasil bila mendapatkan hasil akhir yang berhasil pula.

Abraham Kuyper

Apakah tidak ada kisah sukses seseorang menjadi pemimpin Kristen yang bertanggung jawab hingga tuntas? Abraham Kuyper! Abraham Kuyper (1837-1920) adalah salah seorang tokoh besar yang berhasil mempengaruhi sejarah manusia. Semasa hidupnya ia pernah menjadi seorang pendeta, reformator gereja, editor surat kabar, theolog, anggota parlemen, pemimpin partai politik, profesor, rektor universitas, dan perdana menteri Belanda. Sebagai pemimpin Kristen, dia berpandangan: “There is not a single inch of the whole terrain of our human existence over which Christ… does not cry, Mine!” (Tidak ada satu inchi pun dalam area keberadaan kita sebagai umat manusia dimana Kristus tidak berseru, KEPUNYAANKU!) Artinya, Kuyper menyadari dan mengakui bahwa setiap langkahnya sebagai pemimpin Kristen dan sekaligus pemimpin negara Belanda waktu itu, selalu berdasarkan pada tanggung jawabnya kepada Kristus, Sang pemilik hidupnya.

Bagaimana dengan tokoh hamba Allah dalam Alkitab yang melakukan pekerjaannya hingga tuntas? Sedikitnya ada dua tokoh Alkitab yang dapat kita teladani sepak terjangnya, yaitu Rasul Paulus dan Nehemia. Paulus dalam suratnya yang kedua kepada Timotius dengan mantap berkata, “Aku telah mengakhiri pertandingan yang baik, aku telah mencapai garis akhir dan aku telah memelihara iman.” (II Timotius 4:7) Yang dimaksud oleh Paulus adalah bahwa perjalanan hidup kita ini lebih mirip seperti lomba lari marathon daripada lomba lari jarak pendek. Dalam lari marathon, kita menempuh jarak 42 km. Dibutuhkan bukan hanya tubuh yang sehat dan kuat tetapi juga keteguhan hati untuk bisa mencapai garis akhir dalam lari maraton. Hanya orang yang mempunyai tekad dan keteguhan hati bisa mencapai garis akhir.

Nehemia menjadi Bupati Yehuda selama 12 tahun sebelum akhirnya ditarik kembali ke  Istana Persia menduduki jabatan semula sebagai juru minuman raja. Dalam kesaksiannya, Nehemia menyatakan selama menjabat bupati, ia tidak pernah mengambil insentif yang menjadi haknya, yakni penghasilan dari ladang inventaris (Jawa: bengkok) maupun pungutan dari rakyat untuk biaya konsumsi tamu pemerintah daerah.  Nehemia berlaku demikian karena rasa tanggung jawabnya yang besar terhadap kemakmuran dan kesejahteraan bangsa Yehuda. Sebab, kejayaan dalam konteks Perjanjian Lama (PL) adalah kemakmuran dan kesejahteraan yang dijanjikan Tuhan bagi keturunan Abraham, Ishak, dan Yakub. Bagi Nehemia, dimana pun dia berada, ketika Tuhan memanggilnya, dia akan menjawab ‘Ya’ akan panggilanNya, melakukan pekerjaanNya dengan setia, dan mengakhirinya dalam sempurna.

Referensi: