Suatu ketika di musim dingin yang panjang, Jenderal George Washington (USA) meninjau pasukannya di perbatasan yang jauh dari pusat.

Ketika sampai di daerah tersebut, Washington melihat di dekat benteng, di pinggir parit, sekelompok tentara sedang berusaha menarik keluar kereta yang berisi kayu-kayu berat yang terperosok ke dalam parit.

Ia melihat si Kopral berteriak dengan lantangnya, “Tarik…! Ayo tarik ke atas, mana tenaga kalian?? Ayo tarik lebih kuat lagi!” Kopral itu berteriak-teriak dengan keras, tanpa memberikan bantuan kepada anak buahnya.

Kereta berulang kali hampir keluar, tapi kemudian terperosok kembali. Si kopral dengan nada kecewa berteriak, “AYO! Jangan loyo!! Cepaat..! Satu, dua, tiga! Ayo dorong yang kuat!!”

Melihat kondisi tersebut, Washington segera berlari membantu dan berjuang sekuat tenaga sampai akhirnya kereta bisa dikeluarkan dari parit.

Washington segera berkata kepada Kopral tersebut, “Mengapa Anda tidak menolong mereka, padahal Anda tahu mereka sangat membutuhkan bantuan tenaga?”

Kaget dihardik oleh orang yang tidak dikenalnya, sang Kopral menjawab ketus, “Mengapa saya harus membantu mereka?! Tidak tahukah Anda, bahwa Anda sedang berbicara dengan seorang Kopral?”

Washington menjawab, “Tentu saya mengetahui Anda seorang kopral (sambil membuka mantel,terlihat seragam Jenderalnya) dan saya hanyalah pimpinan tertinggi di negara ini. Nah, jika lain kali Anda membutuhkan pertolongan saya untuk mendorong kereta berat keluar dari parit, saya dengan senang hati akan menolong.”

Si Kopral langsung pucat pasi dan dengan segera memohon maaf kepada sang jenderal bijak tersebut.

Washington memberikan contoh bahwa seorang pemimpin haruslah seorang yang siap memberikan PENGORBANAN yang tertinggi, ia selalu berada di garis terdepan MEMBELA pengikutnya, menanggung RESIKO yang paling berat, selalu mengupayakan SOLUSI, bukan PERINTAH dan caci maki. Ketika mendapat penghargaan, ia memberikan kreditnya kepada para pengikutnya dan bukan kepada dirinya sendiri.

***

Dalam suatu seminar kepemimpinan, didapati sebuah kesimpulan bahwa menjadi seorang pemimpin bukanlah hal yang mudah. Diperlukan hikmat dan juga bakat-bakat tertentu jika ingin menjadi seorang pemimpin yang berhasil. Salah satu kemampuan yang harus dimiliki oleh seorang pemimpin adalah pandai berkomunikasi dengan setiap orang yang memiliki karakter yang berbeda-beda dan bagaimana mengharmoniskan mereka dalam satu tim sehingga tujuan yang telah disepakati bersama itu tercapai. Itu berarti bahwa untuk menjadi seorang pemimpin yang baik, tidak hanya dibutuhkan kecakapan dalam memimpin tetapi juga kecakapan dalam membimbing.

Hal ini sangat penting untuk kita ketahui karena pada kenyataannya ada begitu banyak orang yang hanya bisa memimpin tetapi tidak bisa membimbing. Bagi orang yang masuk dalam kategori yang demikian, biasanya mereka cenderung memimpin tanpa beban/tujuan, semena-mena/otoriter sehingga orang yang dipimpinnya mentaatinya bukan karena setuju dengan perintahnya melainkan karena takut. Hingga pada akhirnya kepemimpinan yang ia lakukan akan berakhir dengan menyedihkan. Hal ini sudah terbukti melalui fenomena-fenomena yang ada di dunia ini. Ada begitu banyak negara yang hancur karena pemimpinnya kurang bijaksana dalam memimpin negaranya.

Sebagai pemimpin rohani kita tidak hanya dituntut untuk memimpin tetapi juga membimbing/mengarahkan saudara-saudara kita kepada kebenaran sesuai dengan firman Tuhan.

Bagaimanakah caranya agar kita dapat menjadi seorang pemimpin sekaligus pembimbing yang baik?

1. Kasih dan kelemah-lembutan

Sebuah teladan yang baik dapat kita temukan dalam kepemimpinan Tuhan Yesus. Pelayanan yang dilakukan-Nya dipenuhi oleh tantangan terutama dari Mahkamah Agama. Ketika Ia harus menyuarakan kebenaran tentang siapakah sebenarnya Mesias yang telah dinubuatkan, mereka menentang dengan keras. Tetapi Tuhan tetap berusaha untuk membuat mereka mengerti. Bahkan ketika Ia diperhadapkan dengan kedegilan hati para pemuka agama, ia menegur mereka dengan keras dan bukan kasar. Ketika Ia mendapati ketidaksesuaian antara ajaran dan perbuatan mereka, Yesus mencela perbuatan mereka, bukan membenci mereka.

Bahkan ketika murid-murid-Nya lamban untuk mengerti, Tuhan Yesus tetap sabar dan terus membimbing mereka. Para penulis kitab PB memberikan kesaksian kepada kita bagaimana bimbingan Tuhan yang dilandasi oleh kasih dan kelemahlembutan itu itu telah mengubah karakter buruk murid-murid-Nya. Dari seorang Petrus yang penuh emosi menjadi seorang Petrus yang empati. Dari Yohanes yang egois dan penuh ambisi menjadi seorang Yohanes yang penuh kasih dan rendah hati, dan masih banyak lagi. Melalui teladan Yesus ini, kita melihat bahwa pembimbingan yang dilakukan dalam kasih dan kememahlembutan membawa kebangunan dalam diri seseorang yang kita bimbing.

2. Motivasi yang tulus
Berbicara mengenai motivasi yang tulus, nasihat Salomo dalam Amsal 27:5-6 berbunyi demikian “Lebih baik teguran yang nyata-nyata daripada kasih yang tersembunyi. Seorang kawan memukul dengan maksud baik, tetapi seorang lawan mencium secara berlimpah-limpah.” Itu berarti ketika kita mendapati saudara kita sedang berbuat dosa/kesalahan maka kita berkewajiban untuk menegurnya dengan tujuan demi kebaikannya bukan karena kita ingin memojokkannya atau membuatnya merasa bersalah.

Saudaraku yang kekasih, sekali lagi, kemurnian atau motivasi yang tulus sangatlah penting untuk kita miliki ketika kita saling membimbing satu sama lain. Karena kita semua tidak akan pernah cukup untuk mengenal diri kita melalui kacamata kita sendiri. Kita membutuhkan orang lain untuk mengoreksi kita, untuk membimbing kita sehingga kita dapat bertumbuh. Oleh karena itu, marilah kita melakukannya dengan motivasi yang tulus sehingga pembimbingan yang kita lakukan itu benar-benar dapat membangun saudara kita.

***

John Maxwell dalam salah satu buku kepemimpinannya mengatakan demikian, “Lebih mudah bagi kita untuk mengkritik seseorang daripada membimbingnya.” Saya setuju dengan pernyataannya ini, karena membimbing berarti mengkritik sekaligus mengarahkan saudara kita kepada hal-hal yang baik. Bahkan lebih dari itu, didalam membimbing berarti kita juga memberikan kesempatan kepada saudara kita untuk kemudian secara perlahan-lahan menjadi sebagaimana mestinya. Ada kesabaran dan usaha keras dari kedua belah pihak.

Namun, sebagaimana nasihat Paulus kepada Timotius, yang membuat konsep kepemimpinan sekuler berbeda dengan konsep kepemimpinan Kristen adalah adanya kasih persaudaraan dan kelemahlembutan serta motivasi yang tulus yang mendasari semuanya itu. Dengan demikian, kita tidak hanya menjadi seorang pemimpin dan pembimbing yang baik saja melainkan juga yang dikehendaki oleh Tuhan demi pertumbuhan kerohanian kita bersama. Amin.

Referensi:
http://www.andriewongso.com/artikel/artikel_anda/4012/Pemimpin_Sejati/
http://sumberkristen.com/Mimbar%20Gereja/Mimbar%20Gereja%2013/responsibilities.htm