Tanggung jawab menurut kamus umum bahasa Indonesia:

– keadaan wajib menanggung segala sesuatunya

– berkewajiban menanggung, memikul jawab, menanggung segala sesuatunya, atau memberikan jawab dan menanggung akibatnya.

Tanggung jawab adalah kesadaran manusia akan tingkah laku atau perbuatannya yang disengaja maupun yang tidak disengaja. Tanggung jawab juga berarti berbuat sebagai perwujudan kesadaran akan kewajibannya.

Seorang pekerja mempunyai kewajiban bekerja. Bila bekerja, maka hal itu berarti ia telah memenuhi kewajibannya. Berarti pula, ia telah bertanggung jawab atas kewajibannya. Sudah tentu bagaimana kegiatan bekerja si pekerja, itulah kadar pertanggung jawabannya. Bila si pekerja bekerja mencapai target 75%, 90 %, 100% dari yang diinginkan perusahaan, itulah kadar pertanggungjawabannya.

Bila si pekerja malas bekerja, dan ia sadar akan hal itu. Tetapi ia tetap tidak mau bekerja dengan alasan capek, segan, tidak senang dengan pekerjaannya, dan lain-lain. Padahal dia akan mendapatkan upah dari pekerjaannya. Ini berarti bahwa si pekerja tidak memenuhi kewajibannya, berarti pula ia tidak bertanggung jawab.

Dalam bahasa Inggris, kata tanggung jawab diterjemahkan menjadi “responsibility”. Kata ini terdiri dari 2 bagian yaitu “response” dan “ability”. Apabila diartikan dalam bahasa Indonesia, “The ability to choose your response” ini bermakna “kemampuan untuk memilih respons anda / kemampuan Anda untuk merespons”.

Melalui cerita Nabi Yesaya (Yesaya 6:1-11), ada 2 hal yang dapat kita pelajari tentang kesediaan Yesaya.

Yang pertama ialah kenyataan bahwa Tuhan telah menghargai, memilih bahkan mengampuninya. Ia sadar tanpa itu ia tidak bermakna sama sekali (ayat 5-7). Yang kedua ialah kecintaannya terhadap kotanya, negerinya, bangsanya. Ia berada ditengah ketegangan antara berita penghukuman yang harus disampaikannya dengan hasratnya agar kota, negeri dan bangsanya dipulihkan (ayat 11). Yesaya mengambil tanggung jawab yang diberikan Tuhan di ayat 8 (“Ini aku, utuslah aku”).

Dengan melihat cerita kehidupan Nehemia, kita juga dapat melihat kemiripan dengan Nabi Yesaya. Neh. 1:6-7 menuliskan bagaimana Nehemia melihat dirinya dan orang Israel di hadapan Tuhan. Kemudian, Nehemia juga menunjukkan kecintaannya terhadap kotanya, negerinya, saudara-saudaranya, bangsanya. (Neh 1:8-10). Dan, Nehemia juga menunjukkan kesiapan untuk mengambil tanggung jawab ini seperti yang dikatakan di dalam doanya (ay. 11).

Tanpa kesadaran akan betapa berharganya kita di mata Tuhan, serta kecintaan kita akan dunia, lingkungan dan masyarakat yang Tuhan karuniakan bagi kita, tidak mungkin kita dapat mendedikasikan diri untuk menjadi pelayan-Nya. Tanpa yang pertama kita tidak ada bedanya dengan “LSM”. Tanpa yang kedua kita terjebak dalam pemakaian ungkapan “terbeban” dan sejenisnya. Kiranya ini menjadi cermin yang menentukan bagi kita jemaat Tuhan dan warganya dalam memberikan respons atas panggilan Tuhan kepada kita.

“Siapakah yang akan Kuutus, dan siapakah yang mau pergi untuk Aku?” Maka sahutku: “Ini aku, utuslah aku!”