Pendahuluan
Menjadi pemimpin sukses namun memiliki hati seorang pelayanan adalah impian semua orang. Pada kenyataannya kita dapat menemukan beberapa pemimpin besar namun tidak memiliki hati untuk menjadi pelayan. Hal tersebut dapat kita lihat dari kedekatan pemimpinan tersebut dengan bawahannya. Pemimpin seperti itu dapat dikatakan membangun relasi kepemimpinan secara otoriter. Larry C. Spears dalam bukunya Character and Servant-Leadership : Ten Characteristics of Effective, Caring Leaders, menyebutkan ada 10 karakter yang dimiliki oleh seorang pemimpin yang memiliki hati melayani. Kesepuluh karakter tersebut saling membangun dan saling berhubungan satu dengan yang lainnya sehingga membuat sang pemimpin tersebut menjadi pemimpin yang berhasil. Salah satu dari 10 karakter tersebut adalah karakter persuasi.

Apa yang dimaksud dengan persuasi?
Ketika anda berpikir tentang persuasi, apa yang terlintas dalam pikiran kita? Beberapa orang mungkin berpikir pesan iklan yang mendorong pemirsa untuk membeli produk tertentu, sementara orang lain mungkin berpikir tentang kandidat politik yang sedang mempengaruhi pemulih untuk memilihnya di kotak suara. Persuasi adalah kekuatan yang kuat dalam kehidupan sehari-hari dan memiliki pengaruh besar pada masyarakat secara keseluruhan. Baik dalam politik, keputusan hukum, media massa, berita dan iklan semua dipengaruhi oleh kekuatan persuasi, dan mempengaruhi kita juga.
Ketika kita berpikir tentang persuasi, kesan dan contoh negatif sering muncul dibenak kita. Namun pada hakikatnya persuasi juga dapat digunakan sebagai kekuatan positif. Contohnya, kampanye pelayanan publik yang mendorong orang untuk mendaur ulang atau berhenti merokok adalah contoh besar persuasi yang digunakan untuk meningkatkan kehidupan masyarakat. Jadi, apakah sebenarnya persuasi? Menurut Perloff, persuasi dapat didefiniskan sebagai sebuah proses dimana komunikator (seseorang) mencoba untuk meyakinkan orang lain untuk mengubah sikap atau perilaku mereka tentang masalah melalui transmisi/penyampaian pesan dalam suasana pilihan bebas.

Persuasi sangat penting dimiliki oleh seorang pemimpin yang mau memiliki hati seorang pelayan. Persuasi merupakan karakter mutlak yang harus dimiliki bukan hanya sebagai seorang pemimpin tetapi bagi orang yang ingin memberikan pengaruh dan perubahan yang baik bagi seseorang, kelompok atau masyarakat. Melalui persuasi seseorang dapat membimbing diri sendiri atau orang lain maupun kelompok ke arah pengapdosian ide, sikap atau tindakan dengan rasional dan sadar.

Gaya kepeminpinan persuasi yang baik telah dipelajari dan digunakan oleh pemimpin atau tokoh-tokoh besar. Salah satu tokoh keristen Indonesia yang berhasil dengan gaya kepemimpinan persuasinya adalah Romo Mangun. Yusuf Bilyarta Mangunwijaya, atau Romo Mangun, adalah seorang rohaniawan terkenal sekaligus sebagai tokoh masyarat yang sangat dihormati. Romo Mangun sangat terkenal dengan karya arsitektural di Kali Code. “Pembangunan tersebut tidak sebatas pembangunan fisik, tapi sampai pada fase memanusiakan manusia” tutur Romo Mangun, yang dikenal juga sebagai bapak dari masyarakat “Girli” (pinggir kali). Penataan lingkungan di Kali Code itu pun membuahkan The Aga Khan Award for Architecture pada tahun 1992. Tiga tahun Ia kembali mendapatkan penghargaan dari Stockholm, Swedia, The Ruth and Ralph Erskine Fellowship Award untuk kategori arsitektur demi rakyat yang tak diperhatikan.

Romo Mangun dikenal orang sebagai seorang romo yang dipakai Allah secara luar biasa hebatnya, Romo Mangun hanya dikenal orang dari karya-karyanya yang sungguh baik dan menakjubkan. Namun justru sedikit orang yang menyadari bahwa dibalik itu ada satu factor lain yang membuat ia berhasil, yaitu ia sangat dekat dan membaur dengan masyarakat. Dengan hal itulah Romo Mangun dapat meyakinkan dan mengajak masyarakat yang tinggal dipinggiran Kali Code untuk memperbaiki pemukiman mereka. Romo Mangun tidak bekerja sendiri, justru beliau mengajak semua lapisan masyarakat dalam menjalankan tugas panggilan yang diberikan Allah baginya. Romo Mangun dengan hikmat dari Tuhan dapat mengajak masyarakat untuk ikut bergabung dalam visi pembangunan kali Code.

Bagaimana strategi persuasi Nehemia.
Nehemia mengungkapkan seluruh keberadaan dirinya dan strateginya di dalam catatan hariannya, yang tergabung dalam sebuah kitab Nehemia. Semenjak ia mendengar berita tentang tembok Yerusalem yang telah rusak terbongkar, pintu-pintu gerbang yang terbakar dan penduduknya yang sedang menderita tekanan batin serta perasaan malu, berita itu dirasakan Nehemia sebagai pukulan jasmani sehingga selama beberapa hari ia menangis, berkabung, berpuasa dan berdoa (1:4). Allah membuka hati Nehemia terhadap tragedi bangsanya, tragedi yang makin mencemarkan nama Allah. Allah memberikan kemampuan kepadanya untuk dapat merasakan apa yang memprihatinkan Allah dan tertarik masuk ke dalam jalur yang mengarah ke tujuan Allah. Nehemia berdoa dan mengakui dosa bangsa-bangsanya, ia memiliki rasa turut bertanggung jawab bahkan tidak mempedulikan nasib dirinya sendiri sementara ia memohon bagi bangsanya. Allah memakai kehidupan doa Nehemia yang aktif untuk membentuk dia menjadi seorang pemimpin yang saleh dan takut akan Tuhan.

Dalam pasal 2, Nehemia adalah orang yang cepat bertindak, segera setelah ia mendapat persetujuan raja mengenai rencananya, dia merundingkan segala perlengkapan yang diperlukan, mengatur keselamatan perjalanan itu, menyusun rencana masa yang akan datang, mengerahkan tenaga kerja yang besar dan membagi proyek pekerjaan masal yang sangat besar itu ke dalam unit-unit yang mudah ditangani. Ada 3 unsur yang menjadikan segalanya tertib yaitu :
1. Pikirannya mengarah ke masa depan dalam doanya (2:1-10)
2. Melakukan dulu penyelidikan yang cermat mengenai situasi (2:11-16)
3. Tugasnya memberi motivasi kepada orang-orang sebelum menyerahkan pekerjaan itu (2:17-18)

Nehemia adalah pemimpin yang baik, pemimpin yang baik melakukan penelitian sendiri. Tiga hari setelah tiba di Yerusalem, ia pergi pada malam hari untuk melakukan penyelidikan secara rinci mengenai tembok itu. Amanatnya kepada penduduk Israel dalam 2:17-18 menunjukkan bahwa ia sungguh ahli dalam segala kesederhanaan serta ketegasannya. Ada empat unsur kecakapan persuasi yang ditunjukkan oleh Nehemia, yaitu :
1. Kepekaan batin untuk mempersamakan diri yang menjalar kepada orang lain.
2. Pengakuan mengenai keadaan Yerusalem yang sudah sangat gawat – ”kemalangan” yaitu kehancuran kota Yerusalem sebagai objek yang ingin dilihat bersama.
3. Permintaan untuk mengambil langkah khusus – membagikan visi dan rencana pembangunan kembali tembok Yerusalem.
4. Kesaksian pribadi akan pertolongan Allah dalam hidupnya.
Dalam keempat unsur inilah kita dapat melihat kecakapan atau strategi persuasi Nehemia.dari keempat unsur inilah Nehemia mempengaruhi masyarakat Yerusalem. “… Kamu lihat kemalangan yang kita alami, ..Mari, kita bangun kembali tembok Yerusalem, supaya kita tidak lagi dicela.” (17). Nehemia berusaha meyakinkan masyarakat untuk ikut bersama-sama dengan dia. Kita dapat melihat bagaimana respon masyarakat atas ajakan Nehemia “..Kami siap untuk membangun!” Dan dengan sekuat tenaga mereka mulai melakukan pekerjaan yang baik itu.(18).

Nehemia seorang pemimpin yang memimpin bukan seseorang yang hanya mendorong dari belakang, ia bukan hanya mempersamakan dirinya dengan bangsanya melainkan juga memimpin dengan menjadi teladan. Dan ia memanggil mereka untuk ikut dengan dia. Nehemia benar-benar memberdayakan semua lapisan masyarakat untuk ikut bergabung dalam visinya. Hal itu dapat juga dilihat dari bagaimana Nehemia membagikan tugas-tugas pekerjaan kepada orang-orang lain dan ia sendiri pun ikut serta mengerjakannya. Nehemia mendelegasikan, menyerahkan wewenang serta tanggung jawab dan membagi-bagikan pekerjaan. Paling sedikit ada tiga puluh sembilan kelompok pekerja yang terlibat dalam pekerjaan itu.

Penutup
Sebagai seorang hamba kita harus memiliki kecakapan persuasi, yaitu bagaimana kita dapat mempengaruhi orang-orang disekitar kita agar dapat terbeban juga dengan apa yang kita lihat dan akan kita lakukan. Membangun kesepakatan bersama dengan cara persuasi bukanlah hal yang mudah. Namun akan lebih sulit jikalau kita bekerja sendiri dalam melakukan tugas-tugas kita. Pengkhotbah mengatakan “ Berdua lebih baik dari pada seorang diri, … Karena kalau mereka jatuh, yang seorang mengangkat temannya, ..” – Pengkhotbah 4:9-10. Firman Tuhan melalui ayat ini menyadarkan kita akan pentingnya saling bekerja sama dalam menjalankan suatu pekerjaan.
Oleh karena itu penting sekali bagi kita untuk belajar kecakapan persuasi-meyakinkan orang lain akan sesuatu yang kita pandang baik lalu kita bersama-sama mengerjakannya. Pastilah ada banyak hal yang ingin kita bagikan kepada saudara/i kita. Namun kita harus meyakinkan mereka agar mereka juga dapat melihat apa yang kita lihat serta merasakan apa yang kita rasakan.

http://psychology.about.com/od/socialinfluence/f/what-is-persuasion.htm
http://ezinearticles.com/?What-is-Persuasion?&id=388257
dan berbagai sumber.