Seorang hamba hidup untuk mengabdi pada tuannya. Dapatkah seorang hamba hidup untuk menyenangkan dirinya sendiri? Pada jaman dahulu, seorang hamba (dengan kata lain adalah budak) harus benar-benar memberikan yang terbaik kepada tuannya. Apabila seorang hamba lalai akan pekerjaannya, maka sang tuan dapat menghukum hamba tersebut. Karena itu, seorang hamba jaman dahulu dapat menjadi peduli kepada tuannya disebabkan oleh “terpaksa”, bukan karena pilihan pribadinya.

Memilih untuk peduli atau tidak peduli ada di dalam kontrol kita, bukan dalam kontrol situasi yang ada di sekeliling kita. Menjadi hamba di hari-hari ini berbeda dengan menjadi hamba di jaman dahulu. Dengan adanya hukum dan asas kemanusiaan di era ini, seorang hamba dapat mengedepankan hak-haknya demi kehidupannya. Sehingga, seorang hamba bisa menjadi tidak peduli dengan tanggung jawab kepada tuannya kalau hamba tersebut tidak mendapatkan apa yang menjadi haknya.

Begitu juga dengan kehidupan pribadi kita. Di era jaman modern ini, ada begitu banyak alasan untuk menjadi tidak peduli; karena kesibukan, karena gengsi, karena malas, karena capek, atau apapun itu. Dan, kita bisa membuat seribu alasan dengan kata-kata yang manis untuk menjadi tidak peduli. Namun hanya ada satu alasan untuk menjadi peduli, yaitu karena kasih.
Ketika kita memilih untuk hanya mengasihi diri kita sendiri, maka kita akan berusaha mengontrol situasi di sekeliling kita agar sesuai dengan apa yang kita mau. Ketika kita memilih untuk mengasihi orang lain, maka kita pun akan berusaha mengontrol situasi di sekeliling kita agar sesuai dengan apa yang orang lain harapkan. “Janganlah menahan kebaikan dari pada orang-orang yang berhak menerimanya, padahal engkau mampu melakukannya. Janganlah engkau berkata kepada sesamamu: “Pergilah dan kembalilah, besok akan kuberi sedang yang diminta ada padamu.” (Amsal 3:28)

Nehemia mengorbankan kehidupan mewah di istana untuk membangun tembok Yerusalem. Yesus mengorbankan tahta kemuliaanNya dan diriNya untuk menebus dosa manusia. Semua itu dilandasi oleh KASIH. Bagaimana dengan kita? Sudahkah kita menjadi hamba yang peduli?

Kita hidup dengan apa yang kita dapatkan, tetapi kita menciptakan kehidupan dengan apa yang kita berikan (kepada orang lain).