Matius 13 : 9
Siapa bertelinga, hendaklah ia mendengar.

2 telinga 1 mulut

Perumpamaan Yesus tentang penabur di bacaan Matius pasal 13 ditujukan untuk orang yang mendengar firman-Nya. Ada berbagai cara menerima firman Allah dan mereka menghasilkan berbagai jenis buah.

1. Menutup telinga.
Orang yang menutup telinga terhadap Firman Allah tentunya tidak dapat diajar dan buta terhadap apa yang ingin didengar.

2. Pendengar dangkal.
Tipikal orang seperti ini adalah orang yang cepat bereaksi sebelum mendengar dan berpikir secara menyeluruh. Pada awalnya, mereka mendengar. Tetapi, mereka akan bereaksi dengan emosional dan berpikiran macam-macam terhadap apa yang baru didengarnya.

3. Pendengar “pura-pura”.
Orang ini memiliki banyak minat dan kepedulian, tetapi tidak mampu untuk mendengar atau memahami apa yang benar-benar penting. Dia mau mendengar karena memiliki kepentingan untuk dirinya sendiri. Orang semacam ini terlalu sibuk sehingga kegiatan mendengar hanya dijadikan formalitas untuk menghormati orang lain.

4. Pendengar terbuka
Orang semacam ini bersedia untuk mendengarkan dan belajar. Mereka tidak sombong atau terlalu sibuk dengan dirinya sendiri. Mereka mendengarkan untuk memahami. Allah memberikan anugerah kepada mereka yang haus dan lapar akan FirmanNya bahwa mereka dapat mengerti kehendakNya dan memiliki kekuatan untuk hidup sesuai dengan itu.
Apa yang bisa membuat kita tidak efektif atau tidak responsif terhadap firman Allah? Keasyikan dengan hal-hal lain dapat mengalihkan perhatian kita dari apa yang benar-benar penting dan bermanfaat. Dan membiarkan hati dan pikiran kita akan dikonsumsi dengan hal-hal material mudah menarik kita menjauh dari suaraNya.

Nehemia, di dalam aktivitas dan kesibukannya sebagai juru minuman raja, masih menyempatkan diri untuk mendengar cerita dari saudaranya dan mendoakan pergumulan saudara-saudaranya. Begitu pula dengan Firman Allah. Firman Allah hanya dapat berakar pada hati yang siap menerima dan siap mendengar apa yang Tuhan katakan. Dengan pikiran yang terbuka dan hati yang lapang, Tuhan akan menganugerahkan hikmatNya agar kita dapat memahami FirmanNya dengan benar dan melaksanakannya dalam kehidupan kita sehari-hari.

Begitu pula dalam kehidupan kita sehari-hari. Jika kita berbicara kepada orang lain dengan pikiran terbuka dan hati yang lapang, maka kita pun akan siap mendengar dengan terbuka. Jika sikap hidup kita tidak mau terbuka, maka kita tidak dapat melihat, mengetahui, mendengarkan bahkan memahami apa yang dikatakan orang lain.

Kita memiliki 2 telinga dan 1 mulut. Oleh karena itu, kita perlu lebih banyak mendengar dan sedikit berbicara.

disadur dan dimodifikasi dari :
http://parokiyakobus.wordpress.com/2011/07/10/renungan-harian-10-juli-2011/