Kita seringkali berhadapan dengan kejadian yang datang secara tiba-tiba atau mengejutkan, karena ketidaktahuan kita akan masa depan. Dalam mempersiapkan diri menghadapi segala kemungkinan yang tidak terduga, adalah lebih baik untuk kita melatih diri kita dengan mengembangkan sikap berjaga-jaga atau waspada. Sikap berjaga-jaga pada prinsipnya merupakan spiritualitas yang dibangun secara sadar, bersengaja dan konsisten dengan disipilin rohani tertentu agar kita dapat tetap sadar secara penuh (fully conscious) dan menyadari segala sesuatu yang terjadi dan yang akan terjadi dengan sikap yang selalu waspada (fully aware of something). Ini berarti sikap berjaga-jaga dan waspada tidak sama dengan sikap curiga terhadap seseorang. Sebab dalam sikap berjaga-jaga dan waspada dilakukan dengan sikap sadar secara positif tetapi kritis terhadap segala sesuatu. Sedang orang yang bersikap curiga adalah orang yang lebih dikuasai dan didorong oleh perasaan negatif, bersikap subyektif, dan ketidakmampuan untuk menganalisa secara tepat suatu situasi atau pribadi sesamanya. Jadi orang yang waspada senantiasa mampu membaca situasi dan dia mengetahui segala bahaya yang harus diperhatikan, sehingga dia akhirnya dia mampu menyikapi secara tepat dan bijaksana. Di Luk. 12:35-37, Tuhan Yesus berkata: “Hendaklah pinggangmu tetap berikat dan pelitamu tetap menyala. Dan hendaklah kamu sama seperti orang-orang yang menanti-nantikan tuannya yang pulang dari perkawinan, supaya jika ia datang dan mengetok pintu, segera dibuka pintu baginya. Berbahagialah hamba-hamba yang didapati tuannya berjaga-jaga ketika ia datang”. Sikap berjaga-jaga dan waspada digambarkan oleh Tuhan Yesus dengan seseorang yang selalu memiliki pinggang yang tetap berikat sebagai tanda bahwa dia selalu siap dan sigap untuk melakukan suatu tugas atau pekerjaan yang sedang ditanganinya. Juga orang yang waspada digambarkan oleh Tuhan Yesus sebagai pribadi yang memiliki pelita yang tetap menyala, sehingga dia dapat bertindak secara efektif melaksanakan peran dan tanggungjawabnya walaupun cuaca atau keadaan tiba-tiba berubah menjadi gelap. Itu sebabnya sikap waspada merupakan cermin dari spiritualitas yang tetap mampu bersinar terang di tengah-tengah lingkungan kehidupan yang gelap dan suram. Namun ketika kita tidak waspada dan kita menjadi lengah, maka sebenarnya saat itu kita sedang berada dalam posisi lemah, pikiran yang gelap, perasaan hati yang kacau, sehingga kita kehilangan kendali atas diri kita sendiri.

Pada sisi lain sikap berjaga-jaga dan waspada bukan hanya karena kita mampu tanggap secara kritis terhadap situasi masa kini, tetapi juga kita mampu untuk mengantisipasi situasi dan perubahan yang akan datang. Itu sebabnya orang yang berjaga-jaga disebut pula sebagai orang yang menanti-nantikan dengan sigap kedatangan tuannya, sehingga dia mampu melaksanakan tugasnya dalam situasi yang serba mendadak dan tidak terduga. Dalam perumpamaan Tuhan Yesus sikap menanti-nantikan tersebut dipakai untuk menunjuk kepada kesiapan seseorang menyambut kedatanganNya. Luk. 12:40, Tuhan Yesus berkata: “Hendaklah kamu siap sedia, karena Anak Manusia datang pada saat yang tidak kamu sangkakan”. Selaku umat tebusanNya kita dipanggil oleh Kristus untuk mampu menanti-nantikan kedatanganNya dengan sikap yang siap sedia agar kita dapat menyongsong kedatangan Kristus yang tidak dapat diduga sebelumnya. Sebab manakala kita menjadi lengah untuk menanti-nantikan dengan sikap siap-sedia, maka kita tidak akan mampu untuk mengantisipasi suatu peristiwa yang datang secara mendadak. Betapa banyak orang yang menjadi “shock” karena mereka sama sekali tidak menduga suatu peristiwa atau perubahan tiba-tiba terjadi. Akibatnya mereka tidak mampu memberi respon yang tepat dengan pikiran yang jernih dan bijaksana terhadap peristiwa atau perubahan yang mendadak terjadi. Pada saat yang demikian mereka mengalami “kegagapan” dalam emosi, pikiran dan spiritualitas iman. Kepribadian mereka menjadi goyah, sehingga mereka menjadi tidak berdaya; dan akhirnya mereka lebih banyak dikendalikan oleh situasi yang buruk dan kegagalan yang sedang mereka alami. Dalam situasi demikian mereka dikendalikan oleh permasalahan dan situasi krisis yang sedang dialami.

Ketika kita menjadi lengah dan tidak mampu berjaga-jaga, maka kita akan terjebak oleh berbagai rutinitas kegiatan keagamaan tanpa mampu memahami makna yang seharusnya. Dalam kondisi yang demikian, mungkin kita masih melakukan berbagai macam kegiatan gerejawi tetapi sama sekali tidak dilandasi oleh sikap yang siap-sedia dan waspada terhadap berbagai bahaya yang sedang merongrong spiritualitas iman kita. Umat Israel yang hidup dalam konteks kitab Yesaya waktu itu juga terjebak oleh berbagai rutinitas kegiatan keagamaan dan sikap yang tidak kritis/waspada dengan diri mereka sendiri. Dengan sangat tajam, Allah menegur umat Israel melalui pemberitaan nabi Yesaya, yaitu: “Dengarlah firman TUHAN, hai pemimpin-pemimpin, manusia Sodom! Perhatikanlah pengajaran Allah kita, hai rakyat, manusia Gomora! Untuk apa itu korbanmu yang banyak-banyak? firman TUHAN; Aku sudah jemu akan korban-korban bakaran berupa domba jantan dan akan lemak dari anak lembu gemukan; darah lembu jantan dan domba-domba dan kambing jantan tidak Kusukai”. Mereka sangat antusias mempersembahkan hewan korban kepada Allah, tetapi mereka tidak waspada dengan kemunafikan dan berbagai watak mereka yang buruk. Padahal yang dikehendaki oleh Allah bukan sajian yang berlimpah dari berbagai hewan korban atau persembahan, tetapi yang dikehendaki Allah adalah perbuatan/tindakan yang baik dan adil kepada sesama manusia. Itu sebabnya di Yes. 1:16-17 Allah berfirman: “Basuhlah, bersihkanlah dirimu, jauhkanlah perbuatan-perbuatanmu yang jahat dari depan mata-Ku. Berhentilah berbuat jahat, belajarlah berbuat baik; usahakanlah keadilan, kendalikanlah orang kejam; belalah hak anak-anak yatim, perjuangkanlah perkara janda-janda!”. Jadi sikap waspada dan berjaga-jaga seharusnya diwujudkan dalam sikap yang mampu tanggap dan peduli terhadap berbagai hal yang dianggap tidak adil, menentang segala bentuk sikap yang sewenang-wenang, kesediaan untuk membela orang yang tertindas dan lemah.

Dengan demikian makna sikap waspada dan spiritualitas yang berjaga-jaga bukan hanya dibangun oleh berbagai kegiatan gerejawi atau kebaktian yang dilakukan secara rutin. Sebab berbagai kegiatan gerejawi atau kebaktian tersebut juga sering dijadikan sebagai tempat “persembunyian” diri kita untuk menutupi berbagai macam kesalahan, dosa dan kemunafikan kita. Respon Allah terhadap umat Israel yang hidup dalam kemunafikan terlihat di Yes. 1:13, yaitu: “Jangan lagi membawa persembahanmu yang tidak sungguh, sebab baunya adalah kejijikan bagi-Ku. Kalau kamu merayakan bulan baru dan sabat atau mengadakan pertemuan-pertemuan, Aku tidak tahan melihatnya, karena perayaanmu itu penuh kejahatan. Perayaan-perayaan bulan barumu dan pertemuan-pertemuanmu yang tetap, Aku benci melihatnya; semuanya itu menjadi beban bagi-Ku, Aku telah payah menanggungnya”. Sikap yang sama juga berlaku kepada kita. Allah juga dapat jijik dengan acara-acara ibadah atau perayaan gerejawi kita, atau pertemuan-pertemuan rapat yang kita selenggarakan apabila semua kegiatan itu hanyalah untuk mempertebal sikap egoisme diri kita sendiri. Padahal melalui berbagai kegiatan gerejawi atau kebaktian yang kita lakukan, seharusnya makin mendorong kita untuk melakukan perubahan diri dengan melakukan perbuatan yang baik dengan peduli terhadap penderitaan dan kesusahan sesama. Ibadah atau pelayanan gerejawi seharusnya menjadi media pembentukan spiritualitas iman kita, sehingga melalui ibadah atau pelayanan gerejawi tersebut makin memampukan kita untuk melakukan karya keselamatan Allah di atas muka bumi ini.

Sikap waspada dapat berubah menjadi sikap yang lengah ketika kita gagal untuk memperoleh hal-hal yang kita harapkan/yang kita inginkan. Kita dapat melihat bagaimana anggota jemaat yang semula begitu antusias dalam persekutuan dan pelayanan, kemudian mereka berubah menjadi apatis karena mereka kecewa dan marah kepada Tuhan. Dalam kekecewaannya mereka tidak lagi mampu berjaga-jaga dan waspada dengan diri mereka sendiri dan orang-orang di sekitarnya. Karena itu mereka tidak mampu bersikap kritis dengan berbagai harapan yang sebenarnya tidak realistis. Ini berarti sikap waspada dan berjaga-jaga membutuhkan sikap yang kritis terhadap diri sendiri. Kita perlu bersikap kritis dengan idealisme-idealisme kita, kritis dengan pola pikir dan paradigma yang berkembang dalam logika kita, kritis dengan keinginan dan gejolak perasaan-perasaan kita sendiri. Sehingga kita dapat menjadi orang percaya yang lebih realistis dan mengedepankan sikap ketaatan kepada Tuhan, walaupun berbagai harapan dan keinginan kita tersebut belum terwujud atau tidak menjadi suatu kenyataan. Itu sebabnya sikap waspada perlu dibangun dalam sikap iman. Firman Tuhan di Ibr. 11:1 berkata: “Iman adalah dasar dari segala sesuatu yang kita harapkan dan bukti dari segala sesuatu yang tidak kita lihat”. Dengan sikap iman kepada Tuhan, kita dimampukan untuk membangun harapan-harapan yang lebih realistis dan sesuai dengan rencana Allah; bukan membangun harapan menurut rencana dan keinginan kita sendiri. Sehingga kita selaku umat percaya senantiasa mengedepankan sikap taat kepada Tuhan, walaupun kita saat itu belum bahkan mungkin akhirnya tidak memperoleh apa yang kita harapkan dan inginkan. Dalam hal ini kita perlu memiliki iman menurut model Abraham yang senantiasa diuji oleh Allah dalam seluruh hidupnya. Dia diperintahkan Allah keluar dari negeri dan tanah kelahirannya menuju negeri yang belum diketahui dengan baik (Ibr. 11:8-9). Dia taat kepada firman Tuhan tentang janji keturunan baginya, walau dia sebenarnya waktu itu sudah mati pucuk (Ibr. 11:12).

Iman kepada Kristus seharusnya makin memampukan kita untuk memiliki spiritualitas yang senantiasa waspada dan berjaga-jaga, sehingga kita senantiasa siap untuk melakukan pekerjaan Tuhan dan mampu mengantisipasi berbagai perubahan yang tiba-tiba terjadi. Dalam hal ini sikap waspada perlu dilakukan secara tepat dan proporsional. Sebab kewaspadaan dan sikap berjaga-jaga bukanlah suatu tujuan, tetapi lebih tepat sebagai sikap mental dan spiritualitas iman. Kita harus senantiasa bersikap waspada agar kita dapat mengerjakan karya keselamatan Allah secara efektif bagi kemuliaanNya. Apa artinya kita bersikap waspada dan berjaga-jaga, tetapi kita tidak pernah mengerjakan karya keselamatan Allah. Makna kewaspadaan yang demikian hanya melahirkan sikap yang pasif, sikap ragu-ragu dan tidak pernah mempunyai bentuk serta kontribusi sebagaimana yang diharapkan. Demikian pula apa artinya kita banyak melakukan pekerjaan Tuhan, tetapi kita tidak pernah waspada dengan diri kita sendiri dan orang-orang di sekitar kita. Akibatnya pekerjaan Tuhan yang mulia itu dicemooh dan kemudian menjadi batu sandungan bagi orang-orang di sekitar kita. Sikap waspada dapat menjadi sikap iman ketika kita mau melandasi seluruh spiritualitas kita dengan ketaatan kepada Tuhan tanpa syarat, sebagaimana yang dilakukan oleh Abraham. Jika demikian, bagaimana sikap hidup saudara? Apakah kehidupan saudara telah dilandasi oleh sikap waspada dan selalu berjaga-jaga yang makin mendorong saudara untuk melakukan pekerjaan Tuhan di atas bumi ini? Juga, apakah kita justru terlalu serba waspada sehingga tidak ada kesempatan bagi kita untuk melakukan pekerjaan Tuhan? Ataukah sebaliknya, kita lebih sering lengah sehingga senantiasa terdapat berbagai celah/peluang bagi kuasa kegelapan mempengaruhi hidup kita? Kini marilah kita respon ucapan Tuhan Yesus yang berkata: “Hendaklah kamu siap sedia, karena Anak Manusia datang pada saat yang tidak kamu sangkakan” (Luk. 12:40). Amin.

Disadur dari:
http://www.gki.or.id/content/doc.php?doctype=A&id=70