Tags

,

Sang Katalisator

Michael Jordan adalah seorang pemain basket yang legendaris karena banyak penghargaan dan ketrampilan yang dimilikinya. Ketika permainan tim mulai melemah, bola akan banyak diberikan kepada Jordan. Ketika permainan hampir berakhir, bola akan banyak beralih ke Jordan. Meskipun pada saat latihan pun, bola banyak dioper ke Jordan. Bagaimanapun keadaan di lapangan, Michael Jordan mampu memposisikan dirinya sebagai katalis tim untuk mencapai sebuah kemenangan. Terbukti dengan banyaknya penghargaan yang diraihnya selama ada di Chicago Bulls dan tercatat sebagai pemain amatir dan profesional berikut.

– pemenang kejuaraan NCAA Divisi 1 (1982)
– tercantum dua kali di berita olahraga sebagai pemain andalan tahun 1983 dan 1984 di college
– Menerima penghargaan Naismith dan Wooden (1984)
– Memenangkan 2 medali emas Olimpiade (1984 dan 1992)
– Memenangkan 6 kali kejuaraan dunia NBA (1991, 1992, 1993, 1996, 1997, 1998)
– Terpilih sebagai pemain NBA Rookie di tahun 1985
– Terpilih sebagai bagian keseluruhan tim NBA Rookie (1985)
– Terpilih sebagai anggota tim terbaik All-NBA selama 10 kali (1987, 88, 89, 90, 91, 92, 93, 96, 97, 98)
– Memegang rekor NBA untuk rata-rata nilai tertinggi (31.5 point per game)
– Memegang rekor NBA memimpin di banyak liga dalam pengumpulan nilai (10)
– Memegang rekor NBA memimpin di banyak liga dalam membuat nilai di field (10) dan lemparan percobaan (10)
– Ranking ke-3 dalam sejarah poin di NBA (29.277), ke-3 dalam hal steal (2.306) dan ke-4 dalam field goal (10.962)
– Diputuskan sebagai pemain terbaik tahunan dalam bertahan di NBA, tahun 1988 (setelah diamati bahwa dia hanya berperan sebagai penyerang)
– Terpilih sebagai tim utama dalam posisi bertahan All-NBA sebanyak 9 kali (1988, 89, 90, 91, 92, 93, 96, 97, 98)
– Dinobatkan sebagai Most Valuable Player (MVP) NBA sebanyak 5 kali (1988, 91, 92, 96, 98)
– Dinobatkan sebagai Finals Most Valuable Player (MVP) NBA sebanyak 6 kali (1991, 92, 93, 96, 97,98)
– Dinobatkan sebagai seorang dari 50 pemain ternama dalam sejarah NBA.

Nehemiah

Nehemiah tidak memiliki rekor seperti yang diraih oleh Michael Jordan. Tetapi, catatan dalam kitab Nehemia dapat menunjukkan banyak prestasi yang bisa dipelajari tentang seorang Nehemia dalam perannya sebagai katalisator ketika melaksanakan pembangunan tembok di Yerusalem. Dia menjadi orang yang “serba bisa” dalam segala situasi. Kita dapat melihat ada 3 peran Nehemia sebagai katalis dalam membangun tembok Yerusalem. Pertama, katalis dengan budak dengan raja yang menggambarkan hubungan hierarki vertikal ke atas (atas-bawah). Kedua, katalis antara teman dengan musuh yang menggambarkan hubungan horizontal (kiri – kanan). Ketiga, katalis antara pemimpin dan rakyat yang menggambarkan hubungan vertical ke bawah.

1. Katalis antara Nehemia dengan Raja
Seorang juru minuman raja mampu menempatkan dirinya dengan tepat ketika dia harus berhadapan dengan Raja perihal rencananya membangun tembok. Mari kita lihat latar belakang Nehemia dari sisi waktu.
– Kitab Nehemia ada di kisaran 445-444 SM. Kelompok pertama orang Israel yang kembali dari pengasingan di bawah pimpinan Zerubabel (536 SM). Kelompok kedua orang Israel kembali dari pengasingan di bawah pimpinan Ezra (sekitar 458 SM). Dan, kelompok ketiga di bawah pimpinan Nehemia (sekitar 445 SM), 13 tahun setelah Ezra dan rombongannya kembali ke Yerusalem, 20 tahun masa pemerintahan Raja Artahsasta.
– Raja Persia sudah berganti beberapa kali. Nama raja Persia yang terkenal pada saat itu adalah:
– Raja Sirus (538 SM). Kelompok pertama yang kembali setelah pengasingan dipimpin oleh Zerubabel, diperkirakan pada tahun 536 SM.
– Raja Darius
– Raja Ahasyweros (Raja Artahsasta II) yang tertulis dalam kitab Ester
– Raja Artahsasta I (memerintah sekitar 465 – 423 SM)
Raja Artahsasta I pasti memahami bagaimana para pendahulunya berkuasa atas Israel dengan segala politik dan hukum-hukumnya. Nehemia, sebagai budak yang adalah juru minuman raja, tentu cukup memahami bagaimana menghadapi seorang raja yang juga berkuasa atas orang Israel (budak).
– Raja Artahsasta I adalah seorang raja yang pernah membuat hukum untuk mengagalkan pembangunan bait suci di Yerusalem (Ezra 4:23). Apabila kita meneliti kebijakan raja Artahsasta tentang masukkan dari para bupati tentang daerah Yerusalem (Ezra 4), maka kita tahu bahwa sang raja telah memiliki persepsi yang buruk tentang pembangunan di daerah Yerusalem. Oleh karena itu, Nehemia harus mengatur rencana yang matang untuk dapat mengkomunikasikan rencananya dengan tepat.
Kemampuan Nehemia tidak diragukan lagi karena lingkungan dia tinggal (di istana) membentuk pola berpikir dan etika yang tepat untuk berkomunikasi dengan raja. Tidak dipungkiri bahwa Nehemia dapat berbicara kepada raja salah satunya karena beliau adalah juru minuman raja. Dan, Nehemia mampu menjadi jembatan antara rakyat Israel dengan Raja Artahsasta.

2. Katalis antara Nehemia dengan musuh-musuhnya (Sanbalat, Tobia dan Gesyem)

Sebagai seseorang yang pernah mengalami kehidupan di istana, Nehemia pasti merasakan bagaimana persepsi tentang “musuh” dan sikap yang seharusnya terhadap musuh. Sanbalat, Tobia dan Gesyem, para musuh / orang-orang yang mengolok rencana Nehemia, tentunya dapat mematahkan semangat Nehemia dalam membangun tembok Yerusalem. Melihat dari konteks Neh 4:2, Sanbalat adalah seorang petinggi di daerah Samaria dan Tobia, bisa jadi, adalah seorang hamba dari Sanbalat. Nehemia, yang hanya seorang juru minuman raja, harus berhadapan dengan seorang petinggi besar yang mengolok-olok rencana pembangunan tembok. Tentunya, segala politik dan rencana Sanbalat dapat dengan mudah menggagalkan rencana Nehemia, yang hanya memiliki posisi sebagai seorang hamba.
Tetapi, ketetapan hati Nehemia, didikan serta disiplin diri Nehemia membuat dia bersikukuh untuk melanjutkan pekerjaan yang menjadi visinya. Dia tidak mengandalkan dirinya sendiri untuk menjadi katalis antara dirinya dengan musuh-musuhnya, tetapi dia juga menyertakan Tuhan (Neh 2:20;4:4).

3. Katalis antara Nehemia dengan rakyat / saudara-saudaranya
Ketika banyak rakyatnya yang menjadi khawatir karena rongrongan Sanbalat dan Tobia, Nehemia mampu memberikan ketenangan dan solusi yang tepat agar rakyatnya tetap pada pelaksanaan pembangunan tembok Yerusalem. Hal ini tidaklah mudah karena beberapa faktor:
– Nehemia bisa saja baru mengenal rakyatnya satu-per-satu
Diperlukan sebuah karisma yang besar untuk meyakinkan para rakyat agar mau bersama-sama membangun tembok dan mau tetap bekerja melaksanakan pembangunan tembok di tengah kesengsaraan mereka. Di Neh 3, terhitung ada ratusan orang yang tergabung dalam pembangunan tembok. Nehemia mencatat nama mereka satu-per-satu. Tentunya, kehidupan Nehemia di istana raja membuat dia tidak bisa langsung mengenal pribadi lepas pribadi. Tetapi, Nehemia menempatkan diri yang terbaik pada saat pendelegasian tugas.
– Rakyat masih mencoba memahami Nehemia
Bisa saja rakyat tidak percaya diri (Neh 4:10,12). Tetapi, kemampuan Nehemia dengan menyertakan Tuhan dalam segala aktivitasnya, membuat segala apa yang direncanakannya berhasil. Pemotivasian Nehemia kepada rakyatnya dapat mencerminkan sebuah teknik yang tepat untuk mengdongkrak semangat rakyatnya (Neh 4:9, 14). Ini bukti bahwa Nehemia bisa menempatkan dirinya dalam segala lingkungan.
Seperti seorang Nehemia yang bisa menjadi seorang katalis dalam segala keadaan, baik di kalangan istana, di kalangan musuhnya maupun di kalangan rakyatnya, kita pun juga bisa belajar dari kehidupan Nehemia. Mari belajar menjadi seorang katalis yang baik di manapun kita ditempatkan.

materi disadur sebagian dari :
– The 17 Indisputable Laws of Teamwork – Workbook, John C. Maxwell