Ketekunan kata dasarnya tekun. Tekun dalam kamus umum bahasa Indonesia yang disusun W. J. S Poerwadarminta menyebut: tekun berarti keras hati dalam bekerja, atau bisa juga diartikan bersungguh-sungguh dalam bekerja. Disebut tekun karena bekerja dengan terus-menerus dengan perasaan asyik, tidak merasa bosan, tetapi terus melakukan tugasnya sampai berhasil.

Ketekunan adalah satu kata yang tidak boleh hilang dalam etos kerja. Ketekunanlah membentuk etos. Sebab, orang-orang yang bertekun memperlihatkan sifat personalnya. Tekun tidak boleh dibuat-buat, ketekunan masalahnya kemampuan personalisasi diri menghadapi badai, mampu tegap berdiri walau diterjal angin. Karena ketekunanlah, dengan kerja keras, seluruh orang yang menjadi inspirasi di jagat ini bisa menggapai sukses.

Ketekunan dipelihara oleh cita-cita. John Hagee dalam bukunya The Seven Secrets menulis: perbedaan antara keberhasilan yang paling berani dalam sejarah dan kegagalan yang paling mengejutkan adalah kerelaan untuk bertekun.

Ungkapan itu serasa menemukan pembelaan pada sebuah kata dari Emerson, ”Seorang disebut pahlawan, bukan karena ia lebih berani dari orang lain, namun karena ia berani bertahan sepuluh menit lebih lama.” Inti dari ketekuan adalah bersabar dengan pengharapan. Tidak ada kata-kata menyerah. ”Tetapi orang yang bertahan pada kesudahannya akan selamat” (Matius 24: 13). Ketekunanlah mesin penguji bagi para pemilik etos kerja yang tinggi.

Namun, tak dapat dipungkiri, kenyataannya, banyak pecundang, kalah sebelum bertanding. Padahal, orang-orang itu tidak menyadari betapa dekatnya mereka pada sukses, saat mereka berhenti. Kekurang-sabaran itu membuatnya pecundang. Kerap kali kegagalan adalah karena kurangnya ketekunan. Soekarno dikenal pintar arator ulung, karena sejak kecil sudah terbiasa, terlatih dengan tekun belajar pidato. Soekarno kecil selalu naik meja, dan selalu belajar berpidato seolah-olah dia dikerumuni ribuan orang. Ketekunannya itu menjadikannya menjadi singa podium.

Contoh lain, Beethoven, sang maestro itu melatih ketajaman musikalitasnya dalam mengarang lagu, hal itu didapatnya melalui pembelajaran panjang, lewat belajar dengan tekun. Seluruh karya selalu dikoreksinya berulang-ulang, dan hasilnya semua karangannya menjadi mahakarya, tidak rusak dimakan rayap zaman. Itulah Beethoven.
Bila ditarik benang merah, sejarah telah menerangkan bahwa orang-orang yang tekunlah memberikan spirit pada setiap zaman. Tokoh-tokoh besar itu menyadari bahwa ketekunan adalah kunci dari sebuah perjuangan. Dan itulah keunggulan dalam perjuangan, tekun.

Dan, kalau kita mengali, mempelajari Alkitab. Maka, kita bisa berasumsi bahwa Alkitab adalah buku yang menyimpan etos, perjuangan, dan ketekunan. Alkitab cerminan dari sejarah ketekunan manusia. Alkitab membingkai seluruh tokoh-tokoh tersebut menjadi kekuatan yang mahadahsyat. Misalnya, Nuh bekerja membangun bahtera selama 120 tahun dan selalu mendapat cemohan dari umat manusia pada zaman itu. Ketekunannya yang disertai Iman dan Pengharapan itu menjadikan hasil karyanya yang tidak bisa ditiru pada saat itu.

Lain lagi, Nehemia. Nehemia adalah sosok inspirasi yang mengajarkan ketekunan. Keteguhan hatinya membangun kembali tembok Yerusalem, walau saat itu mendapat tentangan. Nehemia menegaskan, dia siap sampai mati untuk membangun tembok Yerusalem. Akhirnya tembok itu terbangun, oleh seizin Tuhan, itu seluruhnya karena ketekunan.
Kemampuan bertahan sesulit apapun keadaan kita itu adalah ketekunan. Sebagaimana dikatakan Robert Schuller, ”masa sulit selalu datang, tetapi hanya orang yang tekun menantinya, kesulitan bisa berhenti.

Keluarga
Kesuksesan adalah keseimbangan antara karier dan keluarga. Semua perjuangan harus dialaskan diluar kepentingan diri sendiri. Hal pertama,yang tidak bisa luput dari perhatian kita adalah keluarga. Sikap yang tidak bisa ditawar-tawar, keluarga harus merupakan tempat pertama mengabdi. Membina keluarga dibutuhkan bukan hanya kesabaran tetapi sikap hati. Untuk menyeimbangkan keduanya: sukses dalam karir dan keluarga dibutuhkan sikap ketekunan.

Sikap ketekunan memang tidak membutuhkan persetujuan orang lain. Sikap tersebut harus terpatri dalam relung hati yang paling dalam, sebagai komitmen diri. Ketekunan Thomas Alva Edison telah membuahkan hasil bagi peradaban umat manusia. Thomas tidak mendapat jalan yang mulus, hanya saja sikap ketekunannya memberikan dampak.Tetapi, sikap ketekunan itu pertama ditunjukkan pada keluarganya.

Sikap ketekunan adalah hasil dari implementasi iman yang teguh. Sikap iman itu menjadi kekuatan bertahan dalam menghadapi segala hal. Ketekunan juga mensyaratkan orang terus bertahan, kesanggupan untuk tetap mampu menghadapi kesulitan.

Kesuksesan hanya bisa diraih orang yang tekun. Sebagaimana dikatakan Conrad Hilton, ”Orang-orang sukses terus melangkah. Mereka membuat kesalahan tetapi mereka tidak menyerah,” hal yang sama dikatakan Calude M. Brisbol ”Usaha yang konstan dan penuh tekadlah yang menghacurkan semua penolakan, menyapu semua penghalang.”
Ketekunan semacam mutiara yang ada dalam diri dan terus dicari. Dengan belajar dari seluruh umat manusia. Manusia menajamkan manusia, manusia belajar pada manusia. Dengan belajar, membaca, dan berinteraksi langsung pada orang yang tekun juga adakan berdampak bagai mutiara ketekunan terasah.

Myles Munroe, penulis dari buku kepemimpinan, yang mengajarkan mengembangkan sikap yang mempengaruhi tindakan manusia. Buku itu berjudul The Spirit Leadership mengatakan, ”tidak ada di dunia ini yang dapat mengantikan ketekunan. Bakat tidak dapat, tidak ada yang lebih lazim dari orang-orang gagal yang berbakat. Jenius tidak dapat, orang jenius tanpa penghargaan nyaris merupakan suatu pepatah. Pendidikan tidak dapat—dunia penuh dengan gelandangan yang berpendidikan. Namun, ketekunan dan tekad adalah kekuatan yang luar biasa.” Memang benarlah hanya ketekunanlah kunci dari keberhasilan.

Ketekunan adalah merupakan kegigihan. Orang yang gigih adalah orang yang tekun. Dari kegigihannyalah seseorang bisa disebut orang yang bertekun. Orang yang fokus pada satu bidang dengan bekerja secara proporsional sehingga ia bisa disebut menekuni, atau menggeluti pekerjaan tersebut. Karena rahasia dari keberhasilan adalah ketekunan.

Ketekunanlah yang membuat tindakan dan pikiran positif; sebab dengan adanya kebiasaan itu, ketekunan, menginjeksi kita kebal terhadap penyakit kemalasaan. Dengan terbiasa tekun akan menjadikan stimulus untuk berpikir besar.

Kalau sudah memiliki karakter tekun otomatis akan menjadi disiplin. Disiplin adalah rotasi, atau poros dari rutinitas. Dave Thomas, pendiri Wendy’s International menyebut ”rutinitas” adalah apa yang membuat kita tetap terfokus pada hal-hal dasar dan pokok di dalam hidup. Rutinitas tidak mestinya membosankan. Bila rutinitas pekerjaan kita membuat kita bahagia maka juga akan berdampak bagi kesehatan fisik, dan demikian juga sebaliknya.

Di setiap ranah kehidupan dibutuhkan disiplin. Misalnya, karena kita disiplin membayar pajak maka, roda pemerintahan bisa berjalan dengan baik. Coba, bila tidak ada yang disiplin membayar pajak otomatis tidak ada pendapatan negara, dan negara pun tidak mendapatkan apa-apa, yang jelas tidak ada pembangunan.

Disiplin juga turun membantu pikiran kita untuk tetap fokus pada tujuan. Jika mengerjakan sesuatu. Ada rentetan pekerjaan yang sambung-menyambung dari pekerjaan yang kemarin dilanjutkan sekarang, dan jika belum tuntas dilajutkan besok. Dengan adannya disiplin itu, tujuan tidak kacau-balau, atau gagasan-gagasan menjadi terwujud. Maka, lebih baik punya gagasan satu yang dikerjakan penuh disiplin, daripada 50 gagasan tidak pernah dikerjakan.

Memang tidak mudah menjadi disiplin, tetapi, dengan disiplin, rutinitas yang terus-menerus, menghasilkan hal-hal yang tidak terduga. Rutinitas yang disiplin itu banyak membantu kita dalam berbagai hal. Disiplin ibarat obat untuk mengobati penyakit yang menahun. Jika sudah diagnosa penyakitnya dan obatpun ditemukan resepnya. Demikianlah disiplin yang terus terjaga akan mengobati penyakit dari kemalasan kita. Dengan adanya ketekunan, lalu dibarengi dengan disiplin niscaya semua tujuan, cita-cita akan terwujud.

Sumber:
http://lemwaka.wordpress.com/2010/10/21/tekun-modal-sukses/
yang ditulis oleh Hotman J. Lumban Gaol, S.Th
Wartawan, pendiri Weblog ETOS HABATAHON http://www.budayabatak.wordpress.com