“I have but one passion – it is He, it is He alone. The world is the field and the field is the world; and henceforth that country shall be my home where i can be most used in wining souls for Christ.”
“Aku hanya memiliki satu passion – Dia, dan hanya Dia saja. Dunia adalah ladangku dan ladangku adalah dunia; dan oleh karena itu semua negara adalah rumahku, dimana aku bisa dipergunakanNya sebaik mungkin untuk memenangkan jiwa bagi Kristus.”
— Count Zinzindorf —

Ketika kudengar berita ini, duduklah aku menangis dan berkabung selama beberapa hari. Aku berpuasa dan berdoa ke hadirat Allah semesta langit,
— Nehemia 1:4 —

Saat saya membuat artikel ini, perhatian saya teralih pada salah satu tokoh yang membentuk perspektif saya terhadap dunia kekristenan. Tokoh ini bukanlah tokoh yang asing dalam dunia misi Kekristenan, karena dengan keberadaan tokoh ini daratan Afrika menjadi salah satu ladang yang subur dengan pemberitaan firman Tuhan. Jika passion dapat diartikan dengan keinginan yang amat kuat, mungkin di dalam sejarah kekristenan, tokoh ini adalah salah satu tokoh yang memiliki passion yang sungguh luar biasa. Nama tokoh ini adalah, David Livingstone. Artikel ini akan menceritakan sekelumit mengenai kehidupannya.

David Livingstone adalah seorang misionaris yang dilahirkan pada 19 Maret 1813 di kota Blantyre, Lanarkshire, Skotlandia. David kecil adalah anak kedua dari tujuh bersaudara pasangan Neil Livingstone (1788-1856) — seorang guru sekolah minggu — dan istrinya Agnes Hunter (1782-1865). Sebagai seorang Kristen yang taat, sang ayah telah memberikan pengaruh yang cukup besar terhadap David Livingstone ketika dia masih muda.
Terlahir pada masa revolusi industri di Inggris, memaksa David Livingstone bekerja di sebuah pemintalan kapas selama empat belas jam sehari dengan gaji hanya lima shilling per minggu. Jam kerja yang menyita sebagian besar waktunya membuatnya terpaksa bersekolah pada malam hari di Blantyre Village School. Keluarga Livingstone bukanlah sebuah keluarga yang mengedepankan pendidikan, David Livingstone harus menabung sedikit demi sedikit sebelum akhirnya melanjutkan studi ke Anderson`s College di Glasgow pada tahun 1836 dan memerdalam pengetahuannya dalam bidang kedokteran dan penginjilan.

Pelayanan David yang pertama berawal dari perkenalannya dengan Robert Moffat pada tahun 1840. Pertemuan mereka telah menggugah hati David Livingstone untuk menjadi relawan dan pergi melayani di bagian selatan benua Afrika. Untuk mewujudkan keinginan tersebut, David Livingstone menerima tawaran dari LMS dan bertolak dari Inggris pada Desember 1840 dan tiba di Pangkalan Kuruman pada tahun 1841. Dia mendarat di Benua Hitam dengan membawa “sextant” (semacam kompas), beberapa lembar buku, alat peneropong, dan obat-obatan. Kerinduannya yang terbesar adalah melayani di daerah-daerah yang belum terjamah oleh orang kulit putih.

Setelah beristirahat beberapa hari di Kuruman, David Livingstoe melanjutkan perjalanan ke Lepelole. Suku yang mendiami daerah Lepelole adalah suku Bakwena. Sebagai salah satu media penginjilan, David Livingstone mempelajari bahasa daerah setempat. Namun, keadaan keamanan kurang mendukung di daerah ini, David menyadari bahwa setiap kali dia selesai berkhotbah, banyak orang-orangnya yang dibunuh, ditangkap, atau diusir oleh suku lain. Sebagai jalan keluar, akhirnya pada tahun 1844, David memutuskan untuk pergi ke arah utara, menuju Mabotsa. Di tempat inilah terjadi peristiwa yang mengubah hidup David. Dia diserang oleh seekor singa yang meremukkan bahu kirinya. Akibatnya sungguh fatal karena sepanjang sisa hidupnya, David Livingstone hampir tidak bisa menggunakan tangan kirinya lagi.

Setelah menjalani perjalanan misi yang cukup berat akhirnya, David Livingstone meninggal dunia di Chitambo pada 1 Mei 1873 karena menderita penyakit malaria dan pendarahan internal yang disebabkan oleh disentri. David Livingstone menghembuskan napas terakhirnya sambil berlutut di samping tempat tidur dalam posisi berdoa. Dua pembantu setianya yang bernama Susi dan Chuma mengubur jantung dan organ-organ tubuh bagian dalam David Livingstone di bawah pohon mvula. Jasadnya dibalsam dan dikeringkan di bawah sinar matahari untuk akhirnya dipulangkan ke Inggris. Perjalanan yang dibutuhkan untuk membawa jenazah David Livingstone kembali ke Inggris memakan waktu sembilan bulan. Setelah tiba di Inggris, jenasahnya disemayamkan di Westminster Abbey pada 18 April 1874.

Perjalanan misi yang dilakukan oleh David Livingstone, nampaknya tidak akan cukup untuk dirangkum dalam hanya sebuah artikel. Berbagai macam penderitaan tidak meruntuhkan passion yang dia miliki untuk tetap melangkah untuk pemberitaan nama Kristus. Passion seperti apakah yang membuat dia tetap bergerak? Passion itu adalah Compassion. Compassion atau belas kasih terhadap jiwa-jiwa yang belum mengenal Kristus menjadi bahan bakar untuk dirinya tetap melangkah bagi kemuliaan namaNya. Dari kehidupan hamba Allah ini, kita bisa belajar beberapa hal penting yang bisa kita terapkan dalam kehidupan kita. Beberapa hal tersebut terangkum secara ringkas dalam 7 langkah hidup yang berkemenangan. Tujuh langkah tersebut adalah:

1. Passion
Passion berbicara mengenai keinginan kuat yang ditanamkan Tuhan dalam hidup kita. Keinginan tersebut menjadi dasar dalam segala hal yang kita tetapkan dalam kehidupan kita di masa depan. Keinginan tersebut membentuk visi/pandangan kita mengenai kehidupan kita dan orang-orang di sekitar kita. Passion dalam kehidupan David Livingstone adalah Kasih Kristus kepada sesama, dan hal ini telah teruji dengan waktu. Apakah passion kita saat ini?
2. Purpose
Purpose atau tujuan, adalah tujuan dalam kehidupan kita yang didasarkan pada passion yang kita miliki dalam kehidupan kita. Tujuan ini bisa bersifat mulai dari sesuatu yang bersifat sangat umum hingga sesuatu yang sangat spesifik. Salah satu tujuan yang saya pelajari dalam kehidupan David Livingstone, adalah hidup untuk kemuliaan Tuhan. Apakah tujuan hidup yang saudara miliki saat ini?
3. Perspective
Tujuan membentuk perspektif atau cara pandang. Saat kita belum mengenal Tuhan, tujuan hidup kita terbatas pada sesuatu yang bersifat sangat duniawi dan mengesampingkan tujuan hidup sesungguhnya yang telah ditanamkan oleh Tuhan sejak kita diciptakan. Cara pandang kita terhadap dunia dan keberadaan kita akan berubah saat kita mengenal Tuhan. Salah satu pandangan yang dimiliki oleh David Livingstone adalah bagaimana kehidupan yang dia miliki bukanlah miliknya lagi, namun milik Kristus. Hal ini mengubahkan kehidupannya menjadi kehidupan yang berorientasi pada Kristus. Bagaimana dengan cara pandang / perspektif kehidupan saudara-saudara saat ini?
4. Plan
Tujuan dan cara pandang menumbuhkan sesuatu yang lain, yaitu Plan atau perencanaan. Tujuan ataupun cara pandang yang diubahkan untuk kemuliaan Tuhan tidak cukup untuk membawa kasih Tuhan kepada sesama. Dalam memenuhi tujuan hidup kita, kita harus membuat perencanaan yang berdasarkan firman Tuhan. Dalam menghadapi perubahan tujuan dalam kehidupannya, David Livingstone membuat perencanaan-perencanaan yang sesuai dengan firman Tuhan. Walau seringkali perencanaan ini gagal dalam kehidupannya, namun dia tetap membuat perencanaan yang lain untuk memenuhi tujuan hidupnya. Hari ini, apakah perencanaan yang telah anda buat dalam kehidupan anda?
5. Process
Perencanaan saja tidak cukup untuk memenuhi tujuan yang telah Tuhan tetapkan dalam kehidupan kita. Perencanaan ini membutuhkan tindakan dan yang paling penting adalah proses. Dalam tahap ini, seringkali perencanaan kita tidak berjalan 100%, namun semuanya adalah proses untuk menyempurnakan kehidupan kita. Perencanaan dan proses berjalan beriringan, dan membawa kita pada kehidupan yang berbuah. David Livingstone menjalani rencananya dalam proses yang dikehendaki oleh Tuhan. Proses ini seringkali bukan sesuatu yang enak, namun berharga untuk dijalani. Sudahkan anda menyiapkan diri untuk menjalani perencanaan yang telah anda tetapkan?
6. Persevering
Persevering memiliki arti menjadi tahan uji dalam segala hal. Ini adalah kunci penting dalam menjalani kehidupan kita. Memiliki semua hal diatas, namun tidak memiliki kehidupan yang tahan uji, sama saja dengan pelari yang menyerah di tengah jalan karena menyerah pada kelelahan yang dia alami. Dalam suatu perlombaan seorang pelari akan tetap berusaha untuk tahan uji sampai dengan dia mencapai garis akhir, apapun keputusan dari perlombaan itu. David Livingstone menjadi tahan uji walaupun mengalami berkali-kali usaha pembunuhan, penyiksaan, kelaparan, dll. Bagaimana dengan anda?
7. Prosperity
Akhir dari semua tahap ini adalah Prosperity atau kemakmuran. Kemakmuran dalam hal ini bukanlah bergelimang dalam harta seperti yang anda bayangkan. Ingat, bahwa tujuan dan cara pandang kehidupan anda telah diubahkan. Uang dan harta bukanlah tujuan, namun alat untuk kemuliaan Tuhan. Kemakmuran lebih memiliki arti pada dicukupkannya semua kebutuhan kita. Kemakmuran yang paling utama adalah saat kita mampu memenuhi tujuan kehidupan kita dan memiliki kehidupan yang dipenuhkan oleh kehendak Kristus saja. Dalam segala kekurangan yang dia miliki, penderitaan ataupun kelaparan yang dia alami, David Livingstone percaya bahwa pemeliharaan Tuhan selalu ada atas kehidupannya. Ini adalah kemakmuran yang sesungguhnya. Bagaimana dengan kehidupan saudara saat ini?
“Saya akan memberitahu kalian apa yang menopang saya di tengah semua kerja keras dan penderitaan dan kesepian yang tak dapat saya gambarkan beratnya. Yang menopang saya adalah sebuah janji, janji seorang beradab yang paling terpuji dan sakral, ialah janji, `Ketahuilah, Aku akan menyertaimu senantiasa, sampai kepada akhir zaman.`” (Matius 28:20). (David Livingstone)

Disadur dan dimodifikasi dari:
1. http://biokristi.sabda.org/david_livingstone_0
2. http://www.successstartswithpassion.com/