Efikasi Diri
Kata efikasi mungkin masih terdengar asing bagi kita dibanding kata efisien dan efektif. Efikasi memiliki arti yang hampir sama dengan efisien maupun efektif, namun lebih sering diperuntukkan dalam dunia medis. Singkatnya, efikasi dapat diartikan manjur atau mujarab. Suatu obat dapat diartikan memiliki efikasi bila obat tersebut dapat secara manjur/mujarab mengobati seseorang dari penyakitnya.

Bagaimana dengan efikasi diri? Efikasi diri adalah suatu kepercayaan atau keyakinan bahwa kita memiliki suatu potensi untuk mengerjakan sesuatu. Seperti sebuah obat yang diharapkan dapat secara manjur mengobati suatu penyakit, potensi diri kita diharapkan juga menjadi ‘obat yang manjur’ bagi perkembangan kepribadian kita.

Konsep efikasi diri dikembangkan oleh seseorang psikolog yang bernama Albert Bandura (1982) untuk menggambarkan bahwa seseorang itu memiliki kemampuan untuk berbuat sesuatu. Menurut Bandura, efikasi diri merupakan faktor penentu dalam mengubah perilaku seseorang, karena melaluinya seseorang akan mengambil pra-keputusan sebelum bertindak secara nyata, mengeluarkan upaya apa pun, dan bertekun dalam segala macam kesulitan.

Efikasi diri sangat kuat mempengaruhi perilaku kita. Mungkin saja kita memiliki kemampuan, ketrampilan, kecakapan, atau talenta dalam melakukan pekerjaan penuh tantangan, namun bila kita percaya bahwa kita tidak akan berhasil, maka kita pasti tidak mungkin akan mencapainya. Efikasi diri yang positif dikembangkan dengan cara mencoba hal-hal baru dan kemudian anda mengevaluasi diri bagaimana anda berhasil melakukannya. Orang-orang dengan efikasi diri yang rendah akan cenderung untuk menolak melakukan hal-hal yang baru dalam hidupnya, yang pada akhirnya memimpin mereka kepada hidup yang tidak bergairah (tidak memiliki passion). Salah satu bagian terpenting dari efikasi diri adalah bahwa kita dapat mengubahnya dari yang bertaraf rendah ke taraf yang lebih tinggi. Seringkali dengan meniru cara bayi belajar berjalan yang setahap demi setahap, akan meningkatkan efikasi diri kita.

Dengan memilih langkah apa pun baik itu yang kecil atau yang besar, sebenarnya kita sedang sekaligus mengambil langkah itu bersama resiko-nya. Dengan mengambil resiko berarti kita belajar, dan itu berarti kita mengembangkan diri ke tingkat efikasi diri yang lebih tinggi, makin percaya diri dalam mengambil keputusan, dan kita dapat menyelesaikan apa saja yang telah kita rencanakan sebelumnya. Ketiga hal di atas, yaitu “resiko”, “belajar”, dan “efikasi diri” adalah rangkaian proses pertumbuhan kita, yang makin mendekatkan kita kepada hidup yang bergairah (memiliki passion).

Bagaimana dengan tokoh kita Nehemia? Apakah Nehemia memiliki efikasi diri yang tinggi?
Bila kita mencermati kitab Nehemia 1:1 sampai 2:8, kita dapat merangkumkan tiga urutan respon Nehemia yang sederhana setelah mendengar kabar kehancuran tanah airnya. Respon Nehemia:

1. Bersedih (grief). Nehemia larut dalam kesedihan yang mendalam. Meskipun kita tidak tahu secara jelas apa bentuk kehilangan Nehemia, namun dia sangat bersedih dan berkabung beberapa waktu lamanya. Meski demikian, dengan melihat betapa dalamnya kesedihan Nehemia, jelas dapat disimpulkan bahwa kehilangan dia sangat besar, sehingga menimbulkan rasa sakit yang parah sekali.

2. Berdoa (prayer). Kita dapat membaca di Nehemia 1:4 yang menjadi respon pertama dia mendengar kabar dukacita dari bangsanya, “Aku berpuasa dan berdoa ke hadirat Allah semesta langit”. Dalam doanya, Nehemia mengungkapkan imannya kepada Allah yang sanggup mengubah kemalangan menjadi kebaikan, dukacita menjadi sukacita. Dia menyadari dan mengakui bahwa segala malapetaka yang dialami bangsanya adalah karena dosa bangsa Israel secara keseluruhan, dan juga dosanya pribadi, serta dosa keluarganya. Nehemia menaruh pengharapan secara penuh kepada Allah, bahwa Allah akan mengampuni kesalahan orang-orang yang bertobat, dan berbalik datang kepada-Nya.

3. Bertindak (action). Nehemia membutuhkan waktu bersedih dan berdoa sekitar tiga bulan sebelum bertindak. Dia tidak gegabah dalam melakukan sesuatu, tetap bergantung dan mengingat Allah, bahkan dalam situasi yang menegangkan waktu bertemu raja, “Maka aku berdoa kepada Allah semesta langit” (Nehemia 2:4). Nehemia juga tidak terlampau lambat dan larut dalam kesedihan pribadi sehingga dia lupa untuk melakukan aksi yang nyata.

Menarik untuk dicermati, bahwa Nehemia melakukan restorasi buat bangsanya bukan semata-mata karena keinginan dia maupun karena kesedihan pribadi, namun karena Allah menyatakan rencanaNya dalam hatinya (Nehemia 2:12). Sehingga tidaklah mengherankan ketika ada banyak orang yang berusaha menghalangi rencana Nehemia dan teman-temannya, dia dengan mantap berkata, “Allah semesta langit, Dialah yang membuat kami berhasil! Kami, hamba-hamba-Nya, telah siap untuk membangun. Tetapi kamu tak punya bagian atau hak dan tidak akan diingat di Yerusalem!” (Nehemia 2:20).

Bagaimana dengan kita?
Kita pasti memiliki pergumulan yang unik dan tidak sama satu dengan yang lainnya. Namun kita memiliki kesamaan latar-belakang dengan Nehemia, tokoh-tokoh di Alkitab maupun orang-orang Kristen yang ada sebelum kita dalam merespon persoalan hidup kita masing-masing. Kita memiliki Allah yang hidup! Apakah kita memilih seperti Nehemia yang datang kepada Allah yang Mahakuasa? Atau kita mengandalkan kekuatan kita sendiri?

Ingatkah kita akan jejak langkah Martin Luther King Jr. dan Mother Theresa? Mereka percaya kepada Allah yang hidup, yang sanggup mengubah hidup banyak orang melalui mereka. Martin Luther King Jr. memiliki passion untuk menghentikan pikiran dan tindakan rasis di Amerika, sedang Mother Theresa memiliki passion untuk menyudahi penderitaan orang-orang lepra di Calcutta, India. Sama seperti mereka, kita bisa dipakai Allah bila kita mengembangkan efikasi diri yang berpusat pada Sang Pencipta!

Kesimpulan
Nehemia hanyalah seorang pelayan minuman raja yang memiliki hati untuk bangsanya. Nehemia memiliki efikasi diri yang didasarkan pada kepercayaannya pada Allah yang setia dan memegang teguh perjanjianNya dengan umatNya. Nehemia mengembangkan efikasi diri yang berdasar hikmat Allah, bahwa Allah sanggup melakukan segala perkara yang menjadi rencanaNya, bukan diri sendiri yang sanggup, karena diri sendiri penuh dengan kelemahan dan keberdosaan. Kita pun pasti bisa mengikuti jejak Nehemia, Martin Luther King Jr., dan Mother Theresa yang berjalan bersama dengan Allah yang hidup!

Referensi:
– Boverie, P. E., & Kroth, M. (2001). The developing process [Proses perkembangan]. In Transforming work: The five keys to achieving trust, commitment, and passion in the workplace [Transformasi dalam pekerjaan: Lima kunci untuk meraih kepercayaan, komitmen, dan gairah di tempat kerja] (pp. 167–184). Cambridge, MA: Perseus Book.
http://www.crwrc.org/pages/rs_janssens_1106_3.cfm#
http://reformedtheology.ca/