Matius 25:14-30

ANEHKAH?
Manusia mempunyai beragam cara yang aneh (dan terkadang lucu) terhadap barang miliknya yang berharga. Kita sering mendengar tentang orang-orang yang menyembunyikan barang berharganya di bawah tempat tidur, namun kenyataannya bahkan ada yang melakukan perbuatan lebih aneh dari hal itu. Salah satunya adalah nenek saya. Beliau percaya bahwa sejumlah uangnya akan lebih aman disimpan di dalam freezer. Dan ketika saya mengunjungi beliau dan mengatakan bahwa saya ingin membeli barang ini dan itu, maka Nenek akan ke freezer dan mengeluarkan simpanannya dari sana. Kebiasaan Nenek yang lain adalah, jika kami memberikan hadiah perhiasan, atau syal yang mahal, maka Nenek akan terkagum-kagum dengan barang-barang itu, mengatakan pada kami betapa Nenek sangat menyukainya, kemudian Nenek akan memasukkan kembali barang-barang itu ke dalam bungkusnya, meletakkan dalam kotak terkunci dan menyimpannya di dalam laci. Bertahun-tahun lamanya, laci Nenek penuh dengan barang berharga yang hanya disimpan tanpa dikenakan. Saat ini Nenek sudah meninggal dunia, dan beliau tidak mempunyai kesempatan lagi untuk mengenakan barang berharganya.
Manusia memperlakukan barang berharga miliknya dengan cara yang berbeda-beda. Beberapa dari mereka berlaku bijaksana, namun beberapa juga melakukan kebodohan. Mari kita belajar dari bacaan yang kita baca pada saat ini. Bacaan menunjukkan bagaimana kita memperlakukan barang berharga yang kita miliki. Perumpamaan yang diceritakan oleh Tuhan Yesus ini merupakan sebuah cerita istimewa yang membantu kita memahami mengenai hubungan Tuhan Yesus dengan kita dan tantangan dari Tuhan Yesus terhadap kita.

Perumpamaan tentang Talenta
Perumpaan ini sebenarnya merupakan serial dari 4 perumpamaan yang mana mempunyai warna suram dan keras dalam kitab Matius. Ada kemiripan yang dimiliki oleh 4 perumpamaan ini. Yang pertama, mereka sama-sama mempunyai seorang “otoritas” yang sedang pergi atau tidak ada di tempat. Kedua, sama-sama memiliki pertanyaan bagaimana anda tetap setia hingga si “pemegang otoritas” kembali? Ketiga, masing-masing perumpamaan mempunyai nada keras karena semuanya berhadapan dengan pemisahan. Terjadi pemisahan antara mereka yang dipuji karena melakukan hal baik dengan mereka yang dikutuk karena tidak melakukan hal yang baik. Dan hal ini merupakan poin penting dalam pengajaran Tuhan Yesus. Perumpamaan yang kita baca menunjukkan hal itu semua. Matius 25, mari kita baca mulai dari ayat 14
25:14
“Sebab hal Kerajaan Sorga sama seperti seorang yang mau bepergian ke luar negeri, yang memanggil hamba-hambanya dan mempercayakan hartanya kepada mereka.
25:15
Yang seorang diberikannya lima talenta, yang seorang lagi dua dan yang seorang lain lagi satu, masing-masing menurut kesanggupannya, lalu ia berangkat.
25:16
Segera pergilah hamba yang menerima lima talenta itu. Ia menjalankan uang itu lalu beroleh laba lima talenta.
25:17
Hamba yang menerima dua talenta itupun berbuat demikian juga dan berlaba dua talenta.
25:18
Tetapi hamba yang menerima satu talenta itu pergi dan menggali lobang di dalam tanah lalu menyembunyikan uang tuannya.

Tentang Talenta
Mari kita berhenti sebentar di sini. Pertama-tama, mari kita cermati tentang talenta. Sebuah talenta dapat dilihat sebagai upah 20 tahun. Itu adalah sejumlah uang yang sangat besar. Jadi, orang pertama mendapat upah 100 tahun untuk dapat digunakan. Orang kedua mendapat 2 talenta dan yang berikutnya 1 talenta. Sebenarnya, itu adalah sejumlah uang yang sangat besar. Seseorang yang mendapat 5 talenta memanfaatkannya. Orang yang mendapat 2 talenta juga memanfaatkannya dan seorang yang mendapat 1 talenta menggali lubang dan menyimpannya.
Sekarang, mari kita lihat sebuah kejutan dalam perumpamaan ini. Orang yang mendapat 5 talenta (upah 100 tahun untuk investasi) menggunakannya sesuai kehendak tuannya. Tuannya kembali dan orang itu memberikan 5 talenta lagi dan kemudian sang tuan melihat hasil yang sangat besar dan mengatakan “Baik sekali perbuatanmu itu, hai hambaku yang baik dan setia; engkau telah setia dalam perkara kecil, aku akan memberikan kepadamu tanggung jawab dalam perkara yang besar. Masuklah dan turutlah dalam kebahagiaan tuanmu.” Sesuatu yang membuat kita kagum adalah upah 100 tahun telah berlipat ganda menjadi upah 200 tahun. Dia dianggap sebagai hamba yang baik dan setia. Karena dia setia dalam perkara kecil, maka tuannya memberikan tanggung jawab dalam perkara yang besar. Hal ini juga terjadi pada orang yang mendapatkan 2 talenta. Dia dianggap sebagai hamba yang baik dan setia. Dan, sekali lagi,, tuannya memberikan tanggung jawab dalam perkara yang besar karena dia mampu untuk setia dalam perkara yang kecil.

25:20
Hamba yang menerima lima talenta itu datang dan ia membawa laba lima talenta, katanya: Tuan, lima talenta tuan percayakan kepadaku; lihat, aku telah beroleh laba lima talenta.
25:21
Maka kata tuannya itu kepadanya: Baik sekali perbuatanmu itu, hai hambaku yang baik dan setia; engkau telah setia dalam perkara kecil, aku akan memberikan kepadamu tanggung jawab dalam perkara yang besar. Masuklah dan turutlah dalam kebahagiaan tuanmu.
25:22
Lalu datanglah hamba yang menerima dua talenta itu, katanya: Tuan, dua talenta tuan percayakan kepadaku; lihat, aku telah beroleh laba dua talenta.
25:23
Maka kata tuannya itu kepadanya: Baik sekali perbuatanmu itu, hai hambaku yang baik dan setia, engkau telah setia memikul tanggung jawab dalam perkara yang kecil, aku akan memberikan kepadamu tanggung jawab dalam perkara yang besar. Masuklah dan turutlah dalam kebahagiaan tuanmu.

Anehkah?
Ada kejutan yang besar di awal perumpamaan, tetapi ada kejutan yang lebih besar bagi pembaca. Apabila anda tinggal di lingkungan orang Yahudi dan seseorang mempercayakan sesuatu yang sangat berharga dan anda tidak berharap mendapatkan imbalan kembali dan anda ingin agar sesuatu itu dijaga dengan baik, maka seseorang dianggap tidak bersalah secara hokum apabila orang itu memutuskan untuk menyimpan dalam tempat yang aman dan menguburnya. Jikalau anda mengubur harta itu dan tidak sengaja terhilang, anda dianggap tidak bersalah karena anda telah melakukan tindakan paling aman, paling melindungi benda yang berharga tersebut. Tetapi dalam perumpamaan Tuhan Yesus ini, kita harus mengabaikan hal tersebut. Sang tuan memiliki rencana dengan uangnya. Orang yang mendapat 1 talenta takut dengan kekejaman dari sang tuan memutuskan untuk menyimpannya sehingga akhirnya dia disebut hamba yang jahat, malas dan tidak menghasilkan laba.
Orang-orang yang mendengar tentang perumpamaan ini mengetahui betapa besarnya jumlah uang dalam sebuah talenta dan hal itu bukanlah pelajaran ekonomi dari Tuhan Yesus. Mereka sebenarnya mengetahui bahwa Tuhan Yesus sedang berbicara tentang sesuatu yang besar, hal spiritual, ketika DIA berbicara tentang talenta. Kita baru memikirkannya ketika kita mendengar dalam sebuah khotbah di gereja, kita akan berpikir seputar pemberian Tuhan perihal kemampuan personal, gairah dan uang dan bagaimana kita memanfaatkannya dalam pelayanan. Tetapi, sebenarnya cerita ini lebih besar dari hal tersebut.

Ilustrasi Menggali

Refleksi kita
Fokus cerita ini adalah sesuatu yang sangat besar yang Tuhan berikan kepada umatNya, dimulai dari bangsa Israel. Sehingga, hal awal yang di benak para pendengar adalah bagaimana orang Israel menjadi tidak setia dengan begitu luar biasanya pemberian Tuhan kepada mereka. Anda pun akan memikirkan fakta bahwa Tuhan memberikan FirmanNya, Tuhan memberikan nubuatanNya, memimpin mereka di padang gurun. Dia memimpin mereka menuju tanah perjanjian. Dia melindungi mereka. Dia hadir dalam bait suci mereka. Pada akhirnya, mereka mengambil semua pemberian ini dan tidak menjadi hamba Tuhan di dunia, mengabarkan kemuliaan Tuhan di seluruh dunia dan sambil melihat pemberian Tuhan dan berpikir “anda tahu bahwa kami (Israel) special karena hal yang telah dilakukanNya bagi kami”. Begitu pula pada saat ini tentang sejarah Israel, mereka memandang rendah orang lain “karena Tuhan telah melakukan semua ini untuk kami. Sehingga, kami memiliki alasan untuk memandang rendah orang lain. “ Tidak memberikan keuntungan dari sisi pandang Allah.
Setiap hambaNya pasti ada pemikiran untuk dirinya sendiri. Karena mereka juga mengetahui dari hal lain bahwa Tuhan Yesus mengatakan perumpamaan ini menyangkut kepergian Tuhan Yesus untuk beberapa waktu. Mereka mungkin tidak memahami makna keseluruhan dari perumpamaan ini, tetapi mereka tahu bahwa mereka akn menjadi spesial dengan cara mereka sendiri dan mereka dianggap sebagai hamba yang setia. Artinya, perkataan ini menuju kepada hamba-hambaNya dan kepada gereja-gereja yang merupakan perkataan Tuhan kepada kita juga. Bagaimana kita bisa menjadi setia hingga Tuhan Yesus datang kembali? Bahaya-bahaya apa saja yang akan kita hadapi? Bagaimana kita bisa dalam bahaya karena menyimpan apa yang sudah Tuhan berikan kepada kita? Itu adalah pertanyaan-pertanyaan yang sudah sepatutnya untuk ditanyakan kepada kita masing-masing.

Saat ini, ada banyak cara untuk menyimpan kekayaan / pemberian Tuhan. Kita dapat menyimpannya dalam lemari tanpa dibungkus, dan tidak digunakan sama sekali.

1. Menjadi sangat sibuk.
Saya tahu bahwa saya juga mengalami hal ini seperti yang dialami oleh orang lain di dalam gereja. Ketika banyak orang berkumpul dan bertanya “Halo John, apa kabar? Bagaimana keadaanmu?” Hal awal yang sepertinya ingin saya sampaikan kepada mereka adalah jikalau kamu memberiku 2 menit, saya akan menceritakan betapa sibuknya saya. Tetapi, yang terpenting bukanlah betapa sibuknya kita. Melainkan, bagaimana kesibukan kita mengarah pada pekerjaan-pekerjaan yang tepat karena ada kalanya kita menjadi sibuk dengan pekerjaan yang tidak tepat baik untuk keluarga maupun untuk panggilan Tuhan dalam kehidupan kita. Kita sibuk bekerja 5-6 hari seminggu, bahkan 7 hari seminggu. Kita sibuk untuk bekerja untuk mendapatkan upah yang sangat kita inginkan. Ketika kita di rumah, kita merasa capek dan ingin melakukan hal-hal yang kita anggap sebagai istirahat kita. Jikalau ada sesuatu yang harus dipotong dalam hidup rutinitas kita, maka kita akan menjadi khawatir dan tidak nyaman. Bagaimana jika Tuhan memanggil dan berkata “AKU ingin kamu melakukan sesuatu yang berbeda untukKU”. Apakah kita masih memiliki waktu untuk meresponnya? Atau kita sangat sibuk? Terkadang kita menjadi sangat sibuk dengan panggilan Tuhan dengan pelayanan kita di Gereja.

Hal yang lain?

2. Ketidakpedulian.
Kita dapat menyembunyikan dan mengubur pemberian Tuhan dan tidak memanfaatkan selayaknya karena ketidakpedulian. Kita memiliki pengalaman pengampunan dari Tuhan yang luar biasa. Kita memiliki pengalaman bersama Roh Kudus yang hadir dalam kehidupan kita dan kita bisa mengetahui betapa berharganya kita di mata Tuhan, mengetahui bahwa Tuhan mengasihi kita, dan hidup kita bisa tampil beda karena pemberianNya dan kita mengambil semua pemberianNya dan perlindungan serta kuasa Tuhan dan kita benar2 menikmatinya sampai-sampai kita lupa bagaimana berharganya pengalaman itu juga untuk orang lain dan kita tidak memanfaatkan serta membagikannya. Kita harus mengambil hadiah itu. Dan kita mengalaminya. Dan kita telah menggunakannya. Namun, banyak orang yang dahaga dari pengalaman tersebut. Orang yang dahaga tentang makna hidupnya hanya dapat dipulihkan dengan menjalin hubungan dengan Tuhan yang memberikan kelegaan dan sukacita dalam hidup. Kita masih saja menyimpan hadiah itu dan susah untuk menyatakan besarnya hadiah Tuhan kepada kita karena ketidakpedulian kita.
Hal ini mengingatkan saya pada sebuah pameran barang-barang antic. Mereka memiliki sebuah piring, tertulis bahwa piring tersebut digunakan sebagai asbak selama 20 tahun. Tiba-tiba seorang lelaki melihat dan mengatakan “sebuah asbak? Tidakkah Anda sekalian tahu bahwa piring ini dahulu digunakan oleh Raja di Negara Inggris dan bernilai 15.000 pounds (sekitar 300 juta rupiah). Apa yang sudah Tuhan lakukan buat kita dan berharga, sesuatu yang lebih dari kita bayangkan dan kita tidak membagikan pemberian Tuhan dan kita menyimpannya karena kita bahkan tidak sadar betapa berharganya pemberianNya?

3. TAKUT
Ada banyak rasa takut yang selalu menghantui diri kita untuk menggunakan pemberian Tuhan bagi kemuliaanNya.

a. Takut GAGAL.
Kita takut jikalau kita mengambil resiko, maka pekerjaan itu akan gagal dan Tuhan akan marah. Perasaan ini sama dengan perasaan yang dirasakan oleh hamba yang menerima 1 talenta (ay. 25)
25:24
Kini datanglah juga hamba yang menerima satu talenta itu dan berkata: Tuan, aku tahu bahwa tuan adalah manusia yang kejam yang menuai di tempat di mana tuan tidak menabur dan yang memungut dari tempat di mana tuan tidak menanam.
25:25
Karena itu aku takut dan pergi menyembunyikan talenta tuan itu di dalam tanah: Ini, terimalah kepunyaan tuan!

Kita bisa takut ketika kita melakukan sesuatu atau memberikan sesuatu yang nantinya bisa membuat situasi kita terpojok atau bersalah dan pada akhirnya kita akan merasa bingung tentang rasa aman dan hal pelayanan. Tuhan tidak memanggil kita untuk memiliki rasa aman. Tuhan memanggil kita untuk melayani. Tetapi, seringkali kita mulai berpikir bahwa jikta kita dapat memprediksi sesuatu dan melakukan semuanya dengan benar dan membuatnya tampak bagus dan aman, itulah yang Tuhan inginkan dalam kehidupan kita. Perlu anda ketahui, kita mulai bertingkah seperti kita harus menjaga Firman Tuhan. Tuhan tidak sedang memperhatikan kita untuk ketakutan yang demikian.
Ada banyak jalan bagaimana ketakutan dapat terjadi dan seringkali kita takut untuk gagal. Sebagai sharing pribadi saya, saya percaya bahwa Tuhan telah memanggil saya untuk sebuah kegiatan besar agar menjangkau banyak orang untuk mengetahui tentang Tuhan melalui sebuah kegiatan seni. Sebuah tantangan besar muncul karena pentas seni akan dilakukan oleh 30 peserta dari Jakarta dan diadakan di Surabaya tanpa modal sepeser pun. Profesi saya bukanlah sebagai event organizer, tetapi sebagai seorang pendidik. Dengan berbekal kepercayaan dari seorang hambaNya, acara pentas seni mulai direncanakan dengan detail dan anggaran yang dibutuhkan hampir menyentuh 150juta rupiah. Apabila saya setuju memimpin pagelaran seni ini, maka saya harus bersedia menanggung kerugian dana akibat tidak terpenuhinya pemasukkan untuk acara tersebut. Uang tersebut bukan uang kecil. Pagelaran seni yang akan digelar memang memberi makna yang luar biasa tentang kehadiran Kristus di dalam dunia ini. Akhirnya, saya pun menyetujuinya dan mulai bergerak mencari cara untuk mengumpulkan dana. Puji nama Tuhan. Sponsor berdatangan, pagelaran seni dapat berjalan dengan baik dan kami mendapat surplus 1 juta rupiah untuk acara pembubaran panitia.

b. Takut karena Tuhan akan menjadi kejam atas kita.
Ini adalah ketakutan dari hamba yang diberi 1 talenta (ay 24). Apakah dengan menjadi hambaNya berarti kita menjual diri kita kepadaNya dan melakukan panggilanNya berarti kita siap hidup sengsara menjadi hamba? Ini adalah pemahaman yang perlu diluruskan perihal mengikut Tuhan. Adalah tidak benar jikalau kita mengikuti Tuhan maka tidak ada sukacita dan kebutuhan hidup menjadi tidak terpenuhi. Profesi pendeta atau misionaris selalu menjadi buah bibir banyak orang, khususnya perihal materi. Profesi ini dilihat orang sebagai profesi yang tidak menguntungkan dan justru memberi penderitaan bagi orang yang memilihnya. Benarkah demikian? Apakah sukacita dan kebutuhan hidup hanya dapat dilihat dari pendapatan? Apakah benar profesi ini tidak menguntungkan? Banyak orang menjadi pendeta maupun misionaris dan kehidupan mereka tercukupkan. Ketakutan ini perlu kita pahami lagi. Semakin kita mengenal Tuhan dari FirmanNya, kita akan semakin mengetahui kasihNya dan keadilanNya kepada kita, bukan kekejamanNya.

c. Takut untuk berubah
Seringkali, kita hanya mau menjadi seperti apa adanya. Mungkin Tuhan ingin mengubah banyak hal. Mengubah banyak hal akan membuat kita menjadi lebih efektif untuk dunia ini, tetapi kita seringkali berontak dengan keadaan tersebut. Mungkin, jenis ketakutan ini adalah ketakutan terburuk yang dimiliki oleh gereja. Banyak gereja yang memiliki identitas dengan denominasi tertentu dan khawatir untuk membawa perubahan karena aturan sinode dan kebijakan pusat. Bagaimana dengan gereja-gereja asing di Luar negeri, ambil contoh gereja Indonesia yang ada di luar negeri (Hongkong, Jepang, Korea Selatan, China??). Haruskah gereja Indonesia di LN mengacu pada salah satu denominasi di Indonesia? Ataukah gereja Indonesia di LN harus mengacu pada denominasi di Negara ybs? Apakah perbedaan denominasi akan memberi perubahan sikap dan tindakan kita dalam melayani Kristus? Gereja, kumpulan orang-orang percaya, harus mengambil sikap yang benar dan berubah sesuai pembaharuan budi dengan tetap mempertahankan Firman Tuhan.

4. MALAS
Bukan hanya ketakutan yang dialami oleh hamba yang menerima 1 talenta, tetapi dia disebut sebagai hamba yang malas. Hal terakhir yang perlu dibahas yang membuat kita sembunyi dari hal-hal yang akan mencengangkan kita, dari pemberian Tuhan yang luar biasa adalah KEMALASAN. Bukan karena kita takut akan konsekuensi tindakan kita atau takut karena efek perubahan yang terjadi. Hanya saja, perlu ada usaha yang lebih keras dari apa yang dapat kita berikan. Seringkali kita hanya ingin merasa cukup dalam Tuhan agar merasa aman dan terlindungi. Namun, kita perlu paham lebih dalam tentang makna pengorbanan, makna pemuridan dimana kita perlu usaha dan ketekunan yang lebih besar dari biasanya. Beberapa dari kita masih ingin hidup dalam keadaan cukup dan biasa-biasa saja. Hanya perlu usaha seadanya untuk bisa melakukan sesuatu dan setelah mendapatkan apa yang diinginkan, kita menghentikan segala usaha kita.
Pada kenyataannya, sangat mudah untuk menjadi anggota gereja yang baik tanpa menjadi orang Kristen yang baik, tanpa menjadi murid Kristus yang baik. Mari kita lihat, mayoritas gereja mengartikan bahwa menjadi anggota gereja yang baik berarti rajin datang ke gereja, memberi persembahan dan jangan membuat dosa dalam pekerjaan. Benarkah demikian? Hal ini benar dalam 1 hal. Tapi, untuk menjadi pengikut Kristus yang baik dibutuhkan usaha lebih besar dari hanya sekedar 3 hal tersebut.
Menjadi seorang Ciputra dibutuhkan usaha dan pengorbanan yang luar biasa. Bagaimana kisah hidupnya sejak kecil yang kehilangan ayahnya karena dibunuh oleh tentara Jepang, masa ketika dia bersekolah dengan bersusah payah, belajar untuk meraih cita-cita seperti yang diharapkan oleh ibunya, meraih gelar di bidang arsitektur dan merintis usaha dari kecil hingga memiliki perusahaan sendiri dan akhirnya memiliki banyak perusahaan properti di beberapa wilayah Indonesia dan Vietnam. Hal ini tidak mungkin akan terjadi kalau “KEMALASAN” ada dalam dirinya.

Bagaimana kita bisa menerima sebutan hamba yang baik dan setia? Kita perlu mengambil resiko dengan mengesampingkan
– Kesibukan kita
– Ketidakpedulian kita
– Ketakutan kita (takut gagal, takut akan kekejaman Tuhan, takut akan perubahan)
– Kemalasan kita.
Adalah sangat mudah untuk menjadi anggota gereja yang baik tanpa menjadi murid yang baik. Seorang murid yang baik adalah seseorang yang percaya bahwa kehidupannya seturut dengan kehidupan Tuhan Yesus dan menumbuhkannya dalam kehidupannya sehari-hari.

disadur dan dimodifikasi dari
http://www.centralpc.org/sermons/2004/s041031.htm