Menjadi Tenaga Kerja Indonesia (TKI) tidak selalu dipandang sebelah mata. Seperti Imam Nahrowi, mantan TKI Korea ini kini menjadi pengusaha sukses di kampung halamannya Way Jepara, Lampung Timur.

Imam memiliki toko material (bahan bangunan), ruko dan asset lainnya yang jika dinilai bisa mencapai Rp 2,1 milyar.

Kesusksesan Imam panggilan akrabnya, tentu bisa menjadi contoh dan pelecut masyarakat yang ingin menjadi TKI.

Pada 2000, Imam memilih bekerja di Korea sebagai TKI. Bekerja di salah satu perusahaan swasta Korea, Imam dikontrak selama 2 tahun hingga 2002.

“Waktu itu bekerja di Korea masih melalui PJTKI, belum ada program Government to Government (G To G) BNP2TKI,” jelas Imam.

Selama bekerja di Korea, Imam mendapatkan gaji sebesar Rp 7,5 juta perbulan. Gaji tersebut bisa dibilang cukup besar pada waktu itu.

Ia tidak menghabiskan semua hasil keringatnya untuk biaya hidup di Korea. Setiap bulan Imam mengirim uang kepada keluarganya, uang tersebut digunakan untuk modal usaha di kampung halamannya Desa Labuan Ratu, Way Jepara, Lampung Timur.

“Awalnya saya bekerja di bagian produksi, tapi setelah bos mengetahui saya bisa mengoperasikan komputer kemudian saya dipindahkan kebagian staf. Boleh dibilang saya termasuk orang yang mendapatkan pekerjaan enak dibandingkan dengan teman-teman TKI lainnya,” cerita Imam sambil mengenang masa lalunya itu.

Seiring berjalannya waktu, akhir 2002 Imam menyelesaikan kontrak kerjanya di Korea. Ia kemudian memilih pulang ke kampung halamannya di Lampung.

Berbekal dengan modal tabungan yang dimiliki hasil bekerja di Korea, Imam kemudian mendirikan usaha yang menjual bahan alat bangunan seperti genteng, keramik, semen, cat dan lainnya. Waktu itu ia membuka usaha dengan modal awal Rp 50 juta.

“Mulanya toko bangunan saya tidak besar. Tapi karena banyak pelanggan dan terus bekembang akhirnya toko menjadi seperti ini,” papar Imam sambil menunjuk rukonya yang besar berlantai dua itu.

Selain masyarakat umum, sebagian besar pelanggan toko Imam adalah mantan TKI dan keluarga TKI. Tidak heran omset toko bangunan pernah mencapai Rp 140 juta lebih selama tiga bulan.

Imam mengaku sampai sekarang asset dan omset tokonya telah mencapai Rp 2,1 milyar. “Toko ini dibesarkan oleh TKI dan dari TKI. Dan tidak heran dari semua ruko yang ada di pasar Way Jepara ini adalah mantan TKI yang kini sukses,” tutur Imam yang juga aktivis TKI itu. (bnp2tki)

Sumber: http://kampungtki.com/baca/18737