Setiap hal yang kita lakukan secara rutin disebut sebagai kegiatan rutinitas. Kegiatan rutinitas yang dilakukan terus menerus dapat memberi dampak positif (prestasi, penghargaan, dll.) apabila ada unsur disiplin yang diterapkan. Kegiatan rutinitas yang dilakukan terus menerus tanpa unsur disiplin hanya akan menjadi kebiasaan hidup semata tanpa hasil apa-apa. Mari kita lihat contoh tentang pemain sepak bola.

Di balik setiap Messi, Iniesta atau Xavis adalah karya puluhan orang yang jarang dikenal – dari pelatih ke pencari bakat ke guru – “. yang sangat penting untuk struktur institusi yang menyatakan dirinya sebagai “Lebih dari sebuah klub”

Apakah rahasianya?

“Anak-anak membutuhkan kesempatan – saat semua orang membutuhkan waktu,” kata mantan pemain Barcelona Guillermo Amor kepada The Associated Press. “Dengan semua kondisi yang sama, pemain lokal memiliki kesempatan yang lebih baik dari yang berasal dari luar negeri. Xavis dan Iniestas butuh waktu 10 tahun untuk sampai ke tempat mereka sekarang. ” Lionel Messi mengasah bakatnya pada klub anak yang ada di Argentina sejak umur 5 tahun. [2]

Xavis :

Xavis

Iniesta :

Iniesta

Messi :

Messi

Ada pemain muda lebih dari 200, dari usia 7 sampai 18, dalam 13 tim usia-kelompok yang berbeda dalam klub. Dan mereka semua praktek sistem yang sama, penguasaan permainan dan passing sentuhan cepat yang dikembangkan lebih dari 30 tahun lalu, yang dipoles oleh mantan pemain Johan Cruyff selama bertugas th  1988-1996. [1]

Rutinitas identik dengan kebiasaan. Rutinitas + Disiplin dapat menghasilkan prestasi.

Rutinitas adalah sebuah hal yang dilakukan terus menerus tanpa tujuan tertentu, dan disiplin adalah tindakan yang mendidik ditinjau dari aspek kepatuhan. Rutinitas yang disertai dengan mental disiplin akan memberi hasil yang luar biasa (prestasi, penghargaan, dll.)

Dalam kamus Indonesia, disiplin dikatakan sebagai kondisi yg merupakan perwujudan sikap mental dan perilaku manusia ditinjau dari aspek kepatuhan dan ketaatan. Namun, dalam Ibrani 12:6, kata “menghajar” diartikan sebagai “discipline” dalam bahasa Inggris, yang artinya “mendidik”. Untuk menghasilkan seorang yang punya potensi bagus, maka pendidikan bukan hanya sekedar rutinitas namun juga harus mendidik. Dalam mendidik, perlu ada penghargaan dan hukuman yang sesuai dengan pendidikan yang diberikan. Oleh karena itu, ada istilah kenaikan kelas, tinggal kelas, lulus ujian, tidak lulus ujian.

1 Kor 6:29

Apabila kita hanya melakukan rutinitas, maka kita sama seperti yang tertulis di 1 Kor 9:26-27. Kita sama dengan pelari yang hanya berlari tanpa tujuan atau sama dengan petinju yang sembarangan memukul. Kita perlu mendapat didikan agar rutinitas kita menjadi lebih sempurna dengan mendapatkan “didikan” atau “hajaran”. (1 Kor 9:26-27: Sebab itu aku tidak berlari tanpa tujuan dan aku bukan petinju yang sembarangan saja memukul. Tetapi aku melatih tubuhku dan menguasainya seluruhnya, supaya sesudah memberitakan Injil kepada orang lain, jangan aku sendiri ditolak.)

Disiplin ==> Pemuridan

Sebagai manusia, tentunya kita tidak senang untuk “dihajar” dan “disesah”. Tetapi, Ibrani 12:6-7 menuliskan bahwa Tuhan menghajar (mendidik) orang yang dikasihiNya dan menyesah (bersikap keras) terhadap orang yang diakui sebagai AnakNya. Apabila kita telah mengaku percaya, maka kita adalah anak-anakNya. Apabila kita adalah anak-anakNya, maka kita harus siap mendapat “didikan” dan “sikap keras” untuk semakin disempurnakan dan dimurnikan untuk mendapatkan kehidupan kekal di masa mendatang.

Rutinitas mengarah pada hilangnya tujuan, namun, rutinitas yang disertai dengan mental disiplin memberikan didikan supaya kita semakin disempurnakan.

[1] http://sekolahbola.blogspot.com/2011/03/rahasia-sukses-barcelona.html

[2] http://en.wikipedia.org/wiki/Lionel_Messi

About these ads