Membuat atau menetapkan contoh/teladan adalah adalah sifat kepemimpinan yang penting untuk dimiliki. Memimpin dengan memberikan contoh dapat menunjukkan pada orang lain bahwa Anda adalah seorang pemimpin yang baik. Oleh karena itu, pengaturan/pemberian  contoh kepada orang-orang yang melihat kita akan menjadi sangat penting. Hal ini terutama benar jika kita sudah dalam peran kepemimpinan. Selain itu, memimpin dengan memberikan contoh di depan orang yang lebih muda, seperti anak-anak, dapat memiliki dampak yang panjang.

Anda dapat mengatur atau menetapkan contoh kepada orang lain dengan melakukan perilaku yang baik.  Selain itu etika dan moralitas juga penting ketika memimpin dengan contoh. Kualitas lain seperti kejujuran, kesetiaan, empati, dan banyak lagi yang juga penting dalam kepemimpinan ini. Jadi, selama memimpin maka haruas terus menerus 0melakukan perilaku yang baik secara konsisten. Meskipun tidak ada yang sempurna dan telah terjadi kesalahan, maka kembali ke perilaku yang baik adalah kunci untuk mempimpin dengan memberikan contoh.

Menghindari perilaku buruk adalah cara lain untuk memimpin dengan contoh/teladan. Dalam kepemimpinan ini imoralitas dan prilaku jahat adalah beberapa perilaku buruk yang harus dihindari. Jika orang lain melihat Anda melakukan dalam cahaya yang buruk, mereka dapat memegang pandangan yang kurang menguntungkan bagi anda. Selain itu, perilaku buruk lainnya termasuk ketidakjujuran, mencuri, kekerasan, dan sebagainya. Jadi haruslah kebaikan lebih besar daripada yang buruk. Kadang-kadang kita tergelincir dan melakukan perilaku buruk. Jika kita mengambil tanggung jawab untuk mereka, mengungkapkan penyesalan dan kesedihan, maka kita dapat bertujuan untuk menebus diri kita di mata orang lain.

Belajar dari Paulus

Paulus juga mensharingkan pengalaman yang sama kepada jemaat di Korintus saat itu. Paulus dalam suratnya ke jemaat di Korintus mengatakan “Jadilah pengikutku, sama seperti aku juga menjadi pengikut Kristus “ (1 Korintus 11:1). Ketika Paulus menulis surat ini kepada jemaat Korintus, keempat Injil yang menceritakan tentang Yesus Kristus dan karya penyelamatannya belum ada ditulis. Kebanyakan orang percaya tidak tahu banyak dan mendetail tentang kehidupan Yesus, sehingga sulit untuk mendorong orang-orang tersebut untuk hidup seperti Yesus hidup. Sebaliknya, Paulus membawa orang lain kepada Yesus melalui dirinya sendiri, yaitu memberikan contoh dengan menunjukkan dalam hidupnya sebagai pengikut Kristus.

Apakah Paulus seorang pengikut Kristus yang sempurna? Tanpa cacat? Tanpa kesalahan sedikitpun? Tidak, sama sekali tidak. Walaupun dalam mengikut Kristus harus ada kesempurnaan yang akan dicapai namun Paulus menyadari dirinya bukanlah orang yang baik. Bahkan Paulus sendiri yang menjadi orang pertama yang mengatakan, “Aku, manusia celaka!” (Roma 7:24). Meskipun Paulus menulis dan berkhotbah tentang bagaimana menjalani kehidupan Kristen, ia masih mengakui ketidaksempurnaan-Nya. Bahkan dalam suratnya Paulus mengatakan “Bukan seolah-olah aku telah memperoleh hal ini atau telah sempurna, melainkan aku mengejarnya, kalau-kalau aku dapat juga menangkapnya, karena akupun telah ditangkap oleh Kristus Yesus.” Filipi 3;12. Meskipun demikian Paulus tetap berusaha menunjukkan kesempurnaan hidup sebagai pengikut Kristus kepada orang-orang yang melihatnya.

“Jadilah pengikutku, sama seperti aku juga menjadi pengikut Kristus (1 Korintus 11:1) adalah contoh/teladan yang diberikan Paulus bagi jemaat di Korintus. Jikalau kita baca buku pengantar kitab Korintus maka akan dijelaskan disana  bagaimana kehidupan orang-orang Korintus yang penuh dengan dosa dan tindakan asusila. Orang-orang Korintus tidak dapat melihat bagaimana gambaran yang baik dan jelas untuk menjadi pengikut Kristus. Setiap hari mereka hanya melihat kejahatan, tindakan asusila, dosa seksual, penyembahan berhala, dll. Bahkan mereka adalah orang-orang yang terlibat dalam kejahatan-kejahatan itu. Pada kesempatan itulah Paulus menunjukkan hidupnya sebagai contoh/teladan yang dapat diikuti oleh orang-orang di Korintus dalam hal menjadi pengikut Yesus. Paulus menunjukkan dirinya adalah orang yang celaka namun berusaha untuk mengejar kesempurnaan menjadi pengikut Kristus.

Refleksi

Memang bertindak atau melakukan tindakan  adalah cara yang baik untuk memimpin dengan contoh/teladan. Mengatur contoh/teladan melalui tindakan akan menunjukkan pada orang lain bahwa pemimpin tersebut bertanggung jawab. Kadang-kadang orang ragu dan menunda-nunda ketika datang untuk melakukan tugas/pekerjaan.  Jika sebuah tugas dapat dikerjakan dengan baik dan tepat waktu oleh seorang pemimpin maka orang-orang akan melihatnya dan memberikan pengajaran baik bagi yang melihat tersebut.

Memimpin dengan contoh adalah salah satu cara yang baik untuk membuktikan bahwa  diri kita adalah seorang seorang pemimpin yang baik pula. Karena kadang-kala orang lain perlu sedikit dorongan. Oleh karena itu, pakailah hidup saudara/I untuk menjadi contoh/teladan bagi orang-orang lain. Sadar atau tidak kita sadari, orang-orang lain sedang memperhatikan hidup kita, baik sebagai pribadi yang berprilaku yang baik, atau seorang pemimpin yang baik, atau seorang kepala keluarga yang baik, atau terlebih sebagai seorang pengikut Kristus. Oleh karena itu, kita harus hidup sama seperti Paulus, meskipun kita ini adalah orang yang “celaka” namun kita harus bangkit dan mengejar kesempurnaan sebagai pengikut Kristus.

 

Jadikan dan latihlah hidup kita yang “celaka” ini untuk menjadi contoh/teladan bagi orang lain dalam mengejar kesempurnaan menjadi pengikut Kristus maka hidup dan kepribadian kita juga akan diubahkan.

 

Dari berbagai sumber…